Moodys Beri Rating Ba3 Surat Utang Sritex

NERACA

Jakarta – Aksi korporasi PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) atau Sritex menerbitkan surat utang dalam mendanai ekspansi bisnisnya, mendapatkan respon positif dari pelaku pasar. Tidak hanya itu, Moody's Sevice (Moody's) memberikan peringkat utang 'Ba3' pada surat utang tanpa jaminan (senior unsecured notes) yang rencananya akan diterbitkan Sritex. Peringkat tersebut sama dengan peringkat utang keluarga (Corporate Family Rating) perusahaan.

Dalam laporan yang dirilis seperti dikutip CNBC di Jakarta, kemarin disebutkan, peringkat utang 'Ba(3)' diberikan pada surat utang atau surat obligasi yang dianggap memiliki unsur spekulasi dan resiko kredit yang substansial (signifikan). Hal ini membuat peringkat tersebut tidak masuk dalam ketegori layak investasi. Dana yang terhimpun dari penerbitan surat utang, nantinya akan digunakan untuk membayar US$ 175 juta yang tersisa pada surat utang perusahaan sebelumnya dengan nilai pokok US$ 350 juta yang jatuh tempo 2021.

Kemudian dana sisanya akan digunakan untuk modal kerja dan keperluan umum lainnya. Moody's juga menyampaikan pembiayaan kembali tersebut menunjukkan langkah proaktif perusahaan untuk mengelola surat utang yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat. Moody's memberikan prospek stabil, di mana ini mencerminkan ekspektasi bahwa SRIL akan dapat mempertahankan kinerja operasional yang solid di tengah permintaan yang kuat, baik dari pelanggan domestik maupun internasional.
Kinerja operasional SRIL selama 12 bulan yang berakhir pada 30 Juni 2019 mampu memenuhi ekspektasi Moody's atau dengan kata lain memperlihatkan pertumbuhan pendapatan dan marjin yang solid. Pada paruh pertama tahun ini, total pendapatan perusahaan naik 6,16% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi US$ 631,64 juta atau setara Rp 8,9 triliun, dari sebelumnya US 543,76 juta atau setara Rp 7,66 triliun (asumsi kurs Rp 14.085/US$).

Lalu, jumlah keuntungan yang mampu dikantongi perusahaan sebesar US$ 63,25 juta atau setara Rp 890,85 miliar. Meskipun demikian, aliran arus kas perusahaan masih tertekan oleh fluktuasi modal kerja, apalagi di tengah faktor musiman bisnis garmen dan jangka waktu pengiriman barang. Hal ini terlihat dari jumlah arus kas operasional yang turun 85,58% YoY, dari US$ 32,64 juta menjadi US$ 4,71 juta.

Namun Moody's memproyeksi modal kerja dan investasi akan tetap moderat untuk 12 bulan ke depan yang nantinya dapat mendukung pencapaian arus kas yang positif. Lebih lanjut, Moody's menegaskan peringkat utang tersebut juga didorong oleh track record perusahaan dengan diversifikasi pelanggan, produk dan geografis, serta didukung oleh profil pembiayaan yang relatif stabil.
Peringkat yang ada bisa dinaikkan apabila SRIL berhasil menjaga pertumbuhan dan mampu mendanai pengeluaran modal kerja dengan arus kas internal dan penurunan jumlah utang. Sedangkan, sebaliknya, peringkat bisa diturunkan jika perusahaan menganggarkan modal kerja yang besar, seperti akuisisi. Selain itu indikasi jumlah permintaan moderat yang berpotensi menekan marjin SRIL juga dapat menurunkan peringkat utang perusahaan.

BERITA TERKAIT

Sambut Era New Normal - Kualitas Layanan Transjakarta Harus Meningkat

Kualitas layanan Transjakarta sebagai transportasi publik harus mendapat perhatian serius agar tidak menjadi episentrum penyebaran Covid-19 di masa penerapan tatanan…

Mewujudkan Rumah Impian Lewat KPR Syariah Milenial

    Milenial selalu menjadi topik yang menarik karena profil generasi milenial Indonesia ada beberapa ciri, yaitu dekat dengan media…

Sikapi Kasus Sinarmas AM - Bibit Tumbuh Bersama Tunjuk Presdir Baru

NERACA Jakarta –Sebagai bentuk pertanggung jawaban atas sikap yang kurang tepat, PT Bibit Tumbuh Bersama selaku agen penjual reksadana dari…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Mewujudkan Rumah Impian Lewat KPR Syariah Milenial

    Milenial selalu menjadi topik yang menarik karena profil generasi milenial Indonesia ada beberapa ciri, yaitu dekat dengan media…

Sikapi Kasus Sinarmas AM - Bibit Tumbuh Bersama Tunjuk Presdir Baru

NERACA Jakarta –Sebagai bentuk pertanggung jawaban atas sikap yang kurang tepat, PT Bibit Tumbuh Bersama selaku agen penjual reksadana dari…

Penjualan Sky Energy Indonesia Turun 9,87%

NERACA Jakarta – Di tahun 2019, PT Sky Energy Indonesia Tbk (JSKY) mencatatkan kinerja keuangan negatif. Berdasarkan laporan keuangan yang…