Perbaiki Kinerja Keuangan - INAF Kembangkan Strategic Business Unit

NERACA

Jakarta – Dorong pengembangan bisnis lebih ekspansif, PT Indofarma Tbk (INAF) fokus mengembangkan strategi pendirian strategic business unit (SBU) sepanjang tahun 2019. Langkah ini bergeser dari rencana semula yang menargetkan sembilan kerjasama operasional serta pembentukan perusahaan patungan (joint venture/JV) baru.

Direktur Utama Indofarma, Arief Pramuhanto mengatakan, sejak Agustus tahun ini, perseroan fokus mengembangkan SBU yang berfokus pada tiga bisnis utama, yakni farmasi yang sudah berjalan, serta dua SBU baru yaitu produk herbal atau natural extract dan alat-alat kesehatan. “Misalnya pada SBU alat-alat kesehatan, kami punya roadmap, mulai dari assembling hingga manufaktur. Sedangkan pada SBU natural extract, kami ingin sasar industri food and beverage,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Disampaikannya, strategi SBU ini pada akhirnya tetap membuka peluang untuk pembentukan JV dengan investor strategis. Hanya saja, JV kemungkinan bisa terbentuk dalam beberapa tahun mendatang. Sebagai contoh, saat ini perseroan sudah memiliki fasilitas produksi untuk produk natural extract. Namun, bagi perseroan butuh waktu untuk mengantongi sertifikasi tertentu pada produk tersebut. “Jadi fokus dulu sama urusan sertifikasi, nanti JV baru bisa terbentuk. Kemungkinan pada 2022,” jelasnya.

Sebelumnya Direktur Keuangan dan SDM Indofarma, Herry Triyatno pernah bilang, saat ini perseroan melakukan 9 kerjasama bisnis aliansi strategis bersama mitra internasional yang diinisiasi sejak tahun 2018. Rinciannya terdiri dari 4 join operation dan 5 bisnis joint venture. Menurutnya, strategi mendiversifikasi portfolio bisnis diyakini dapat memperbaiki kinerja keuangan dan oleh karena itu, dirinya menyakini tahun ini perseroan mampu mencetak laba sebesar Rp 6 miliar dengan pendapatan tumbuh sebesar 13% dari capaian tahun sebelumnya.

Sebagai informasi, tahun ini perseroan menargetkan mampu membukukan laba bersih Rp 6 miliar dibanding posisi rugi bersih pada 2018 sebesar Rp 32,7 miliar. Hal ini akan didukung oleh target penjualan 2019 yang mencapai Rp 1,7 triliun, dibanding realisasi 2018 yang sebesar Rp 1,59 triliun.

Hingga semester I-2019, Indofarma tercatat masih mengalami kerugian sebesar Rp 24 miliar. Dalam rangka mencapai proyeksi laba ini, perseroan menerapkan turnaround strategy yang terdiri dari lima komponen yaitu memperbaiki portofolio segmen penjualan, memperbaiki portofolio produk, memperbaiki struktur keuangan dan efisiensi biaya, memperkuat sumber daya manusia serta fungsi penunjang, dan disiplin dalam mengeksekusi strategi ini.

BERITA TERKAIT

BTN Kembali Masuk Indeks Sri Kehati

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) kembali terpilih masuk dalam Indeks Sri-Kehati untuk periode Mei hingga Oktober 2020, sejalan…

Ditopang Telkomsel dan Indihome - Telkom Cetak Laba Bersih Rp 18,66 Triliun

Sepanjang tahun 2019, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) berhasil membukukan laba bersih Rp 18,66 triliun atau tumbuh 3,5% dibandingkan…

Laba Sebelum Pajak Maybank Group Naik 14,2%

NERACA Jakarta – Di kuartal pertama 2020, Maybank Group membukukan laba sebelum pajak (PBT) naik 14,2% menjadi RM2,80 miliar dibandingkan…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

BTN Kembali Masuk Indeks Sri Kehati

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) kembali terpilih masuk dalam Indeks Sri-Kehati untuk periode Mei hingga Oktober 2020, sejalan…

Ditopang Telkomsel dan Indihome - Telkom Cetak Laba Bersih Rp 18,66 Triliun

Sepanjang tahun 2019, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) berhasil membukukan laba bersih Rp 18,66 triliun atau tumbuh 3,5% dibandingkan…

Laba Sebelum Pajak Maybank Group Naik 14,2%

NERACA Jakarta – Di kuartal pertama 2020, Maybank Group membukukan laba sebelum pajak (PBT) naik 14,2% menjadi RM2,80 miliar dibandingkan…