Harga Timah Turun, TINS Kurangi Volume Ekspor

NERACA

Jakarta – Lesunya harga timah di pasar, menjadi alasan bagi PT Timah Tbk (TINS) untuk menahan volume ekspor perseroan sebagai respon. "Namun tentu kebijakan ini akan dievaluasi kembali ketika harga sudah membaik,”kata Direktur Utama PT Timah Tbk, M Riza Pahlevi dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, melihat apa yang terjadi pada pasar saat ini kurang menguntungkan bagi sektor pertambangan timah. Oleh karena itu, pihaknya akan lakukan kebijakan untuk menahan volume ekspor karena harga timah semakin menurun. Hal ini sangat beralasan karena penambangan timah adalah sektor yang dalam operasionalnya memiliki beragam resiko

Disampaikannya, perseroan akan mengurangi volume ekspor di kisaran 1000 ton hingga 2000 ton per bulan. “Dari periode Juli 2019, kami sudah lakukan penekanan volume, namun bila harga tetap tidak membaik kami akan mengambil langkah pertahankan untuk kemudian mengurangi volume ekspor hingga 1.000 sampai 2.000 ton per bulan,” ujar Riza.

Kendati demikian, menurut Riza pemerintah Indonesia telah melakukan perbaikan regulasi dengan membuat aturan tentang neraca cadangan dan verifikasi oleh Competent Person Indonesia (CPI). “Di Indonesia kita bisa lakukan ekspor, jika kita sudah melengkapi standar dan regulasi yang sudah ditetapkan oleh pemerintah,” ujar Riza.

Sebagai informasi, regulasi ini, CPI berperan sebagai penandatanganan Laporan Competent Person (CP) yang meliputi Laporan Kegiatan Eksplorasi, Laporan Estimasi Sumberdaya, dan Laporan Estimasi Cadangan. Laporan CP merupakan salah satu dokumen pendukung dari pembuatan RKAB (Rencana Kerja dan Anggaran Biaya Tahunan).

Pada Permen ESDM No.25 Tahun 2018 tentang Pengusahaan Mineral dan Batubara pada pasal 53 ayat 1 ditetapkan bahwa untuk melakukan ekspor RKAB Tahunan merupakan berkas yang diperlukan untuk evaluasi dan persetujuan Menteri untuk melakukan hal tersebut. Adapun sebelumnya perseroan berpartisipasi dalam pertemuan Asia Tin Week di Shaanxi, Tiongkok pada 3-5 September 2019.  Pertemuan Asia Tin Week kali ini membahas sejumlah isu strategis, salah satunya pengaruh perang dagang antara Tiongkok ‐ Amerika terhadap industri timah dunia dan harga komoditi timah.

Pesatnya pertumbuhan industri elektronik, khususnya telepon seluler menjadikan kebutuhan akan produk logam timah masih akan terus meningkat. Perseroan diprediksi akan terus mencari sumber-sumber cadangan baru seraya mengoptimalkan produksi pada wilayah ijin usaha pertambangan yang sudah dimiliki. Hingga semester I-2019, penjualan perseroan mencapai 31,6 ribu metrik ton, melonjak signifikan dibanding periode sama tahun lalu 12,7 ribu metrik ton. Harga penjualan rata-rata hingga Juni 2019 sebesar US$ 20.322 per metrik ton, turun dibanding periode sama tahun lalu US$ 21.389 per metrik ton.

 

BERITA TERKAIT

Kinerja Ekonomi Melempem - Masih Ada Optimisme Emiten Tetap Tumbuh

NERACA Jakarta – Meskipun banyak emiten menyampaikan laporan keuangan semester pertama negatif akibat dampak pandemi, namun menurut Menteri Koodinator Bidang…

Bisnis Jasa Konstruksi Sepi - Pendapatan Totalindo Terkoreksi 56,25%

NERACA Jakarta – Telat dalam menyampaikan laporan keuangan juga diperburuk dengan pencapaian diluar target. Hal inilah yang menggambarkan performance kinerja…

Berkah Efisiensi dan Pangkas Beban - Laba Solusi Tunas Pratama Naik Tajam 818,59%

NERACA Jakarta – Di saat pelaku industri menelan pil pahit karena kinerja keuangan terkoreksi dan bahkan rugi akibat dampak pandemi,…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Kinerja Ekonomi Melempem - Masih Ada Optimisme Emiten Tetap Tumbuh

NERACA Jakarta – Meskipun banyak emiten menyampaikan laporan keuangan semester pertama negatif akibat dampak pandemi, namun menurut Menteri Koodinator Bidang…

Bisnis Jasa Konstruksi Sepi - Pendapatan Totalindo Terkoreksi 56,25%

NERACA Jakarta – Telat dalam menyampaikan laporan keuangan juga diperburuk dengan pencapaian diluar target. Hal inilah yang menggambarkan performance kinerja…

Berkah Efisiensi dan Pangkas Beban - Laba Solusi Tunas Pratama Naik Tajam 818,59%

NERACA Jakarta – Di saat pelaku industri menelan pil pahit karena kinerja keuangan terkoreksi dan bahkan rugi akibat dampak pandemi,…