Refinancing Utang Jatuh Tempo - Alam Sutera Berencana Divestasi Aset Gedung

NERACA

Jakarta – Lesunya pasar properti dalam negeri memberikan dampak terhadap pencapaian penjualan PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI). Tercatat di semester pertama tahun ini, penjualan emiten properti ini mencapai Rp 1,3 triliun. Jumlah itu baru sebesar 32,5% dari target marketing sales ASRI tahun ini sebesar Rp 4 triliun.

Direktur Utama ASRI, Joseph Sanusi Tjong mengatakan, tahun ini target marketing sales perseroan hanya Rp 4 triliun atau turun Rp 300 miliar bila dibandingkan capaian tahun lalu. "Tahun ini penuh dengan tantangan dan ini menjadi alasan memangkas target penjualan,"ujarnya di Jakarta, kemarin.

Maka untuk memenuhi target penjualan tersebut, perseroan akan meluncurkan produk baru di kawasan Alam Sutera dan Suvarna Sutera. Peluncuran itu juga diharapkan bakal mendongkrak marketing sales ASRI hingga total Rp 4 triliun.  Selanjutnya, dalam rangka menyehatkan kondisi keuangan, perseroan berencana menjual salah satu gedung miliknya atau kembali menerbitkan surat utang sebesar US$ 175 juta.

Disampaikan Joseph, upaya tersebut dilakukan untuk menurunkan eksposur atas utang global yang dimiliki perseroan. Pasalnya, perseroan memiliki surat utang yang jatuh tempo pada tahun 2021 sebesar US$ 175 juta. “Seandainya ada kesempatan aset kita bisa terjual ada beberapa inventaris yang bisa terjual dalam skala besar sambil perlahan menurunkan eksposur utang global kami,”jelasnya.

Menurutnya, ada satu investor yang tengah menjajaki opsi untuk mengakusisi aset berupa gedung milik perseroan. Terdapat satu gedung dengan kapasitas 50 lantai yang baru terjual 15%. Artinya, masih ada potensi penjualan sebesar 85% dan itu yang tengah dilirik oleh para investor.“Ada minat untuk membeli seluruh gedung, tapi tengah kami negosiasi supaya harganya sepadan," katanya.

Joseph menyebut itu akan menjadi salah satu penjualan strategis bagi perseroan. Namun, dia menyebut investor sangat berhati-hati sebelum memutuskan sambil menunggu kondisi ekonomi secara global dan domestik membaik. Sebagai informasi, sampai dengan semester I/2019, perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp1,28 triliun. Jumlah tersebut turun 41% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp2,19 triliun.

Tidak hanya itu, laba bersih perseroan juga terkoreksi sedalam 70% pada paruh pertama tahun ini menjadi Rp151,3 miliar dari posisi Rp517,3 miliar pada semester I/2018. Tony Rudianto, Sekretaris Perusahaan ASRI mengatakan, secara umum, laju industri properti di semester I 2019 memang lambat. Salah satu faktornya yakni musim politik di awal tahun 2019. Sejauh ini, Tony, segmen paling terganggu adalah segmen komersial paling terganggu.

Sementara ini, berbagai upaya pemerintah untuk mendorong laju industri properti lewat relaksasi juga belum berdampak bagi ASRI. “Mungkin karena keburu masuk musim politik. Tapi semester II ini sudah banyak yang nanya-nanya, sih,” tambah Tony.

Sementara dari sisi pendapatan berulang perseroan, pertumbuhannya relatif stabil yakni menjadi Rp 240,3 miliar pada semester pertama tahun ini dibandingkan Rp 197,4 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan berulang ini berasal dari Garuda Wisnu Kencana ( GWK) yang mengalami lonjakan 124% menjadi Rp 74,9 miliar dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp 33,4 miliar. Kenaikan ini didorong rampungnya monumen GWK pada Agustus 2018 lalu.

BERITA TERKAIT

Bidik Potensi Pasar UMKM - EPAC Kembangkan Teknologi Digital Packaging

NERACA Jakarta – Resmi menjadi perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah pandemi Covid-19, tidak menyurutkan ekspansi bisnis…

Penjualan Obat Tumbuh 28,97% - Phapros Masih Derita Rugi Rp 13,08 Miliar

NERACA Jakarta – Bisnis farmasi milik PT Phapros Tbk (PEHA) di kuartal pertama 2020 masih positif. Dimana anak usaha dari…

Penjualan Lesu Imbas Corona - Matahari Departement Merugi Rp 93,95 Miliar

NERACA Jakarta –Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap bisnis ritel, termasuk PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) yang terkoreksi pencapaian kinerjanya…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Bidik Potensi Pasar UMKM - EPAC Kembangkan Teknologi Digital Packaging

NERACA Jakarta – Resmi menjadi perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah pandemi Covid-19, tidak menyurutkan ekspansi bisnis…

Penjualan Obat Tumbuh 28,97% - Phapros Masih Derita Rugi Rp 13,08 Miliar

NERACA Jakarta – Bisnis farmasi milik PT Phapros Tbk (PEHA) di kuartal pertama 2020 masih positif. Dimana anak usaha dari…

Penjualan Lesu Imbas Corona - Matahari Departement Merugi Rp 93,95 Miliar

NERACA Jakarta –Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap bisnis ritel, termasuk PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) yang terkoreksi pencapaian kinerjanya…