Menjaga Indonesia Damai

Di tengah maraknya budaya asing secara masif masuk ke negeri ini, generasi muda Indonesia kini menghadapi tantangan cukup berat. Selain mulai lunturnya budaya tepo seliro sesuai Pancasila, nilai-nilai kearifan lokal juga  mulai terkikis. Semangat gotong royong luntur dan semakin tergantikan oleh sifat individualistis. Tenggang rasa dan toleransi yang tumbuh kuat ditopang akar kemajemukan bangsa makin menipis. Dengan cepat tergeser perilaku dan sikap mudah curiga maupun mudah mencela, membuat peradaban bangsa Indonesia kini dipertanyakan banyak pihak.

Sepertinya begitu sulit bagi sebagian kita untuk tidak melontarkan kata hinaan ataupun tudingan tanpa klarifikasi terlebih dahulu. Tidak mengherankan bila konflik demi konflik berbasis suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) tiada hentinya bermunculan.

Kita merasa sedih saat ada saudara yang melontarkan ucapan dan tindakan rasialis terhadap saudara lainnya yang sebangsa. Lebih memprihatinkan lagi ketika dengan mudahnya pihak-pihak yang menginginkan kekacauan di negeri ini ikut menunggangi tanpa bertanggung jawab. Isu pengusiran mahasiswa asal Papua dari Malang dan Surabaya yang terjadi belum lama ini menjadi bola liar dan menyulut di provinsi lainnya.

Hasilnya seperti yang terjadi adalah, saudara-saudara di Papua dan Papua Barat terpancing emosi mereka. Sejumlah insiden kerusuhan terjadi. Dan lagi-lagi peristiwa itu membuktikan isu SARA telah menjadi basis yang paling mudah dipakai untuk memprovokasi dan mengadu domba.

Kita masih beruntung memiliki tersisa sedikit warisan kearifan luhur yang melekat. Para pemimpin berupaya menenangkan situasi dengan cara-cara damai. Bahkan Presiden Jokowi menjamin pemerintah akan terus menjaga kehormatan rakyat Tanah Papua.

Imbauan demi imbauan disampaikan berbagai kalangan agar semua pihak menahan diri dan menyelesaikan persoalan dengan kepala dingin. Menkopolhukam Wiranto juga tegas menyatakan pemerintah akan menuntaskan dan menangkap biang keladi kerusuhan di tanah Papua itu.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dan Wali Kota Malang Sutiaji dengan penuh kerendahan hati meminta maaf kepada saudara-saudara asal Papua dan Papua Barat yang merasa bagai ditekan tindakan rasialis.

Sikap yang benar-benar terpuji. Patut pula warga mengikuti dengan lebih mawas diri dan mengedepankan tenggang rasa. Saudara-saudara di Tanah Papua pun merespon dengan meredakan emosi diri. Tentu lebih jauh kita berharap mereka bisa mengesampingkan ego dan mengutamakan suasana damai dan persatuan bangsa hingga bersedia memaafkan.

Memaafkan itu sangat sulit, bahkan mungkin mustahil, bagi orang-orang yang tidak mampu mengendalikan amarah dan selalu diliputi kebencian. Akan tetapi, kepala yang dingin dan hati yang terpaut pada perdamaian akan mudah memberi maaf.

Karena itu, sikap tenggang rasa seyogianya perlu kembali dipupuk. Semangat toleransi dan saling menghormati hak sesama warga negara merupakan bagian dari kualitas sumber daya manusia yang unggul. Rasa persaudaraan yang tinggi tanpa memandang latar belakang SARA akan melandasi kolaborasi harmonis mewujudkan Indonesia maju.

Bukan sekadar menjadi negara maju, melainkan juga dengan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyat. Itu semua harus dimulai dengan menyingkirkan diskriminasi dan sikap penuh prasangka, maupun kebiasaan memandang rendah segolongan saudara yang lainnya. Yang lebih penting lagi menjaga perdamaian merupakan wujud kebersamaan manusia yang berakal sehat. Ingat, pembangunan hanya bisa berjalan dalam suasana damai dan tentram.

Bagaimanapun, kita semua masih bersaudara dan memiliki hati yang jernih. Papua yang damai merupakan provinsi tercinta bagi NKRI yang damai.

BERITA TERKAIT

Budaya Komunikasi Baru

Adanya pandemi Covid-19 telah memberikan pelajaran berharga bagi semua elemen masyarakat. Kalangan pebisnis juga harus siap dengan model komunikasi bisnis…

Disiplin Warga di Era Baru

Memasuki era kehidupan baru (new normal) sebagai upaya Presiden Jokowi untuk melawan korona merupakan ujian berat bagi bangsa Indonesia. Pasalnya,…

Era Baru Pasca Covid-19

Di tengah suasana menjelang dan setelah Idul Fitri 1441 H tahun ini, budaya masyarakat mulai terasa berbeda secara signifikan. Tidak…

BERITA LAINNYA DI Editorial

Budaya Komunikasi Baru

Adanya pandemi Covid-19 telah memberikan pelajaran berharga bagi semua elemen masyarakat. Kalangan pebisnis juga harus siap dengan model komunikasi bisnis…

Disiplin Warga di Era Baru

Memasuki era kehidupan baru (new normal) sebagai upaya Presiden Jokowi untuk melawan korona merupakan ujian berat bagi bangsa Indonesia. Pasalnya,…

Era Baru Pasca Covid-19

Di tengah suasana menjelang dan setelah Idul Fitri 1441 H tahun ini, budaya masyarakat mulai terasa berbeda secara signifikan. Tidak…