Pasar Respon Positif Nota Keuangan 2020

NERACA

Jakarta – Pidato nota keuangan negara dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2020 yang disampaikan presiden Joko Widodo, direspon positif pelaku pasar karena ada optimisme pertumbuhan ekonomi lebih baik lagi. Respon positif pelaku pasar atas pido kenegaraan Presiden Joko Widodo ditandai dengan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) akhir pekan kemarin ditutup menguat 29,0 poin (0,46%) ke level 6.286,6.

Kata Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi, respon positif pelaku pasar atas apa yang disampaikan Presiden Joko Widodo dalam pidato kenegaraannya menjadi optimisme pelaku pasar modal dan begitu juga dengan BEI. “ Kita ikut optimistis dengan apa yang telah disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dan begitu juga dengan asumsi dari pemerintah, jadi tidak ada perbedaan,"ujarnya di Jakarta, kemarin.

Namun demikian, Inarno menyebut pasar masih perlu mengantisipasi sejumlah risiko yang disebabkan oleh faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kondisi dalam negeri. “Tapi secara jangka panjangnya kita tetap optimistis," tegasnya.

Terkait dengan kabinet yang akan dibawa oleh Jokowi di periode kedua pada Oktober mendatang, BEI berharap susunan kabinet tersebut menjadi kabinet yang lebih solid dan bekerja lebih baik dibandingkan dengan jajaran menteri sebelumnya. Disampaikannya, untuk tahun depan, target BEI juga tak jauh berbeda dari yang sudah ditetapkan saat ini baik dari sisi jumlah investor maupun jumlah perusahaan yang akan melantai di bursa atau emiten.

BEI juga masih menargetkan jumlah emiten baru yang mencatatkan sahamnya tahun ini sebanyak 57 perusahaan. Jumlah tersebut sama dengan jumlah perusahaan yang IPO pada 2018. Hingga awal Agustus ini, baru ada 16 emiten yang tercatat. Sementara analis Pacific 2000 Sekuritas, Indra seperti dikutip Antara mengatakan bahwa penguatan indeks BEI salah satunya terpengaruh RAPBN 2020 beserta nota keuangan yang dinilai rasional.”Sebagian pelaku pasar saham merespons positif RAPBN, apa yang disampaikan cukup masuk akal di tengah situasi global yang tidak menentu," ujarnya.

Dia mengemukakan, salah satu yang dilihat pasar yakni target pertumbuhan ekonomi 2020 sebesar 5,3%, sama dengan target yang dipatok dalam asumsi makro APBN tahun ini."Di tengah perang dagang yang masih berlangsung, pertumbuhan sebesar itu dinilai sudah cukup optimistis," katanya.

Kendati demikian, lanjut dia, penguatan indeks BEI relatif tertahan menyusul sejumlah saham sektor perbankan mengalami tekanan. Hal itu dikarenakan perang dagang yang masih berlangsung akan mempengaruhi kinerja sektor tersebut.



BERITA TERKAIT

Bidik Potensi Pasar UMKM - EPAC Kembangkan Teknologi Digital Packaging

NERACA Jakarta – Resmi menjadi perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah pandemi Covid-19, tidak menyurutkan ekspansi bisnis…

Penjualan Obat Tumbuh 28,97% - Phapros Masih Derita Rugi Rp 13,08 Miliar

NERACA Jakarta – Bisnis farmasi milik PT Phapros Tbk (PEHA) di kuartal pertama 2020 masih positif. Dimana anak usaha dari…

Penjualan Lesu Imbas Corona - Matahari Departement Merugi Rp 93,95 Miliar

NERACA Jakarta –Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap bisnis ritel, termasuk PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) yang terkoreksi pencapaian kinerjanya…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Bidik Potensi Pasar UMKM - EPAC Kembangkan Teknologi Digital Packaging

NERACA Jakarta – Resmi menjadi perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah pandemi Covid-19, tidak menyurutkan ekspansi bisnis…

Penjualan Obat Tumbuh 28,97% - Phapros Masih Derita Rugi Rp 13,08 Miliar

NERACA Jakarta – Bisnis farmasi milik PT Phapros Tbk (PEHA) di kuartal pertama 2020 masih positif. Dimana anak usaha dari…

Penjualan Lesu Imbas Corona - Matahari Departement Merugi Rp 93,95 Miliar

NERACA Jakarta –Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap bisnis ritel, termasuk PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) yang terkoreksi pencapaian kinerjanya…