Tingkatkan Kualitas SDM, Inovasi Goyang Gayo Pemkab Gianyar menuju TOP 45 Sinovik 2019

Tingkatkan Kualitas SDM, Inovasi Goyang Gayo Pemkab Gianyar menuju TOP 45 Sinovik 2019

NERACA

Gianyar, Bali - Mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas sesuai visi Presiden Republik Indonesia Joko Widodo tak perlu biaya mahal, inovasi “Goyang Gayo” Dinas Kesehatan Kabupaten Gianyar, Bali menuju TOP 45 Sistem Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB).

Pemkab Gianyar lolos dari sekitar 3.000 inovasi se-indonesia.“Inovasi ini merupakan 99 inovasi yang lolos nasional. Inovasi ini merupakan gerakan mengajak masyarakat mengkonsumsi garam beryodium, karena zat yodium berfungsi memperlancar metabolisme sehingga perkembangan dan pertumbuhan, kecerdasan dan mencegah beberapa penyakit seperti gondok. Bukan hanya itu Goyang Gayo juga mengajarkan masyarakat agar pintar menggunakan garam beryodium, misalnya tata cara penggunaan yang baik sehingga rasanya tidak pahit”, ujar Bupati Gianyar I Made Agus Mahayastra saat diwawancara pada Rabu, (17/7) di Gianyar.

“Goyang Gayo adalah gerakan semua orang mengkonsumsi garam beryodium. Pertamanya dilakukan tahun 2017 di Desa Sukawati, lalu tahun 2018 diikuti di 6 desa lainnya di Kecamatan Sukawati. Inovasi ini muncul karena cakupan penggunaan garam beryodium terstandar (kadar iodium 39-80 ppm) sangat rendah yaitu hanya 3,8 persen dari target 90 persen. Kondisi ini diakibatkan kurang pahamnya warga terhadap manfaat, penggunaan, mendapatkan gayam yang memenuhi standar”, jelas I Made Agus Mahayastra.

Goyang Gayo memiliki dampak yang besar, “Garam beryodium ini merupakan hal kecil yang berdampak besar, hingga mampu meningkatkan kecerdasan terutama anak, apalagi kini Gianyar sedang gencar menanggulangi dan mencegah stunting”, tambah I Made Agus Mahayastra.

Bupati Gianyar optimis dengan penggunaan Garam Beryodium akan meningkatkan kualitas SDM.“Rendahnya pencapaian penggunaan garam beryodium disebabkan beberapa faktor seperti gaya hidup ibu rumah tangga hingga karena rasanya yang pahit, padahal jika dimanfaakan dengan baik, rasa pahit itu disebabkan karena penggunaan terlalu banyak dan dimasak terlalu lama. Kami memang tidak bisa membatasi penggunaan garam biasa, namun kami bisa mendidik masyarakat tentang fungsi garam beryodium”, papar I Made Agus Mahayastra.

“Kami berharap dengan meningkatnya konsumsi Gayo dapat mengurangi gangguan akibat kekurangan yodium yang tidak hanya berakibat pada pembesaran kelenjar tiroid, penyebaran abortus pada ibu hamil, bayi lahir mati, berat anti lahir rendah, lahir bayi retardasi mental, dan stunting. Kami juga berharap dengan adanya inovasi yang sudah terbukti keberhasilannya akan mendapat respon positif dan berkelanjutan, Karena Kami yakin jika didukung seluruh komponen masyarakat. Saat ini inovasi ini sudah juga dilaksanakan di desa2 wilayah Puskesmas UBUD II Dan Gianyar II”, harap I Made Agus Mahayastra

Senada yang disampaikan Kepala Dinas kesehatan Kabupaten Gianyar, Ida Ayu Cahyani.“Kalau garam beryodium merupakan hal kecil yang berdampak besar. Penggunaan garam yang masih kecil membutuhkan perhatian lintas sektoral sehingga bisa berjalan sesuai harapan. Kegiatan evaluasi Goyang Gayo yang dilaksanakan pertengahan 2019 di Banjar Kebalian Desa Sukawati menunjukkan peningkatkan yang cukup drastis. Awalnya tahun 2017 penggunaan garam beryodium hanya 3,8 persen, pada tahun 2018 menjadi 65 persen dan tahun 2019 menjadi 76 persen”, pungkas Ida Ayu Cahyani. Mohar

 

 

BERITA TERKAIT

Untuk Menahan Inflasi Yang Tinggi, Sektor Ekonomi Harus Segera Dipulihkan - KABUPATEN KUNINGAN

NERACA Kuningan - Jika tidak mau terjadi tingginya inflasi maka sektor ekonomi harus segera dipulihkan paska Pandemi Covid-19, termasuk pemulihan…

Bantuan Produktif Usaha Mikro Rp2,4 Juta Mulai Dicairkan 17 Agustus 2020

NERACA Jakarta - Program bantuan produktif untuk usaha mikro yang diberikan sebesar Rp2,4 juta kepada pelaku usaha mikro disebut siap…

Kalak BPBD : Bencana Longsor Paling Banyak Terjadi - Sampai dengan Juli, Terjadi 116 Kejadian Bencana di Kota Sukabumi

NERACA Sukabumi - Bencana tanah longsor paling banyak terjadi di Kota Sukabumi, berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)…

BERITA LAINNYA DI Ekonomi Daerah

Untuk Menahan Inflasi Yang Tinggi, Sektor Ekonomi Harus Segera Dipulihkan - KABUPATEN KUNINGAN

NERACA Kuningan - Jika tidak mau terjadi tingginya inflasi maka sektor ekonomi harus segera dipulihkan paska Pandemi Covid-19, termasuk pemulihan…

Bantuan Produktif Usaha Mikro Rp2,4 Juta Mulai Dicairkan 17 Agustus 2020

NERACA Jakarta - Program bantuan produktif untuk usaha mikro yang diberikan sebesar Rp2,4 juta kepada pelaku usaha mikro disebut siap…

Kalak BPBD : Bencana Longsor Paling Banyak Terjadi - Sampai dengan Juli, Terjadi 116 Kejadian Bencana di Kota Sukabumi

NERACA Sukabumi - Bencana tanah longsor paling banyak terjadi di Kota Sukabumi, berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)…