Profit Taking Investor Bikin IHSG Terkoreksi

NERACA

Jakarta – Mengakhiri perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (17/7) sore, indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 0,27% ke level 6.385,385. Berdasarkan data RTI, tercatat 119 saham turun, 108 saham naik,  dan 127 saham stagnan. Total volume 2,8 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp 869 miliar.

Enam dari 10 indeks sektoral memerah. Sektor aneka industri memimpin penurunan 1,19%. Sementara, sektor barang konsumsi memimpin penguatan 0,15%.  Aksi profit taking turut menekan indeks. Tercatat investor membukukan net sell Rp 52,951 miliar di pasar reguler dan Rp 38,154 miliar keseluruhan market.

Sementara Kepala Riset Valbury Sekuritas, Alfiansyah dalam risetnya di Jakarta, Rabu mengatakan, minimnya kabar baik dari perekonomian global mendorong koreksi kian dalam untuk IHSG. Dari perekonomian global, kisruh di AS yang bermula dari retorika Presiden Donald Trump mengenai status anggota Kongres dan juga dinamika perkembangan kebijakan dari Komite Jasa Keuangan Parlemen AS terhadap mata uang kripto Libra yang diterbitkan Facebook, bisa membuat investor semakin menunggu atau wait and see.

Dirinya menambahkan, pertimbangan dari sentimen tersebut terbilang sangat terbatas dalam hal katalis positif bagi pasar, serta faktor pasar global terutama pasar saham AS terkoreksi pada Selasa meski terbatas, serta perkiraan pasar Asia yang melemah akan mendorong IHSG berpotensi koreksi. Pada pembukaan perdagangan Rabu, IHSG dibuka turun 0,10% atau 6,42 poin di level 6.395,46, melanjutkan pelemahan pada Selasa (16/7) yang terkoreksi tipis sebesar 0,25% ke level 6.401.

Dari perekonomian domestik, pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bahwa kapasitas maksimal pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka pendek hanya berada di rentang 5,0-5,5% juga menjadi perhatian investor. Untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang agresif yakni di atas enam persen per tahun. Sedangkan dalam lima tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi Indonesia selalu hanya berada di di kisaran lima persen.

Sikap BI ditunggu-tunggu investor, setelah sinyalemen dari Federal Reserve (Fed) semakin kuat untuk memangkas suku bunga acuannya pada sisa tahun ini. Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede memperkirakan BI  akan memangkas suku bunga acuan menjadi 5,75 persen dari enam persen karena sinyalemen kuat bahwa The Fed akan "dovish" (melunak), serta meredanya tekanan terhadap nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir.

 

BERITA TERKAIT

Bidik Potensi Pasar UMKM - EPAC Kembangkan Teknologi Digital Packaging

NERACA Jakarta – Resmi menjadi perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah pandemi Covid-19, tidak menyurutkan ekspansi bisnis…

Penjualan Obat Tumbuh 28,97% - Phapros Masih Derita Rugi Rp 13,08 Miliar

NERACA Jakarta – Bisnis farmasi milik PT Phapros Tbk (PEHA) di kuartal pertama 2020 masih positif. Dimana anak usaha dari…

Penjualan Lesu Imbas Corona - Matahari Departement Merugi Rp 93,95 Miliar

NERACA Jakarta –Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap bisnis ritel, termasuk PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) yang terkoreksi pencapaian kinerjanya…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Bidik Potensi Pasar UMKM - EPAC Kembangkan Teknologi Digital Packaging

NERACA Jakarta – Resmi menjadi perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) di tengah pandemi Covid-19, tidak menyurutkan ekspansi bisnis…

Penjualan Obat Tumbuh 28,97% - Phapros Masih Derita Rugi Rp 13,08 Miliar

NERACA Jakarta – Bisnis farmasi milik PT Phapros Tbk (PEHA) di kuartal pertama 2020 masih positif. Dimana anak usaha dari…

Penjualan Lesu Imbas Corona - Matahari Departement Merugi Rp 93,95 Miliar

NERACA Jakarta –Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap bisnis ritel, termasuk PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) yang terkoreksi pencapaian kinerjanya…