Pasar Obligasi Masih Cerah di Semester Dua

NERACA

Jakarta – Pasca ditetapkannya presiden terpilih oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) menjadi sentimen positif bagi industri pasar modal. Namun demikian, Schroders Indonesia melihat prospek pasar obligasi lebih jelas ketimbang pasar saham pada paruh kedua tahun ini.

Bonny Iriawan, Executive Vice President Intermediary Business Schroders Indonesia menyampaikan, pilihan investasi dalam reksa dana memang tergantung dengan profil risiko dan tujuan investasi masing-masing. Namun, melihat data-data ekonomi yang positif dan adanya kemungkinan pemangkasan suku bunga dari Bank Sentral AS, pasar obligasi dinilai lebih banyak mendapat kejelasan.”Semester kedua, kalau melihat data-data ekonomi yang positif, nantinya semua aset cenderung akan naik baik saham maupun obligasi. Tapi, kalau untuk melihat view, yang lebih jelas view-nya ada di obligasi,”ujarnya di Jakarta, kemarin.

Bonny menjelaskan, kendati reksa dana pendapatan tetap memiliki kesempatan besar untuk menguat, investor diimbau agar tidak terlambat untuk memulai akumulasi reksa dana saham. Pasalnya, jikalau nantinya kesepakatan dagang antara AS—China tercapai sebelum akhir tahun dan Federal Reserve semakin percaya diri untuk memangkas suku bunga, diperkirakan indeks saham pun akan melaju kencang.

Schroders Indonesia pun memperkirakan The Fed berpeluang memangkas suku bunga sebanyak 1 kali hingga akhir tahun ini sebesar 25 bps. Menurut Bonny, pemangkasan suku bunga AS baru akan terjadi pada kuartal IV/2019. Adapun berdasarkan profil risiko dan tujuan investasi masing-masin investor, Bonny tetap menyarankan investor yang konservatif dan ingin berinvestasi jangka panjang untuk masuk ke reksa dana saham.

Sementara itu, bagi investor agresif yang ingin berinvetasi secara jangka pendek dapat mencermati produk reksa dana pasar uang. “Yang paling penting adalah membuat portofolio yang kuat. Portofolio itu yang menyelamatkan investor dari kondisi market karena bisa di-rebalancing,” kata Bonny.

Asal tahu saja, di semester pertama 2019, pasar obligasi memimpin kinerja tertinggi dibanding instrumen investasi lainnya. Indonesia Composite Bond Index (ICBI) indeks yang menunjukkan kinerja pasar obligasi tercatat naik 7,9% ke level 260,27 di sepanjang semester I 2019. Mengekor, kinerja reksadana pendapatan tetap yang memiliki aset obligasi juga menunjukkan kinerja tertinggi diantara jenis reksadana lain. Sejak awal tahun hingga per 27 Juni 2019, kinerja indeks reksadana pendapatan tetap naik 5,23%. 

Kinerja instrumen investasi yang cukup tinggi di semester awal juga dicatatkan oleh harga emas yang naik 5,7%.  Sementara, kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang semester I 2019 baru naik 2,65%. Sedangkan, kinerja valas pasangan USD/IDR di periode yang sama juga hanya naik di sekitar 2%. 

Eko Endarto, Financial Planner pernah bilang, instrumen yang tinggi risiko seperti saham kinerjanya lebih lamban dari pasar obligasi, karena pelaku pasar cenderung wait and see untuk masuk ke pasar saham di tengah kondisi pasar global dan dalam negeri yang tidak pasti. 

BERITA TERKAIT

Imbas Pandemi Covid-19 - Penjualan Diamond Citra Propertindo Ikut Terkoreksi

Pandemi Covid-19 berimbas terhadap ekspansi bisnis properti milik PT Diamond Citra Propertindo Tbk. Namun demikian, hal tersebut tidak membuat emiten…

BTN Optimis Salurkan Kredit Hingga Rp 30 Triliun

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) optimistis penempatan uang negara di perseroan sebesar Rp5 triliun akan membuat ekspansi kredit tembus…

Tahun Penuh Tantangan - Sharp Targetkan Penjualan Rp 11 Triliun

NERACA Jakarta – Sentimen pandemi Covid-19 tidak menyurutkan target bisnis PT Sharp Electornics Indonesia (SEID) dalam menggenjot pertumbuhan penjualan tahun…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Imbas Pandemi Covid-19 - Penjualan Diamond Citra Propertindo Ikut Terkoreksi

Pandemi Covid-19 berimbas terhadap ekspansi bisnis properti milik PT Diamond Citra Propertindo Tbk. Namun demikian, hal tersebut tidak membuat emiten…

BTN Optimis Salurkan Kredit Hingga Rp 30 Triliun

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) optimistis penempatan uang negara di perseroan sebesar Rp5 triliun akan membuat ekspansi kredit tembus…

Tahun Penuh Tantangan - Sharp Targetkan Penjualan Rp 11 Triliun

NERACA Jakarta – Sentimen pandemi Covid-19 tidak menyurutkan target bisnis PT Sharp Electornics Indonesia (SEID) dalam menggenjot pertumbuhan penjualan tahun…