Peringkat Utang Cikarang Listrindo Jadi BB+

NERACA

Jakarta – Berhasil mencatatkan kinerja yang cukup positif mendorong lembaga pemeringkat Standard and Poor meningkatkan rating surat utang PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR) dari sebelumnya BB menjadi BB+. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Manajemen Cikarang Listrindo menuturkan bahwa perseroan berada persis satu peringkat menuju investment grade atau peringkat investasi. Posisi pemeringkatan BB+ menjadi yang tertinggi dalam pencapaian perseroan. Perseroan mengklaim berdasarkan peringkat surat utang terbaru oleh Standard and Poor (S&P), perseroan menempati peringkat terbaik ketiga untuk kategori perusahaan swasta yang dinilai oleh lembaga pemeringkatan internasional tersebut.

Adapun, posisi POWR berada di bawah PT PT Astra International Tbk dan PT Profesional Telekomunikasi Indonesia. Sementara itu, untuk kategori swasta non-investment grade, POWR menempati peringkat teratas dari seluruh perusahaan swasta yang dinilai oleh S&P. Emiten yang bergerak di bidang kelistrikan itu dinilai memiliki prospek yang baik sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian Indonesia.

S&P menyebut kinerja perseroan akan tetap baik karena kemampuan menghasilkan performa keuangan yang kuat dengan tingkat leverage terjaga dan beroperasi efisien dalam 12 bulan hingga 18 bulan ke depan. Kondisi itu juga tercermin dari kinerja kuartal I/2019 di mana POWR membukukan laba bersih US$27,5 juta atau tumbuh 20,1% secara tahunan.

Di sisi lain, POWR disebut memiliki risiko utang yang terjaga. Hal itu terlihat dari level utang bersih terhadap Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) 1,6 kali atau jauh melampaui syarat minimum. Seperti diketahui, POWR saat ini melayani 2.400 pelanggan industri di lima kawasan industri di Cikarang, Jawa Barat. Perseroan memiliki dan mengoperasikan pembangkit listrik berbahan bakar gas dan batu bara dengan kapasitas masing-masing 864 megawatt (MW) dan 280 MW. Dengan demikian, total kapasitas pembangkit terpasang POWR saat ini 1.444 MW.

Tahun ini, perseroan menganggarkan belanja modal berkisar US$40 juta—US$50 juta yang didapat melalui pendanaan internal perseroan. Adapun sekitar US$20 juta—US$25 juta dari belanja modal yang dianggarkan akan digunakan untuk biaya pemeliharan pembangkit listrik tenaga gas dan batu bara.

Selain itu, guna mendongkrak penjualan di tahun ini, perseroan bakal mengkomersialkan penggunaan pembangkit listrik energi baru dan terbarukan. Langkah ini dilakukan sebagai salah satu transformasi perseroan dalam memberikan pelayanan yang lebih baik. “Sejak 2018 masih penjajakan solar panel dan sedang feasibility study untuk opsi pembakaran biomassa di PLTU Babelan. Tahun ini baru coba apply,”kata Christanto Pranata, Direktur Keuangan Cikarang Listrindo.

BERITA TERKAIT

Agustusan di Lazada, Banjir Promo Ratusan Brand Ternama

Setelah sukses menggelar Lazada Mid Year Super Sale di bulan Juli silam, di bulan kemerdekaan Republik Indonesia, Lazada kembali hadirkan…

Rugi Matahari Putra Prima Membengkak 17,32%

NERACA Jakarta – Di semester pertama 2020, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) bukukan rugi meningkat 17,32% dari rugi Rp…

Rugi Matahari Putra Prima Membengkak 17,32%

NERACA Jakarta – Di semester pertama 2020, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) bukukan rugi meningkat 17,32% dari rugi Rp…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Agustusan di Lazada, Banjir Promo Ratusan Brand Ternama

Setelah sukses menggelar Lazada Mid Year Super Sale di bulan Juli silam, di bulan kemerdekaan Republik Indonesia, Lazada kembali hadirkan…

Rugi Matahari Putra Prima Membengkak 17,32%

NERACA Jakarta – Di semester pertama 2020, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) bukukan rugi meningkat 17,32% dari rugi Rp…

Rugi Matahari Putra Prima Membengkak 17,32%

NERACA Jakarta – Di semester pertama 2020, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) bukukan rugi meningkat 17,32% dari rugi Rp…