Usai Libur Lebaran, IHSG Menguat Terbatas

NERACA

Jakarta – Pasca libur Lebaran, tren indeks harga saham gabungan (IHSG) diproyeksikan akan bergerak menguat terbatas. Dimana sentimen perang dagang AS dan China masih mendominasi terhadap pasar modal dalam negeri. “Setelah lebaran pasar saham masih akan diwarnai dengan sentimen perang dagang Amerika Serikat dan China yang nampaknya masih alot untuk menemukan jalan keluarnya,”kata analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Disampaikannya, investor lebih baik juga mengamati kondisi global untuk nantinya menyikapi terhadap investasi di pasar modal. Di sisi lain Herditya memperkirakan rupiah akan menguat terhadap dolar AS yang bisa menjadi katalis positif bagi IHSG. Herditya merekomendasikan investor bisa melakukan strategi trading cepat dan selektif.

Sementara Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat mengatakan, keadaan pasar saham di tengah gejolak dalam negeri dan internasional IHSG akan cenderung stagnan di 6.000. “Saat ini pasar dipengaruhi dengan sentimen yang beragam, salah satunya kondisi politik dalam negeri yang masih panas,” jelasnya.

Teguh bilang kemungkinan akan ada aksi demo lagi di depan Mahkamah Konstitusi (MK). Adapun sentimen luar negeri perang dagang AS dan China. Kemudian pasar saham yang mulai dari awal Mei turun signifikan karena kurang puas dengan kinerja emiten di Kuartal I 2019 yang mencatatkan kinerja yang kurang baik.

Menurut Teguh,  secara teknikal ada perubahan arah IHSG yang mengikuti keadaan politik saat ini. Investor disarankan untuk wait and see karena dalam waktu seminggu bisa saja keadaan pasar berubah drastis karena kondisi global yang semakin panas.”Saat ini investor yang sudah beli hold dulu saja, yang belum tunggu dulu setelah libur lebaran. Liat kondisinya,” ujarnya.

Sebelumnya, IHSG pada perdagangan Jum’at (31/5) ditutup menguat 105,01 poin atau 1,72% ke level 6.209,11. Sementara itu, selama sepekan, IHSG telah menguat 2,92%. Menurut Analis Panin Sekuritas, William Hartanto, penguatan IHSG didorong oleh aliran masuk dana asing yang besar. Pada perdagangan Jumat (31/5), tercatat net buy asing adalah sebesar Rp 1,43 triliun.

Masuknya dana asing ini didorong oleh sentimen perbaikan peringkat Indonesia dari lembaga pemeringkat Standard and Poor's (S&P). S&P menaikkan rating utang Indonesia ke level 'BBB' dari 'BBB-' dengan outlook stabil. S&P juga mengerek peringkat utang jangka pendek Indonesia menjadi 'A-2' dari 'A-3'. Ini berarti, peringkat Indonesia tetap pada level layak investasi alias investment grade.

S&P mengatakan, ekonomi Indonesia secara konsisten mengungguli negara-negara lain dengan tingkat pendapatan yang serupa. Lembaga pemeringkat ternama ini berharap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat di tahun-tahun mendatang. Disebutkan, melihat kebijakan Indonesia yang stabil dan pengaturan fiskal yang hati-hati, dipercaya profil kredit secara keseluruhan ditingkatkan.

Untuk perdagangan selanjutnya, yakni Senin (10/6), William melihat IHSG masih akan menghijau. Pendorongnya masih berasal dari sentimen positif peringkat S&P ini. Dirinya memprediksi IHSG menguat dengan support di level 6.100 dan resistance di level 6.220.

BERITA TERKAIT

Agustusan di Lazada, Banjir Promo Ratusan Brand Ternama

Setelah sukses menggelar Lazada Mid Year Super Sale di bulan Juli silam, di bulan kemerdekaan Republik Indonesia, Lazada kembali hadirkan…

Rugi Matahari Putra Prima Membengkak 17,32%

NERACA Jakarta – Di semester pertama 2020, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) bukukan rugi meningkat 17,32% dari rugi Rp…

Rugi Matahari Putra Prima Membengkak 17,32%

NERACA Jakarta – Di semester pertama 2020, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) bukukan rugi meningkat 17,32% dari rugi Rp…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

Agustusan di Lazada, Banjir Promo Ratusan Brand Ternama

Setelah sukses menggelar Lazada Mid Year Super Sale di bulan Juli silam, di bulan kemerdekaan Republik Indonesia, Lazada kembali hadirkan…

Rugi Matahari Putra Prima Membengkak 17,32%

NERACA Jakarta – Di semester pertama 2020, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) bukukan rugi meningkat 17,32% dari rugi Rp…

Rugi Matahari Putra Prima Membengkak 17,32%

NERACA Jakarta – Di semester pertama 2020, PT Matahari Putra Prima Tbk (MPPA) bukukan rugi meningkat 17,32% dari rugi Rp…