Pluralisme dan Toleransi Harus Dirawat untuk NKRI

Pluralisme dan Toleransi Harus Dirawat untuk NKRI

NERACA

Jakarta - Cendekiawan sekaligus praktisi antropologi Dr Kartini Sjahrir mengatakan pluralisme atau kemajemukan dan toleransi harus dihargai dan dirawat untuk menjaga persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Perbedaan bukan untuk dipertentangkan tapi dikelola dengan sebaik-baiknya. Perbedaan itu cantik, membuat kita berpikir kreatif, kita harus punya kematangan untuk menghargai dan mengelola keberagaman," kata Kartini yang merupakan alumni Universitas Indonesia dalam Simposium Kebangsaan dan Perayaan 111 Tahun Kebangkitan Nasional di Gedung IMERI, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Senin (20/5).

Kartini menyoroti dalam pemilihan umum calon pemimpin seperti presiden dan wakil presiden serta gubernur, masyarakat Indonesia dihadapkan pada upaya mempertahankan kemajemukan dan toleransi."Indonesia adalah kemajemukan, itu adalah final (harga mati)," ujar dia.

Dia mengatakan seluruh masyarakat Indonesia harus merawat dan merajut nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika agar Indonesia tetap bersatu."Identitas bangsa kita adalah identitas kemajemukan yang kita rangkum dalam Pancasila. Pancasila itu adalah keseharian kita, ekspresi dari Indonesia yang beragam dari Sabang sampai Merauke," tutur dia.

Masyarakat Indonesia sepenuhnya diharapkan berpikir secara rasional dan kritis dalam menghadapi berbagai isu terutama saat situasi politik memanas, bukan mudah terombang-ambing karena ada banyak kepentingan sekelompok orang yang menggunakan situasi politik untuk maksud tertentu yang bukan untuk kemaslahatan bangsa.

Pemikiran rasional dan kritis akan menyaring informasi yang saat ini banyak beredar berita palsu atau hoaks. Dengan penalaran yang bagus, maka masyarakat mampu merespon dengan baik dan tidak mudah terpancing oleh hal-hal yang dapat memicu pertengkaran atau permusuhan.

"Kita menari di atas lalu lintas hoaks. Kita berpikir mandul, semandul-mandulnya. Kita bicara pendidikan tapi kiblat kita hoaks," ujar dia.

Untuk menjalani kehidupan dalam bangsa yang majemuk, maka setiap manusia Indonesia harus memiliki dan menanamkan pemikiran yang menjadi harga mati bahwa semua bersatu dalam keberagaman."Kalau kita memaksakan kehendak kita untuk eksklusif, kita bukan orang Indonesia," ujar dia.

Dia menekankan seseorang yang mengedepankan toleransi adalah seseorang yang menerima dan menghargai perbedaan."Kebangsaan kita adalah kebangsaan yang bertoleransi karena unsur kemajemukan yang kita miliki. Toleransi tumbuh karena ada keberagaman. Toleransi tidak tumbuh dalam keseragaman," ujar dia.

Dia mengatakan jika tidak merawat dan menghargai kemajemukan, maka akan selalu terkungkung dalam komunikasi yang intoleransi. Ant

 

BERITA TERKAIT

Waspadai Kelompok Radikal di Tengah Pandemi

NERACA Jakarta - Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta meminta aparat keamanan TNI, Polri, dan BIN ekstra waspada dan menutup…

Tingkatkan Kiprah Politik Kaum Perempuan

NERACA Jakarta - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengajak seluruh elemen untuk terus mendukung peningkatan kiprah politik kaum perempuan di…

Teknologi dan Inovasi Menjadi Solusi Berbagai Bidang

NERACA Jakarta - Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro mengatakan teknologi dan inovasi…

BERITA LAINNYA DI

Waspadai Kelompok Radikal di Tengah Pandemi

NERACA Jakarta - Pengamat intelijen dan keamanan Stanislaus Riyanta meminta aparat keamanan TNI, Polri, dan BIN ekstra waspada dan menutup…

Tingkatkan Kiprah Politik Kaum Perempuan

NERACA Jakarta - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengajak seluruh elemen untuk terus mendukung peningkatan kiprah politik kaum perempuan di…

Teknologi dan Inovasi Menjadi Solusi Berbagai Bidang

NERACA Jakarta - Menteri Riset dan Teknologi/ Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro mengatakan teknologi dan inovasi…