Fitch Rating Beri Peringkat BB- Japfa Comfeed

NERACA

Jakarta –Pencapaian positif kinerja PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) sepanjang tahun 2018 kemarin membuahkan hasil positf. Dimana lembaga pemeringkat global, Fitch Ratings memberikan peringkat 'BB-' dengan prospek stabil pada surat utang jangka panjang yang diterbitkan JPFA. Sementara itu, untuk obligasi domestik yang diterbitkan JPFA diberi peringkat 'A+' dengan prospek stabil.
Menurut laporan terbaru Fitch yang dirilis di Jakarta, kemarin disebutkan, peringkat obligasi nasional 'A' mengimplikasi resiko kredit (default) yang lebih kecil dibandingkan dengan pemain domestik lainnya. Namun, perubahan kondisi ekonomi masih berpeluang memberikan dampak pada kemampuan perusahaan untuk membayar tepat waktu.

Fitch menjelaskan, peringkat tersebut diberikan karena kinerja keuangan perusahaan sepanjang tahun 2018 lebih tinggi dibanding ekspektasi. Pendapatan sebelum dikurangi bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization/EBITDA) di tahun 2018 sekitar Rp 4,7 triliun, lebih tinggi dibanding proyeksi Fitch di Rp 3,3 triliun.

Selain itu, Fitch juga menyampaikan bahwa peringkat JPFA mencerminkan posisi perusahaan yang kuat di industri pakan dan peternakan unggas. Hal ini mampu dicapai perusahaan disokong oleh lini bisnis yang terintegrasi secara vertikal, jaringan distribusi nasional yang luas, dan hubungan yang kuat dengan para pemasok.

Meskipun rasio EBITDA perusahaan yang sebesar 13,9% di tahun 2018 masih lebih kecil dibanding pelaku industri di pasar internasional, tapi JPFA adalah perusahaan unggas kedua terbesar di Indonesia. Jika pangsa pasar JPFA digabungkan dengan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN), maka pangsa pasarnya mencapai 50%.

Faktor lainnya adalah kemampuan perusahaan untuk memitigasi resiko harga bahan baku yang cukup fluktuatif, dengan memiliki fasilitas penyimpanan dan pengeringan jagung yang besar. JPFA terpapar resiko volatilitas harga bahan baku mengingat pembatasan impor jagung oleh pemerintah yang menyebabkan perusahaan harus mengandalkan pasokan jagung domestik. Padahal musim panen jagung di Indonesia ada di kuartal pertama dan kuartal ketiga tahun ini, sehingga harga berubah-ubah sepanjang tahun.

Fasilitas pengeringan dan penyimpanan jagung milik perusahaan dipercaya dapat menjaga ketersediaan bahan baku dan memberikan fleksibilitas selama periode non-panen. Sementara itu, peran aktif pemerintah Indonesia dalam mengatur pasokan ayam nasional membantu menjaga harga jual di pasar domestik. Sebagai informasi, perseroan tahun ini menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 14% hingga 17% atau lebih tinggi dibandingkan dengan pencapaian 2018.

Direktur Japfa Comfeed Indonesia, Koesbyanto Setyadharma pernah bilang, perseroan akan menjaga pertumbuhan pendapatan tahun ini pada kisaran 14%—17%. "Proyeksi pertumbuhan pendapatan berkisar antara 14%—17%. Untuk meningkatkan pertumbuhan laba, perseroan akan terus meningkatkan efisiensi di segala bidang,"ujarnya.

BERITA TERKAIT

BTN Dorong Kemudahan Pembangunan Rumah Subsidi

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus  mendorong Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan relaksasi sejumlah aturan…

Ditopang Penjualan Lokal - Kimia Farma Bukukan Penjualan Rp 4,69 Triliun

NERACA Jakarta- Bisnis obat di tengah pandemi Covid-19 menjadi berkah tersendiri seiring dengan besarnya permintaan di masyarakat. Hal inilah yang…

Bisnis Properti Terpukul Corona - Laba Bersih Summarecon Agung Anjlok 93,15%

NERACA Jakarta – Satu persatu kinerja emiten properti terpukul akibat dampak pandemi Covid-19. Salah satunya adalah PT Summarecon Agung Tbk…

BERITA LAINNYA DI Bursa Saham

BTN Dorong Kemudahan Pembangunan Rumah Subsidi

PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus  mendorong Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melakukan relaksasi sejumlah aturan…

Ditopang Penjualan Lokal - Kimia Farma Bukukan Penjualan Rp 4,69 Triliun

NERACA Jakarta- Bisnis obat di tengah pandemi Covid-19 menjadi berkah tersendiri seiring dengan besarnya permintaan di masyarakat. Hal inilah yang…

Bisnis Properti Terpukul Corona - Laba Bersih Summarecon Agung Anjlok 93,15%

NERACA Jakarta – Satu persatu kinerja emiten properti terpukul akibat dampak pandemi Covid-19. Salah satunya adalah PT Summarecon Agung Tbk…