Antisipasi Kredit Macet Pasca Kenaikan Suku Bunga

 

 

 

NERACA

 

Jakarta - Dengan meningkatnya tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 25 bps dari 5.5% menjadi 5.75%, BI dan pemerintah diminta untuk mengantisipasi peluang tumbuhnya kredit macet. Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, dengan bertambah tingginya suku bunga acuan, bank-bank komersial akan menyesuaikan bunga pinjaman dan tabungannya. 

Tingginya bunga ini pada nantinya akan mendorong calon investor untuk berpikir dua kali sebelum melakukan pinjaman ke bank. Di sisi lain, apabila bunga tabungan bank komersial ikut naik, masyarakat akan lebih terdorong untuk menyimpan uangnya sehingga berperan dalam mengurangi tingkat konsumsi masyarakat dan pada akhirnya memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Jika tingkat konsumsi lemah, pengusaha yang sedang melakukan pinjaman (debitur) akan semakin sulit untuk membayar piutang mengingat menurunnya permintaan. Sehingga pada akhirnya, tidak dapat dipungkiri potensi terjadinya kredit macet (Non Performing Loan) dapat meningkat dan pada akhirnya berpotensi membahayakan sistem perbankan Indonesia,” jelas Ilman, seperti dikutip dalam keterangannya, kemarin.

Berdasarkan Statisitik Perbankan Indonesia yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan, Non Performing Loan Indonesia pada periode Juni 2017 – Juni 2018 rata-rata berada di angka 2,85%. Bahkan dalam Semester I 2018, angka NPL terus menurun dari 2,86% pada Januari 2018) menuju 2,67% pada Juni 2018. Capaian ini menunjukkan bahwa NPL masih cukup terkendali dan patut dipertahankan di tengah ketidakpastian perekonomian global.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Morgan Stanley setidaknya ada dua tujuan yang ingin dicapai BI melalui instrumen kenaikan suku bunga acuan. Pertama, kenaikan ini sebagai upaya untuk mengelola defisit transaksi berjalandalam batas aman. Seperti yang diketahui, biang kerok penyebab pelemahan rupiah adalah transaksi berjalan yang masih defisit. Pada kuartal II-2018, defisit transaksi berjalan mencapai 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) atau tertinggi sejak kuartal II-2014.

Bahkan di kuartal III diperkirakan defisit tersebut akan membengkak seiring neraca perdagangan periode Juli-Agustus yang sudah defisit US$ 3,05 miliar. Guna mengimbangi defisit tersebut, BI perlu mengundang arus modal asing masuk dengan menaikkan suku bunga acuan.

Kenaikan suku bunga acuan akan mendorong instrumen berpendapatan tetap seperti Obligasi akan menarik di mata investor. Sebab, kenaikan suku bunga acuan biasanya akan mendorong yield obligasi bergerak naik. Jika arus modal asing yang masuk cukup deras, akan membantu pengendalian defisit transaksi berjalan.

Kedua, untuk meningkatkan daya tarik pasar keuangan Indonesia di mata investor global. Seperti yang dijelaskan di atas, bahwa kenaikan suku bunga acuan berdampak kepada kenaikan yield obligasi. Ketika yield semakin tinggi, maka imbal hasil yang diterima semakin besar. Tentu ini menjadi pertimbangan investor asing untuk mau berinvestasi ke pasar keuangan Indonesia. Aliran modal yang masuk tentu mendorong rupiah bisa bergerak menguat.

Terlebih saat ini, likuiditas global semakin ketat. Bank-bank sentral di Asia ramai-ramai menaikkan suku bunga acuannya guna mengundang arus modal masuk. Di tahun ini, terhitung ada 10 bank sentral yang telah menaikkan suku bunga acuannya.

 

BERITA TERKAIT

Program Batara Spekta, BTN Targetkan Raup Dana Murah Rp3,7 Triliun

  NERACA Jakarta - Direktur Utama Bank PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk BTN Pahala Nugraha Mansury optimistis meraup dana…

Pasar Asuransi Belum Diimbangi dengan Edukasi yang Memadai

  NERACA Jakarta - Pasar industri asuransi di Indonesia dinilai masih menguntungkan karena jumlah penduduk yang memahami pentingnya perlindungan asuransi masih…

Dalam Waktu Dekat, Bank BUMN Syariah akan Dimerger

  NERACA Jakarta – Kementerian BUMN akan menggabungkan bank-bank syariah BUMN yang terdapat di masing-masing bank Himbara menjadi satu holding/subholding…

BERITA LAINNYA DI Jasa Keuangan

Program Batara Spekta, BTN Targetkan Raup Dana Murah Rp3,7 Triliun

  NERACA Jakarta - Direktur Utama Bank PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk BTN Pahala Nugraha Mansury optimistis meraup dana…

Pasar Asuransi Belum Diimbangi dengan Edukasi yang Memadai

  NERACA Jakarta - Pasar industri asuransi di Indonesia dinilai masih menguntungkan karena jumlah penduduk yang memahami pentingnya perlindungan asuransi masih…

Dalam Waktu Dekat, Bank BUMN Syariah akan Dimerger

  NERACA Jakarta – Kementerian BUMN akan menggabungkan bank-bank syariah BUMN yang terdapat di masing-masing bank Himbara menjadi satu holding/subholding…