free hit counter

Ragam Hias Dalam Rumah Adat Bali

Sabtu, 19/11/2011
Ragam Hias Dalam Rumah Adat Bali

Neraca. Untuk memperindah bangunan, dibuatlah ragam hias yang dipahatkan, diukirkan, atau ditatahkan. Ragam hias yang digunakan biasanya bermotif flora dan fauna. Motif flora yang sering dipakai dalam ragam hias, antara lain  keketusan, kekarangan, dan pepatraan. Ragam hias keketusan mengambil pola tumbuh-tumbuhan. Keketusan wangga melukiskan bunga-bunga besar yang mekar. Keketusan bunga tuwung, berbentuk bunga terung dalam pola liku-liku segi banyak berulang. Keketusan bun-bunan, merupakan hiasan berpola tumbuh-tumbuhan jalar.

Ragam hias kakarangan dibuat mendekati bentuk flora yang ada. Ragam hias jenis ini ada yang disebut karang simbar, karang bunga, dan karang suring. Karang simbar dipakai untuk hiasan sudut bebaturan.

Bentuk ragam hias pepatraan mewujudkan gubahan keindahan hiasan dalam patern-patern yang disebut patra. Ragam hias jenis ini ada beberapa, yaitu patra wangga yang merupakan hiasan kembang mekar, patra sari yang berbentuk flora dari jenis berbatang menjalar dan melingkar-lingkar, patra bun-bunan, patra pidpid, patra punggel, patra samblung, patra pae, dan lain-lain.

Ragam hias pada bangunan tradisional pada umumnya memperlihatkan warna asli, warna bahan yang merupakan warna alam. Di samping warna asli juga digunakan warna buatan sebagai bentuk hiasan. Warna buatan biasanya adalah biru, merah, dan kuning. Keseluruhan ragam hias yang digunakan dalam bangunan diwujudkan dalam bentuk ukiran, tatahan, pepulasan, pepalihan, dan lelengisan.

Selain bermotifkan flora, ragam hias bangunan juga menggunakan motif fauna. Gambar-gambar fauna diukirkan pada bidang relief di dinding, panil atau bidang-bidang ukiran lainnya. Ukiran fauna tersebut umumnya mengambil dari cerita rakyat/legenda tantri dari dunia binatang. Penampilan fauna dalam bentuk patung bercorak ekspresionis, pada kakarangan bercorak abstrak, dan pada relief bercorak realis.Next