free hit counter

Dampak Negatif Subsidi BBM

Senin, 17/06/2013
Dampak Negatif Subsidi BBM

Kita semua sudah paham bahwa selain mengganggu beban fiskal, subsidi BBM yang besar juga menimbulkan dampak negatif bagi perekonomian, seperti menciptakan disinsentif bagi perkembangan produksi energi terbarukan, meningkatkan defisit neraca perdagangan sebagai akibat tekanan neraca migas, meningkatkan praktik penyeludupan BBM ke negara tetangga,  dan mendorong masyarakat melakukan alih konsumsi yang menyebabkan volume BBM bersubsidi terus meningkat. Ini pada akhirnya mempersempit ruang gerak fiskal yang seharusnya dapat dialokasikan untuk belanja modal maupun bantuan sosial, serta memperburuk kualitas belanja negara.

Dalam APBN 2013, alokasi subsidi BBM bahkan menghabiskan hampir 12% belanja negara, lebih besar ketimbang alokasi belanja infrastruktur perhubungan, perumahan, irigasi, dan energi yang hanya mencapai 9,37% dari keseluruhan belanja negara. Postur APBN seperti ini tentu saja mempersulit pemerintah mewujudkan target pertumbuhan ekonomi pada tahun ini.

Dampak negatif lain yang paling mengkhawatirkan dari besarnya subsidi BBM tersebut, adalah fakta bahwa subsidi BBM ternyata tidak tepat sasaran karena sebagian besar justru dinikmati oleh kelompok masyarakat nonmiskin. Hasil pengolahan data Susenas 2012 yang dipublikasikan Bank Dunia menunjukkan 25% penduduk berpenghasilan terendah ternyata hanya menikmati sekitar 15% subsidi BBM, sebaliknya 25% penduduk berpenghasilan tertinggi justru menikmati sekitar 77%.

Jelas, gambaran nyata kebijakan anggaran negara ini sangat tidak adil bagi penduduk miskin. Tidak heran jika distribusi pendapatan kita terus memburuk, di mana tahun 2012 sekitar 40% penduduk dengan pendapatan terendah hanya menerima kurang dari 17% pendapatan nasional dan besaran Indeks Gini Ratio yang sudah melebihi 0,4.

Nah, apabila kenaikan harga BBM betul-betul dilakukan pemerintah, sebenarnya bukan berarti pemerintah tidak lagi memberikan subsidi BBM, tetapi hanya sekadar mengurangi besaran subsidinya. Karena rencana harga premium sebesar Rp6.500 per liter tetap masih jauh di bawah harga keekonomian, seperti harga premium di berbagai negara. Next