Jokowi vs Prabowo Lagi?

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi

Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo

Sisa waktu menuju pilpres 2019 ternyata iklim sospol semakin memanas. Paling tidak, hal ini terbukti dari semakin terkuaknya sejumlah kepala daerah dan petahana terciduk OTT KPK tapi juga penegasan Prabowo yang nyapres lagi. Selain itu, adanya keyakinan sejumlah figur yang hanya berani menjadi cawapres, entah siapapun capresnya, secara tidak langsung mengebiri kekuatan politik untuk bertarung di pilpres 2019. Realitas ini memberikan gambaran tentang tidak serunya pilpres 2019. Bahkan, elektabilias Jokowi yang terus menguat sempat memicu cibiran tentang lawan Jokowi nanti di pilpres yang hanya kotak kosong. Meski banyak pihak tidak berhadap Jokowi hanya melawan kotak kosong namun faktanya tidak ada tokoh yang sepertinya bisa bertarung melawan Jokowi

Uniknya, sambil menunggu siapa lawannya di pilpres 2019, Jokowi sebagai petahana terus melakukan manuver untuk menyasar semua kalangan, termasuk juga generasi now di era milenial yang secara statistik akan menjadi pemilih pemula. Oleh karena itu upaya Jokowi dengan touring pendek kemarin dengan motor chopper-nya yang diiringi oleh sejumlah biker sejatinya adalah menyasar komunitas pecinta motor yang notabene juga melibatkan generasi now di era milenial. Artinya, ketika yang lain masih berkutat untuk mencari dukungan parpol dan suara, maka Jokowi diuntungkan dengan melakukan aksi turun ke jalan dan menyasar semua calon pemilih pemula. Padahal, keberhasilan dalam meraih simpati pemilih pemula diyakini akan signifikan mendulang suara di pilpres.

Fakta lain yang juga perlu dicermati adalah kemungkinan masuknya sejumlah mantan jenderal dalam pusaran kandidat capres menuju pilpres 2019. Meski sentimen terhadap militer masih ada, namun harus juga diakui peluang mantan jenderal untuk bertarung di bursa pilpres 2019. Paling tidak, argumen yang mendasari yaitu kekuatan barganing dari militer dibanding sipil.

Tidak bisa dipungkiri bahwa argumen ini lebih mengacu kepada karakteristik meski tidak bisa juga digeneralisir. Oleh karena itu, tetap saja ada peluang bagi mantan jenderal untuk bertarung di pilpres 2019. Paling tidak, menjadi cawapres juga bisa dan kalkulasi dari cawapres Jokowi juga muncul tuntutan agar tidak lagi dari kalangan pebisnis, tapi berganti dari kalangan militer sebagai upaya untuk menguatkan kiprah dan kinerja Jokowi di periode kedua kepemimpinannya.

Peluang menjadikan Prabowo sebagai cawapres Jokowi nampaknya nihil karena tentu Prabowo dan para pendukungnya mempunyai hitungan tersendiri. Apalagi di beberapa kesempatan terakhir justru terjadi perang pantun dan saling sindir antara Jokowi dan Prabowo, mulai dari isu PKI, hastag di medsos dan kaos. Bahkan, muncul juga cibiran ketika keduanya mesra menunggang kuda namun kini keduanya berubah ketika Jokowi naik kuda besi (motor chopper) sedangkan Prabowo masih setia naik kuda (beneran). Ini memberikan gambaran bahwa dinamika politik bisa berubah sangat drastis dari kawan menjadi lawan dan dari koalisi menjadi oposisi.

Kalkulasi untung rugi nampaknya saat ini menjadi kepentingan yang sangat mendesak dan karenanya wajar jika ada figur yang pamrih dengan memasang iklan hanya bersedia menjadi cawapres, tidak peduli siapapun capresnya. Jika sudah demikian apakah nanti di pilpres akan terjadi pertarungan jilid II antara Jokowi vs Prabowo? Sejarah akan membuktikannya.

BERITA TERKAIT

Kominfo Tidak Batasi Lagi Registrasi Kartu SIM Dengan NIK

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memutuskan bahwa satu Nomor Induk Kependudukan (NIK) bisa digunakan untuk mendaftarkan lebih dari 3 nomor…

Kepercayaan Investor Mulai Menurun - Lagi, Teror Bom di Riau

NERACA Jakarta – Menjaga keberlangsungan pertumbuhan industri pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menutut pemerintah untuk segera mengatasi aksi…

Jokowi Terima Aduan Soal Pungli Sopir Truk

      NERACA   Jakarta – Jalur distribusi barang menjadi salah satu kontribusi lancarnya perekonomian. Ketika jalur distribusi barang…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kurangi Kebutuhan Dolar AS

  Oleh: Nailul Huda Peneliti INDEF Nilai tukar rupiah mencapai titik terendahnya setelah 2015. Pada awal bulan ini rupiah mencapai…

Dinamika Ekonomi Sudah Kompleks

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Dinamika ekonomi adalah bukan lagi bicara soal rutinitas yang selalu kita…

Teror di Tahun Politik

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Tahun politik nampaknya semakin rentan terhadap iklim sospol dan karenanya…