Pelaku Industri Pariwisata di Bali Didorong IPO

NERACA

Denpasar - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengajak perusahaan lokal di Bali khususnya yang bergerak di sektor pariwisata untuk melakukan penawaran saham kepada masyarakat atau "go public" karena potensi yang besar untuk mendapatkan sumber pendanaan jangka panjang.”Di Bali yang potensial itu berhubungan dengan konsumen dan pariwisata karena untuk komoditi tidak begitu besar," kata Direktur Utama BEI, Tito Sulistio di Denpasar, pekan kemarin.

Menurut Tito, sektor pariwisata di Bali juga berbasis kebutuhan konsumen dengan didukung industri yang sudah terbentuk dan dikenal masyarakat. Dia menyebutkan, salah satu contoh kawasan seni dan pariwisata di Desa Celuk, Kabupaten Gianyar, yang banyak berdiri perusahaan perhiasan perak. Selain itu juga ada daerah yang terkenal dengan kerajinan seni seperti kawasan Ubud di Kabupaten Gianyar.

Begitu juga perusahaan agen perjalanan wisata yang dengan skala besar juga banyak berdiri di Bali sehingga potensi besar untuk melantai di bursa saham. Dia mengungkapkan, perusahaan pariwisata itu mulai dari perusahaan jaringan perhotelan, toko modern, kapal pesiar hingga usaha lainnya.”Kalau secara legal dan administrasi perusahaan sudah bersih, maka tiga hingga enam bulan perusahaan itu sudah bisa melantai di bursa," imbuhnya.

Tito mengungkapkan, sebagian besar perusahaan daerah di Indonesia yang sejatinya memiliki potensi, namun masih terikat dengan persepsi yang masih belum terbentuk maksimal.”Semua konglomerasi di Indonesia karena 'go public' mereka jadi besar. Ini persepsi yang sangat penting, jangan menunggu besar dulu baru 'go public' tetapi karena 'go public' lah perusahaan jadi besar," kata Tito.

Tito menjelaskan, ada lebih dari 30 perusahaan harus melantai di bursa saham di antaranya sarana memobilisasi dana besar jangka panjang sehingga ikut membesarkan perusahaan serta sebagai sarana investasi. Selain berbentuk perusahaan terbatas, perusahaan yang bisa melakukan penawaran umum yakni memiliki nilai aset mencapai Rp5 miliar.

Hingga saat ini sudah ada tiga perusahaan daerah di Bali yang mencatatkan namanya di lantai bursa saham yaitu PT Bali Towerindo Sentra Tbk, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk, dan PT Island Concepts Indonesia Tbk. Saat ini sudah ada satu perusahaan lokal dalam proses "go public" yakni Coco Mart, ritel berjaringan yang didirikan oleh pengusaha Nengah Natya.

Selain toko modern, perusahaan lokal itu juga memiliki jaringan hotel dan perusahaan roti. Tito juga menambahkan, dengan kantor baru BEI Denpasar diharapkan menjadi sarana untuk edukasi dan sosialisasi pasar modal termasuk menarik minat perusahaan daerah melantai di bursa. BEI Denpasar menjadi salah satu perwakilan yang memiliki kantor sendiri di luar Jakarta yang kini berada di jalan Cok Agung Tresna Renon Denpasar setelah sebelumnya berada di jalan PB Sudirman.

Saat ini BEI memiliki 29 kantor perwakilan dan 358 galeri yang diharapkan menjadi alat utama meningkatkan literasi pasar modal kepada masyarakat. (ant/bani)

BERITA TERKAIT

Pawai Obor AG 2018 Ikut Promosikan Pariwisata Indonesia

  Oleh : Agnes Ayu Permata, Mahasiswi Universitas Parahyangan Bandung Pawai obor menjadi agenda yang saat ini tengah dilakukan di…

ASM Bayar Klaim Akibat Gempa Lombok di Bali

PT Asuransi Sinar Mas (ASM) atau Simas membuktikan komitmen pelayanan terbaik melalui pembayaran klaim akibat bencana gempa bumi yang terjadi…

OJK Optimis Transaksi Saham di Bali Melonjak - Kondisi Gunung Agung Pulih

NERACA Denpasar - Otoritas Jasa Keuangan Regional Bali dan Nusa Tenggara optimistis nilai transaksi saham di Pulau Dewata akan melonjak…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Hasnur Group Bina Juara Dunia Karate

NERACA Jakarta - Keinginan Fauzan, karateka asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan yang belum lama ini berhasil memenangi Kejuaraan Dunia Karate Tradisional…

BNI Terbitkan MTN Subordinasi Rp 100 Miliar

NERACA Jakarta - Perkuat likuiditas dalam rangka rangka mendanai ekspansi bisnis, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) pada tanggal 10…

ADHI Kantungi Kontrak Baru Rp 7,45 Triliun

NERACA Jakarta — Sampai dengan Juli 2018, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) mengantongi kontrak baru Rp7,45 triliun dengan kontribusi…