Banten Impor Kimia Organik 250,18 Juta Dolar - Selama Februari 2018

Banten Impor Kimia Organik 250,18 Juta Dolar

Selama Februari 2018

NERACA

Serang - Provinsi Banten selama Februari 2018 mengimpor bahan kimia organik mencapai 250,18 juta dolar AS untuk kebutuhan industri kimia yang jumlah unitnya relatif cukup banyak tersebar di Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon.

"Industri kimia organik, baik skala besar maupun sedang, di Banten jumlahnya relatif banyak, sementara persediaan bahan baku berupa bahan kimia organik di dalam negeri jumlahnya terbatas sehingga perlu impor dari berbagai negara," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Banten Agoes Soebeno di Serang, dikutip dari Antara, kemarin.

Nilai impor nonmigas untuk sepuluh golongan barang pada bulan Februari 2018 naik 0,09 persen atau sebesar 0,58 juta dolar AS dari sebelumnya 634,46 juta dolar AS menjadi 635,03 juta dolar AS. Ia menyebutkan pada golongan barang lainnya terjadi peningkatan 31,06 persen atau sebesar 12,07 juta dolar AS.

Nilai impor nonmigas terbesar selain bahan kimia organik yang mencapai 250,18 juta dolar, disusul bahan bakar mineral serta besi dan baja dengan nilai impor masing-masing sebesar 77,13 juta dolar AS dan 59,50 juta dolar AS. Peran impor nonmigas untuk 10 golongan barang pada bulan Februari 2018 mencapai 93,39 persen dengan peran tertinggi berasal dari bahan kimia organik sebesar 35,40 persen (481,20 juta dolar AS), kemudian diikuti oleh besi dan baja sebesar 15,13 persen atau 205,62 juta dolar AS.

Peran tujuh golongan barang lainnya dari 10 golongan barang pada bulan Februari 2018 masih kurang dari 9 persen, sementara peran golongan barang lainnya di luar 10 golongan barang tercatat sebesar 6,61 persen.

Enam dari 10 golongan barang nonmigas mengalami peningkatan nilai impor, sedangkan pada empat golongan barang yang lainnya terjadi penurunan. Peningkatan nilai impor tertinggi berasal dari golongan barang bahan bakar mineral dan yang terendah terjadi pada benda-benda dari besi dan baja.

Sementara itu, penurunan nilai ekspor tertinggi dan terendah secara berturut-turut terjadi pada besi dan baja dan ampas/sisa industri makanan dengan penurunan masing-masing sebesar 86,63 juta dolar AS dan 5,33 juta dolar AS. Jika disandingkan secara bersamaan, sembilan dari 10 golongan barang impor nonmigas pada bulan Februari 2018, kecuali kapal laut dan bangunan terapung, adalah golongan barang yang sama dengan bulan sebelumnya.

Ia menyebutkan enam dari sembilan golongan barang tadi, kecuali mesin-mesin/pesawat mekanik, benda-benda dari besi dan baja, serta bijih, kerak, dan abu logam, merupakan golongan barang yang selalu masuk dalam 10 golongan barang impor utama Banten sejak Februari 2017 dengan peran gabungan selama setahun terakhir, selalu tidak pernah kurang dari 75 persen.

Impor nonmigas dari 12 negara asal barang pada bulan Februari 2018 naik 21,57 persen atau sebesar 107,34 dari data bulan sebelumnya. Sebaliknya, nilai impor nonmigas dari negara lainnya mengalami penurunan 94,69 juta atau 53,92 persen.

Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar pada bulan Februari 2018 adalah Thailand dengan nilai impor sebesar 114,96 juta dolar AS, diikuti oleh Singapura dan Australia, masing-masing dengan impor sebesar 94,45 juta dolar AS dan 83,89 juta dolar AS, sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 275,86 juta dolar AS.

Sepuluh golongan barang impor nonmigas Banten Februari 2018 adalah bahan kimia organik senilai 250,18 juta dolar AS, bahan bakat mineral (77,13 juta dolar AS), besi dan baja (59,50 juta dolar AS), gula dan kembang gula (57,97 juta dolar AS), bijih, kerak dan abu logam (47,87 juta dolar AS), gandum-ganduman (42,80 juta dolar AS), mesin-mesin/pesawat mekanik (36,42 juta dolar AS), ampas/sisa industri makanan (30,93 juta dolar AS), benda-benda dari besi dan baja (16,87 juta dolar AS), serta kapal laut dan bangunan terapung senilai 15,36 juta dolar AS).

Sebanyak 12 negara asal barang impor nonmigas Banten pada bulan Februari 2018 adalah Thailand dengan nilai 114,96 juta dolar AS, Singapura (94,45 juta dolar AS), Malaysia (51,03 juta dolar AS), Australia (83,89 juta dolar AS), dan Jepang (64,19 juta dolar AS).

Selain itu, Tiongkok (58,19 juta dolar AS), Argentina (26,10 juta dolar AS), Arab Saudi (24,91 juta dolar AS), Amerika Serikat (24,37 juta dolar AS), Brasil (24,12 juta dolar AS), Korea Selatan (20,46 juta dolar AS), dan Kanada senilai 18,35 juta dolar AS. Ant

BERITA TERKAIT

Tahun 2018, Laju Investasi PMDN di Kota Sukabumi Lebihi Target - Penyerapan Tenaga Kerjanya Mencapai 5.138

Tahun 2018, Laju Investasi PMDN di Kota Sukabumi Lebihi Target Penyerapan Tenaga Kerjanya Mencapai 5.138 NERACA Kota Sukabumi - Laju…

Kembangkan Inftastruktur dan SDM - Rifan Financindo Bidik Transaksi 1,5 Juta Lot

NERACA Jakarta – Sukses mencatatkan performance kinerja yang positif di tahun 2018 kemarin, menjadi alasan bagi PT Rifan Financindo Berjangka…

Pemprov Banten Lanjutkan Program Revitalisasi Banten Lama

Pemprov Banten Lanjutkan Program Revitalisasi Banten Lama NERACA Serang - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten pada 2019 kembali melanjutkan program revitalisasi…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Doa Terkabul, Ibu Dedeh Senang Berjumpa Dengan Jokowi

Doa Terkabul, Ibu Dedeh Senang Berjumpa Dengan Jokowi NERACA Jakarta - Dibalik rangkaian kunjungan kerja di Kabupaten Garut, Jawa Barat…

WOM Finance Cabang Bogor Tangkap Pelaku Tindak Kejahatan

WOM Finance Cabang Bogor Tangkap Pelaku Tindak Kejahatan NERACA Bogor – Pekan lalu, PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (“WOM Finance”)…

Menilai Kemampuan Industri di Era Digital, Kemenperin Siap Luncurkan INDI 4.0

Menilai Kemampuan Industri di Era Digital, Kemenperin Siap Luncurkan INDI 4.0 NERACA Jakarta -Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan meluncurkan indikator penilaian…