Investasi SBN Tercatat US$ 1,6 Miliar Di Januari 2012

Neraca

Jakarta – Bank Indonesia (BI) mencatat aliran dana yang masuk ke Indonesia dalam bentuk portofolio surat berharga negara (SBN) dan saham sepanjang Januari 2012 mencapai US$ 1,6 miliar. Periode sebelumnya sepanjang 2011, aktivitas perdagangan SBN hanya mencapai Rp1.961,26 triliun.

Direktur Riset Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Perry Warjiyo mengatakan, dana yang masuk ke Indonesia melalui portofolio Surat Berharga Negara (SBN) dan saham sepanjang Januari lalu sebesar US$ 1,6 miliar. “Inflows (dana asing yang masuk ) sudah masuk, sepanjang Januari lalu, dana yang masuk melalui obligasi negara dan saham sudah mencapai US$ 1,6 miliar,”kata Perry di Jakarta (10/2).

Menurutnya, hal tersebut merupakan gambaran ke depan di mana dana yang masuk melalui porto folio tentu akan semakin besar. Selain itu, BI mengklaim aliran dana melalui portofolio tersebut akan terus meningkat. Pasalnya, kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini stabil dan ke depan ekonomi Indonesia tetap diprediksi dalam koridor positif meski terjadi gunjangan ekonomi global.

Keoptimisan ini didukung dengan pencapaian Indonesia yang berhasil meraih Investment grade (kenaikan peringkat utang) dari BB+ menjadi BBB- dengan outlook stabil. Lebih lanjut, Perry menambahkan, dalam jangka pendek kondisi yang terjadi di Eropa akan sangat mempengaruhi keluar masuknya dana ke Indonesia, terutama pada portofolio Indonesia.

Namun, jika dibandingkan dengan yang terjadi beberapa bulan terakhir, dia memperkirakan arus dana yang masuk ke Indonesia masih akan lebih besar dibandingkan arus dana yang keluar.”Kita masih tunggu progress di Yunani. Hal-hal angka pendek yang terjadi di Eropa masih mempengaruhi capital inflow dan outflows (dana asing yang keluar). Kalau ada risk on risk off (resiko dari resiko) bisa saja terjadi, tapi untuk setelah itu, analisis kita capital inflow lebih banyak dari outflow,”ujarnya.

Sementara itu, menurut Perry, Foreign Direct Investment (FDI/ investasi langsung) juga akan terus meningkat. Dalam hal ini, sektor yang akan banyak diminati, yakni pertambangan, perdagangan, dan telekomunikasi.

Perry menilai, FDI pada sektor manufaktur juga diperkirakan akan mengalami peningkatan yang cukup pesat. “Itu keliatan sekali dari pola pertumbuhan ekonomi kita. pola pertumbuhan ekonomi kita banyak dukungannya dari sektor manufaktur, perdagangan, transportasi dan komunikasi, konstruksi,”tandasnya. (mayabd)

BERITA TERKAIT

Minat Investasi di Pasar Modal Meningkat - Investor di Kalsel Tumbuh

NERACA Banjarmasin – Besarnya tekad PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk terus mengkampanyekan Yuk Nabung Saham dengan menggandeng beberapa perusahaan…

Bank Dunia Ingatkan Soal Investasi SDM

  NERACA Jakarta - Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim mengingatkan pentingnya investasi Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mendukung…

Andalan Finance Raih Pembiayaan Rp270 miliar dari CIMB Niaga

  NERACA Jakarta - PT Andalan Finance Indonesia (Andalan Finance), menandatangani Nota Kesepahaman Bersama (Memorandum of Understanding) fasilitas kredit pembiayaan senilai…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pendapatan BTEL Susut Jadi Rp 1,51 Miliar

Bisnis telekomunikasi milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) terus menyusut. Tengok saja, hingga periode 30 Juni 2017 meraih pendapatan sebesar…

Saham IPO ZINC Oversubscribed 500 Kali

Kantungi dana segar hasil peawaran umum saham perdan atau initial public offering (IPO), PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) menyiapkan…

Hotel dan Residensial Beri Kontribusi - Penjualan PP Properti Proyeksikan Tumbuh 60%

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun yang tinggal dua bulan lagi, PT PP Properti Tbk (PPRO) terus bergerilya untuk memenuhi…