Bisnis Syariah di Persimpangan

Oleh: Izzudin Al Farras Adha

Peneliti INDEF

Tahun 2017 menjadi salah satu tahun istimewa bagi keuangan syariah di Indonesia, khususnya perbankan syariah, karena pada tahun ini market share dari perbankan syariah sudah melebihi angka 5%. Hal ini menjadi istimewa karena selama ini angka tersebut seakan sangat berat tercapai. Kini, setahun berlalu setelah pencapaian tersebut, para ekonom syariah meningkatkan target yang telah tercapai tersebut ke angka 7%. Angka ini menjadi tantangan baru bagi para pegiat ekonomi syariah karena akan mengekspansi pasar perbankan syariah di Indonesia.

Namun, dibalik capaian angka tersebut beserta capaian-capaian lainnya, pertanyaan yang menyeruak ke permukaan adalah apakah lembaga keuangan syariah sudah mampu berkontribusi besar terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Faktanya, keuangan syariah saat ini masih berkutat pada memfasilitasi orang yang memiliki uang. Di sisi lain, keuangan syariah belum mampu menaikkan taraf hidup masyarakat miskin secara signifikan dan membuka lapangan pekerjaan yang luas.

Dalam hal ini lah keuangan syariah harus dikembalikan lagi kepada khittah-nya dengan menawarkan maksud sosial dari keuangan syariah kepada masyarakat banyak. Tentu perlu diingat bahwa saat perbankan syariah dimulai di Mesir pada 1963, model pertama yang dipakai perbankan syariah ketika itu adalah sosial. Pun apabila mau merujuk kepada model perbankan pada hari ini, contoh baik ada pada perbankan di Jerman dimana motivasi perbankan disana adalah sosial. Dampaknya bisa kita lihat bahwa Jerman adalah negara terdampak paling kecil skala krisisnya.

Maksud dari hal ini adalah bahwa ekonomi syariah itu mendefinisikan bank dengan peran sosial yang terintegrasi dengan ekonomi syariah secara keseluruhan. Misi dari keuangan syariah adalah menguntungkan stakeholder dengan menekan pengangguran, mengentaskan kemiskinan, dan harga-harga menjadi terkendali serta terjangkau. Tidak hanya menguntungkan shareholder atau pemegang saham perbankan tersebut saja seperti yang selama ini telah terjadi. Dengan demikian, para pegiat ekonomi syariah harus inovatif dalam mengubah status quo dan mengarahkan keuangan syariah kepada konsep idealnya dalam Islam.

Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia memiliki potensi besar dalam memajukan ekonomi dan keuangan syariah. Salah satu hal yang sudah masyarakat muslim Indonesia lakukan adalah Baitul Maal wat Tamwil (BMT) dimana partisipasi masyarakat untuk misi sosial sangat didorong. Peran aktif masyarakat dalam pengorganisasian BMT patut menjadi model dalam pengembangan lembaga keuangan syariah yang beraktivitas dengan landasan komersial sekaligus sosial. Motivasi seperti ini harus didorong oleh seluruh pemangku kepentingan terkait karena sesungguhnya tantangan terbesar dalam hal ini adalah mengubah paradigma masyarakat sehingga membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Harapannya kita mampu bergerak ke arah yang benar di persimpangan jalan ini.

BERITA TERKAIT

NFC Indonesia Buka Peluang Untuk Akuisisi - Kembangkan Ekspansi Bisnis

NERACA Jakarta – Debut perdana di pasar modal, harga saham PT NFC Indonesia Tbk (NFCX) langsung dibuka menguat 49,73% pada…

Gencar Pembangunan, Potensi Bisnis Desain dan Interior Kian Mentereng

NERACA Jakarta - Gencarnya  pembangunan sektor properti baik perumahan, apartemen, ruko, hingga gedung perkantoran dan lainnya memicu demand terhadap kebutuhan…

Danareksa Rilis Dua Produk Reksadana Syariah - Optimalkan Pasar Modal Syariah

NERACA Jakarta – Mengoptimalkan industri pasar modal syariah yang belum digarap secara optimal, khususnya industri reksadana syariah, PT Danareksa Investment…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Asuransi Syariah Petani

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Selain sebagai negara bahari Indonesia dikenal sebagai negara agraris yaitu pertanian. Maka otomatis…

Reformasi Perizinan di Indonesia

  Oleh: Dhenny Yuartha Junifta Peneliti INDEF   Jalan panjang pembenahan perizinan di Indonesia sedang berada di aras reformasi. Tidak…

Pemerintah Indonesia Vs Freeport - Oleh : Edy Mulyadi, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Negosiasi pemerintah Indonesia dengan Freeport masih terus berjalan sangat alot. Dalam hal ini pemerintah harus kuat dan jangan mengalah dengan…