Dana Banjir DKI Jakarta Cuma US$139 JUta

NERACA

Jakarta--- Bank Dunia (World Bank) mengungkapkan dana investasi untuk menangani bencana banjir di DKI Jakarta mencapai USD139 juta hingga tiga tahun ke depan. "Dana yang digunakan untuk proyek pengerukan kali," kata Senior Disaster Risk Management Specialist World Bank Iwan Gunawan di Jakarta,13/2

Lebih jauh kata Iwan, Pemprov DKI telah menganggarkan dana sebesar Rp300 miliar-Rp500 miliar per tahun untuk menangani banjir DKI Jakarta. "Biaya untuk menghindari banjir itu adalah investasi. Itu adalah sesuatu yang baru," lanjutnya.

Di tempat yang sama, Senior Water and Sanitacion Specialist WOrld Bank Fook Chuan Eng menuturkan banjir di daerah perkotaan merupakan tantangan serius bagi negara yang berpenghasilan rendah dan menengah di Asia Timur dan Pasifik. Hal ini terkait dengan urbanisasi, peningkatan populasi, dan tren perubahan iklim jangka panjang. "Meluasnya urbanisasi sering kali menimbulkan daerah-daerah kumuh dengan infrastruktur dan layanan yang minim," tambah Chuan Eng.

Selain kerugian ekonomi secara langsung banjir, lanjut Chuan Eng, banjir juga membawa kerugian jangka panjang seperti hilangnya kesempatan pendidikan, penyakit dan penurunan gizi yang dapat mengikis tujuan-tujuan pembangunan. "Banjir paling sering terjadi di wilayah Asia Timur, Pasifik dan Asia Tenggara. Banjir Asia Pasifik dan Timur mencapai 40% dari jumlah banjir di seluruh dunia," ungkap dia.

Sebagai informasi, menurut data World Bank, lebih dari 90 persen populasi dunia yang rentan terhadap banjir tinggal di Asia. Banjir mempengaruhi 178 juta orang di seluruh dunia dan dari 1998-2010 kerugian akibat banjir mencapai lebih dari USD45 miliar.

Sementara itu, Wakil Presiden Bank Dunia untuk wilayah Asia Timur dan Pasifik mengatakan dengan meluasnya urbanisasi seringkali menimbulkan daerah-daerah kumuh dengan infrastruktur dan layanan yang minim. Fakir miskin menerima dampak yang paling besar. "Tetapi urbanisasi yang cepat juga berarti kita memiliki kesempatan untuk melakukan hal yang tepat sejak awal, sehingga kota-kota dapat mendukung pembangunan yang berkelanjutan serta menjaga jiwa dan harta milik mereka," jelas Pamela.

Menurut Pamela, cara yang paling efektif untuk mengelola resiko banjir adalah mengambil pendekatan terpadu yang menggabungkan upaya-upaya terstruktur maupun tidak tidak tersetruktur dari konstruksi kanal-kanal air dan tanggul hingga alternatif yang lebih alami seperti lahan basah, cekungan penyimpan dan penyangga alami dan juga sistem peringatan dini serta kampanye kesadaran masyarakat. “semua itu perlu dilakukan, dan yang paling tepat adalah mendapatkan keseimbangan yang tepat,” jelasnya.

Terdapat banyak alat bantu yang bisa mendeteksi resiko bahaya banjir. “sistem peramalan banjir berbasis web merupakan suatu alat yang efektif untuk menyebarluaskan data hidrologis dan hidrometeorologis kepada sejumlah besar penggunanya. Selain itu, komunikasi juga berperan besar dalam meningkatkan kesadaran dan memperkuat kesiapan akan datangnya banjir,” ujarnya. **bari

BERITA TERKAIT

Arief Harapkan Kerjasama Tangerang-DKI Semakin Efektif

Arief Harapkan Kerjasama Tangerang-DKI Semakin Efektif NERACA Tangerang - Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah berharap agar kerjasama dengan Pemprov…

HIPMI Inginkan Jakarta Lebih Baik - Punya Gubernur Baru

    NERACA   Jakarta - Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jakarta Raya (BPD Hipmi Jaya) mengharapkan Gubernur…

Reformasi Dana Insentif Daerah

Oleh: Joko Tri Haryanto, Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu *) Dalam APBN, kerangka hubungan pendanaan antara Pemerintah Pusat dan Daerah diterjemahkan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BI Diyakini Tahan Suku Bunga Acuan

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) diyakini akan menahan kebijakan bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate" di…

OCBC NISP Yakin Pertumbuhan Kredit Dua Digit

  NERACA   Jakarta - PT OCBC NISP Tbk meyakini penyaluran kredit akan membaik pada triwulan IV/2017 sehingga mampu mencapai…

Utang Luar Negeri Naik 4,7%

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) naik 4,7 persen (year on year)…