Kemenperin Pacu IKM Agar Go Global dan Go Digital - Industri Kecil dan Menengah

NERACA

Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus dalam pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) karena telah lama berperan penting menopang perekonomian nasional. Sektor yang menjadi mayoritas dari populasi industri di Indonesia ini, para pelaku usahanya dikenal memiliki ketangguhan dalam merintis bisnisnya dan mempunyai kreativitas guna meningkatkan daya saing porduknya.

“Misalnya, di era digital sekarang, perkembangan startup lokal kian tumbuh siginifikan seiring dengan momentum bonus demografi yang akan dialami Indonesia pada tahun 2020-2030. Pasalnya, bisnis startup ini diminati oleh generasi milenial,” kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta, disalin dari siaran resmi.

Saat ini, baru tercatat sekitar 2 persen pelaku startup lokal dari total keseluruhan populasi masyarakat Indonesia. Untuk itu, Pemerintah menargetkan Indonesia bisa menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020 dengan memiliki 1.000 startup berbasis digital, valuasi bisnisnya mencapai USD100 miliar, dan total nilai e-commerce sebesar USD130 miliar.

“Guna mewujudkan sasaran itu, Kemenperin turut serta dalam ajang Maker Fest 2018 yang merupakan gerakan empowering movement bagi kreator atau produsen lokal yang digagas oleh Tokopedia,” ujar Gati. Maker Fest ini bertujuan untuk menumbuhkan lebih banyak pelaku industri kreatif di dalam negeri terutama gerenasi muda yang mampu mengembangkan produk dan merek nasional di kancah global.

Sebanyak lima IKM binaan Ditjen IKM Kemenperin yang ikut serta dalam ajang tersebut, yakni Rumah Nayozie (memproduksi Dompet Ulos), Fame Handmade (Rajutan), Creabrush Indonesia (Handycraft), Mom’s Craft (Decoupage), dan Reihani Tenun Batik Batak Melayu (Tenun).

Kegiatan Maker Fest tahap I dilaksanakan di Lapangan Benteng, Medan, Sumatera Utara pada 7-8 April 2018. “Maker Fest rencananya diselenggarakan di delapan kota untuk mendorong para wirausaha untuk mengkreasikan produk-produknya. Nantinya, akan ada kegiatan puncak untuk memilih tiga kreator dengan produk terbaik,” tuturnya.

Gati menyatakan, pihaknya konsisten memberikan pembinaan kepada kreator muda dalam negeri untuk mendorong industri kreatif Indonesia bisa go global dan go digital. “Kami terus membina ide-ide kreatif dari para pelaku IKM ini bisa diwujudkan dalam bentuk produk nasional yang berdaya saing global serta dapat memanfaatkan teknologi digital,” terangnya.

Dalam upaya mendorong IKM nasional agar mampu menggunakan teknologi digital, Kemenperin telah membuat fasilitasnya melalui e-Smart IKM. “Hingga saat ini sebanyak 1.730 pelaku IKM telah mengikuti workshop e-Smart IKM,” ungkap Gati. Sampai tahun 2019, Kemenperin menargetkan dapat mengajak 10 ribu pelaku IKM seluruh Indonesia untuk mengikuti lokakarya tersebut.

Gati menambahkan, pembinaan dalam program e-Smart IKM ini tidak hanya dalam sesi workshop saja. “Kepada para IKM yang hasil produksinya tidak laku dipasarkan di marketplace, akan dilakukan pembinaan lanjutan berupa pelatihan sumber daya manusia, pendampingan dalam proses produksi, desain produk dan kemasan serta bantuan mesin dan peralatan melalui program restruksturisasi,” paparnya.

Agar dapat mengetahui lebih detail mengenai program e-smart IKM, Ditjen IKM Kemenperin mempunyai layanan call center melalui nomor 1500-775 yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat. Selain itu, para pelaku IKM yang ingin bergabung dalam program e-Smart IKM, juga bisa mengunjungi situs www.kemenperin.go.id/pendaftaran_esmart.

“Kami berharap para pelaku IKM dapat memanfaatkan fasilitas tersebut sehingga bisa mendapatkan berbagai informasi terhadap program, kebijakan, fasilitasi dan layanan lainnya mengenai pengembangan IKM,” jelasnya.

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, Indonesia merupakan negara yang potensial untuk tumbuh dan berkembangnya perdagangan elektronik (e-commerce) karena menjadi pasar terbesar di ASEAN. “Potensi ini didukung dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, di mana penetrasi internet telah menjangkau sebanyak 90,5 juta jiwa dan di antara mereka sekitar 26,3 juta jiwa telah berbelanja secara online,” ungkapnya.

Saat ini, di ASEAN ada sekitar tujuh unicorn atau perusahaan startup yang memiliki valuasi di atas USD1 miliar. Empat di antaranya dari Indonesia, yakni Bukalapak, Traveloka, Tokopedia, dan Gojek. “Dalam pelaksanaan program e-Smart IKM, Kemenperin telah bekerja sama dengan beberapa marketplace dalam negeri,” kata Airlangga.

BERITA TERKAIT

KPPU Awasi Kemitraan Cegah Kerugian Usaha Kecil

KPPU Awasi Kemitraan Cegah Kerugian Usaha Kecil NERACA Medan - Komisi Pengawas Persaingan Usaha terus mensosialisasikan pengawasan kemitraan untuk mencegah…

Likuiditas Global Ibarat Pesawat Komersial

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri Negara-negara di dunia, seperti negara emerging market sebenarnya hanya menjadi "mainan" likuiditas global,…

Kemenkop dan OASE Berdayakan Masyarakat di Malaka

Kemenkop dan OASE Berdayakan Masyarakat di Malaka NERACA  Malaka - Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE Kabinet Kerja) bersama…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Katrol Kompetensi SDM Industri 4.0, Kemenperin-BSN Teken MoU

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian dan Badan Standardisasi Nasional sepakat untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang terampil…

Sepanjang 2018 - Industri Tekstil Indonesia Bidik Ekspor Senilai US$14 Miliar

NERACA Jakarta – Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional diyakini mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap penerimaan devisa dari ekspor…

DHL Express Indonesia Bangun Fasilitas Baru di Pulogadung

NERACA Jakarta – DHL Express, penyedia layanan ekspres internasional terkemuka di dunia, hari ini secara resmi meluncurkan fasilitas baru di…