Deposan Besar Bikin Bank Boros

NERACA

Jakarta – Kartel nasabah kaya, alias deposan besar dituding menjadi penyebab industry perbankan boros dalam mengelola operasional bank. Alasanya, pemberian bunga deposito yang terlalu tinggi kepada deposan membuat tak mendorong perekomian. Karena itu harus ada kesepakatan bersama perbankan untuk turunkan bunga deposito, jika perlu penurunannya sampai 2%.

"Deposito harus turun 2%, agar mendorong investasi. Banyak orang Indonesia mau cari selamat, yakni orang-orang kaya yang masuk sistem perbankan. Sekarang mau pilih investasi atau taruh di bank," kata Ketua DPR, Marzuki Alie kepada wartawan di Jakarta,13/2

Marzuki menambahkan, bunga deposito harus mampu turun bahkan selaras dengan bunga tabungan yang sudah rendah. Hal ini bertujuan untuk menantang nasabah kaya untuk tidak manja dan hanya menikmati keuntungan melalui bunga deposito. Perbankan pun harus bersatu untuk menurunkan tingkat bunga, seperti kebijakan Bank Indonesia (BI). "Kalau selama ini kan bank takut uangnya pindah ke bank swasta. Makanya harus bersama-sama turunkan bunga," paparnya.

Lebih jauh Marzuki, penurunan BI rate tak membuat perbankan ikut menurunkan suku bunga. Padahal BI rate menjadi acuan. "Dengan perbankan dapat sumber dana murah, industri bisa efisien. Selama ini bunga bank tinggi, padahal SBI sudah 5,75%. Sangat rendah. Dan perbankan pemerintah harus jadi motor," tegas Marzuki.

Dikatakan Marzuki, tingginya bunga pinjaman terjadi karena beberapa alasan. Pertama, bunga atas dana yang ditempatkan di bank tinggi. Ini menjadikan cost of fund ikut tinggi. Kedua, biaya operasional (over head) bank juga tinggi. Dengan demikian tentu sulit bagi bank efisien. Ketiga, kewajiban penempatan dana di BI (GWM) yang tidak mendapatkan bunga, serta pengaruh besar kecilnya bank, dana komposisi dana. "Bank luar negeri saja bisa kasih bunga rendah. Over head mereka rata-rata 1%-2%. Kita 3%. Maka beban ke nasabah mahal," ucapnya.

Ditempat terpisah, Direktur Utama BRI, Sofyan Basir juga berpendapat yang sama. Para deposan besar, alias nasabah kaya tak menginginkan bunga deposito turun. Sehingga industri perbankan kesulitan pula menurunkan suku bunga. Buntunya., sulit juga untuk menekan efisiensi. Intinya, ada dugaan “kartel nasabah kaya” yang menekan perbankan. “Kalau para deposan besar itu nggak mau bunga depositonya diturunin kan susah kita lakukan efisiensi atau menurunkan bunga kredit," terangnya

Dijelaskan Sofyan, banyak nasabah besar baik individu maupun korporasi yang gampang sekali berpindah-pindah menempatkan dananya jika bunga deposito yang didapatnya berkurang. Alhasil, bank sulit sekali untuk menurunkan bunga deposito karena 'takut' deposan besarnya lari. "Mereka itu gampang berpindah-pindah bayangkan itu 0,5 poin saja bunga berubah mereka bisa pindah," tuturnya.

Sofyan menegaskan para deposan besar itu memang lebih banyak dari kelas Dana Pensiun, dan BUMN-BUMN investasi. “Kita berharap semua pihak bisa memahami itu. Jangan hanya bank, tapi kita sama-sama turunkan bunga deposito itu agar bisa terjadi efisiensi nasional," kata Sofyan. **maya/cahyo

BERITA TERKAIT

Erajaya Bikin Anak Usaha di Singapura

Disamping agresif menambah gerai baru, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) juga ekspansi bisnisnya hingga ke Singapura dengan mendirikan anak usaha…

Sinarmas MSIG Life Luncurkan 4 Produk Bancassurance - Gandeng Bank BJB

      NERACA   Jakarta - PT Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG (Sinarmas MSIG Life) dan Bank BJB, berkolaborasi meluncurkan…

Bank Sumut Targetkan Kelola Dana Nasabah Prioritas Rp400 miliar

      NERACA   Medan - Bank Sumut menargetkan jumlah nasabah prioritas hingga akhir 2017 mencapai 300 dengan total…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

10 LKM Syariah Kantongi Izin dari OJK

  NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan izin operasi sepuluh Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKM Syariah) yang diharapkan…

BTN Ajak Mahasiswa jadi Entrepreneur Properti

  NERACA Yogyakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. siap mengawal para mahasiswa untuk menjadi entrepreneur muda handal di bidang properti…

Bank Muamalat Resmikan Unit Program Social Trust Fund Di Bali

  NERACA Jakarta - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. (Bank Muamalat) secara resmi memperkenalkan Unit Program Social Trust Fund (STF)…