BRI Dukung Yawadwipa Akuisisi Bank Mutiara

NERACA

Jakarta----PT Bank Rakyat Indonesia mengaku tak tertarik mengakuisisi PT Bank Mutiara yang ditawarkan senilai Rp 6,7 triliun. Bahkan secara implisit, BRI mendorong Yawadwipa membeli Bank Mutiara. “Tidak, kami tidak deh, biar asing saja yang beli itu," kata Dirut Bank BRI, Sofyan Basir di Jakarta,13/2

Menurut Sofyan, selain mempersilahkan investor asing untuk mengakuisisi Bank Mutiara, juga karena harga yang ditawarkan terlalu mahal. Makanya BRI tak mengincar itu, meski ada dorongan bagi Bank BUMN untuk mengakusisinya. "Wah ngga deh, itu kemahalan itu Rp 6,7 triliun Bank Mutiara," tambahnya

Meski ada dorongan dari pemerintah, namun Sofyan tegas menyatakan banknya tidak akan membeli bank yang dulunya bernama Bank Century itu. Bahkan Sofyan mempersilakan biar pihak asing saja yang membeli bank tersebut. "Tidak, kami tidak deh, biar asing saja yang beli itu," jelas Sofyan.

Pada kesempatan yang sama Sofyan masih berharap RUPS BRI yang nanti digelar dapat menyetujui pembelian sebuah perusahaan sekuritas. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan bisnis non-organiknya. "Kita harapkan nanti RUPS disetujui. Kita berniat memang dan sudah ada dananya untuk akuisisi perusahaan sekuritas," tutup Sofyan.

Seperti diketahui, LPS selaku pemilik Bank Mutiara berniat melego bank tersebut. LPS tetap berharap bisa meraup Rp 6,7 triliun dari penjualan bank tersebut, atau senilai dengan dana bailout yang dikucurkan pemerintah ketika bank tersebut mengalami kesulitan likuiditas.

LPS tercatat sudah 2 kali gagal melego Bank Mutiara pada harga tersebut. Bahkan informasi yang beredar, sebuah perusahaan equity fund membuat heboh dengan rencananya membeli Bank Mutiara dengan harga mahal Rp 6,7 triliun. Yawadwipa Companies bahkan mengaku sudah mengajukan tawaran resmi melalui Danareksa selaku agen penjual Bank Mutiara.

Dalam salinan suratnya Presiden Direktur Yawadwipa C. Christopher Holm menyampaikan langsung ketertarikannya terhada Bank Mutiara kepada Direktur Utama Danareksa Marciano Herman dan Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Firdaus Djaelani.

Sebelumnya, Direktur Operasional Yawadwipa Companies Prasetyo Singgih menegaskan menyatakan pihaknya memang tengah mengincar Bank Mutiara, dan tak ada misteri apapun meski perusahaan ini baru berdiri 9 Januari 2012. "Tidak ada siapa-siapa di belakang Yawadwipa. Yawadwipa sebagai private equity firm yang menghimpun dana dari dalam dan luar negeri, baik institusi dan individu. Kemudian dana tersebut selanjutnya dikelola oleh sekelompok professional,”terangnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

BTN Perkenalkan Fintech di Pondok Pesantren - Dukung Industri Digital

Dukung pengembangan teknologi digital guna memudahkan layanan transaksi keuangan , PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk dukung pengembangan aplikasi fintech…

Bank Mayapada Raup Dana Rp 1,331 Triliun - Pemegang Saham Serap Rights Issue

NERACA Jakarta –Aksi korporasi PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA) menggelar rights issue dalam penawaran umum terbatas (PUT) XI, sudah…

Bank DKI Raih Penghargaan Top Bank Bidang Fintech

      NERACA   Jakarta - Atas upaya mendorong penerapan transaksi non tunai, Bank DKI memperoleh penghargaan TOP Bank…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Kinerja Positif, Bank DKI Raih Tiga Penghargaan

      NERACA   Jakarta - Catatkan kinerja keuangan positif pada triwulan II 2018, Bank DKI raih tiga penghargaan…

TunaiKita Ekspansi di 159 Kota dan Kabupaten Indonesia

      NERACA   Jakarta - Perusahaan Financial Lending Tunaikita mendukung target pemerintah mencapai finansial inklusi 75 persen di…

CIMB Niaga Bukukan Laba Konsolidasi Rp1,8 Triliun

      NERACA   Jakarta - PT Bank CIMB Niaga Tbk, membukukan perolehan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 1,8…