Yawadwipa Ngebet Ingin Miliki Saham Bumi Plc - Belum Usai Heboh Bank Mutiara

NERACA

Jakarta - Setelah membuat heboh ingin membeli PT Bank Mutiara Tbk (BCIC), Yawadwipa Companies kembali membuat geger. Perusahaan pengelola dana swasta (private equity fund) berniat membeli saham dengan hak suara Bumi Plc.

Kepala Eksekutif Yawadwipa, Cristopher Holm mengatakan, pihaknya telah mengamati berbagai peristiwa yang terkait dengan Bumi Plc dan mengikuti transaksinya yang diumumkan dengan PT Borneo Lumbung Energi & Metals Tbk (BORN) pada November 2011 lalu. "Kami sangat tertarik sebagai investor di sektor sumberdaya alam dan merupakan pendukung kuat (Pak) Samin Tan dan Grup Bakrie di Borneo Lumbung," ujar Holm, melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca, pekan kemarin.

Perusahaan menilai, kolaborasi Grup Bakrie dan Samin Tan akan berdampak positif bagi perkembangan Bumi Plc, sebagai perusahaan investasi sumberdaya global. Dia mengatakan, meski terjadi penurunan harga saham Bumi Plc pasca transaksi tersebut, dirinya tetap percaya sebagian hanya karena penurunan harga komoditas. "Kami mendukung transaksi dengan Bumi dan sangat percaya pada manfaat strategis dari kesepakatan itu, baik dalam jangka menengah maupun jangka panjang," imbuhnya.

Bahkan Holm menegaskan, Yawadwipa sangat mendukung untuk menjadi pemilik Bumi Plc, namun hanya akan melakukannya apabila stabilitas tata kelola terjamin. Bumi Energi & Metal Pte sebelumnya mengusulkan Samin Tan menjadi chairman Bumi Plc menggantikan Indra Bakrie.

Sementara Indra Bakrie diajukan menjadi co-chairman menggantikan posisi Nathaniel Philip Victor James Rothschild. Saat ini, Grup Bakrie dan Samin Tan menjadi pemegang saham mayoritas Bumi Plc sebesar 47,6% dengan hak suara 30% dan Rothschild hanya menguasai 12% saham Bumi Plc.

Nathaniel Rotcshild, yang notabene pendiri Vallar Plc sebelum berubah menjadi Bumi Plc, akan didepak dari struktur organisasi. Bumi Plc adalah perusahaan yang tercatat di Bursa London dan merupakan induk usaha PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) dan PT Bumi Resources Mineral Tbk (BRMS).

Dinilai tinggi

Sebelumnya, Yawadwipa berniat membeli seluruh saham BCIC senilai US$ 750 juta atau Rp 6,75 triliun milik pemerintah melalui PT Danareksa Securities selaku agen penjual bank dahulu bernama Bank Century. Perusahaan ini didirikan oleh mantan Managing Director Bank of America's Merrill Lynch cabang Asia, Chad Holm, dan mantan eksektutif 3i Group Plc, perusahaan private equity terbesar di Inggris, Mark Thornton.

Perusahaan ini dipimpin Kepala Eksekutif Christopher Holm. dia juga akan menjadi komisaris di Komite Investasi Java Fund yang merupakan bagian dari perusahaan. Penyertaan modal perseroan berjumlah US$ 25 juta. Tidak hanya itu, perseroan juga menunjuk Prasetyo Singgih sebagai Direktur Operasi Yawadwipa.

Diketahui, Prasetyo merupakan salah satu Wakil Ketua Kadin. Yawadwipa saat ini masih dalam proses perizinan untuk meluncurkan Java Fund. Setelah mendapat izin, perusahaan membidik dana kelola hingga US$ 1 miliar atau sebesar Rp 9 triliun. Menurut pengamat ekonomi Dradjad Wibowo, akuisisi BCIC oleh Yawadwipa Companies dirasanya tidak lazim.

Pasalnya, untuk perbankan sekelas BCIC ini seharusnya lebih pantas dihargai dibawah Rp 6,7 triliun. “Harga Rp 6,7 triliun itu merupakan harga yang wajar agar tidak merugikan negara,” jelas dia kepada Neraca, beberapa waktu lalu. Dia juga mengatakan, harga itu sesuai dengan bailout yang dilakukan oleh pemerintah ketika menyelamatkan Bank Century, kala itu.

Bahkan mantan anggota DPR ini dengan berani menegaskan jika Yawadwipa belum layak untuk membeli BCIC, sebab, perseroan sangat berani menawar BCIC senilai Rp 6,75 triliun tanpa proses due diligence. “Ibarat mobil, kita perlu mengetahui sparepart-nya. Komposisi mesinnya dan segala macam. Jadi kita perlu mengetahui detail tentang Yawadwipa,” ungkapnya.

Selain itu, Dradjad mengatakan Yawadwipa juga belum memenuhi persyaratan dari Bank Indonesia (BI) dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). “Mereka belum ada pengalaman di dunia perbankan, membelinya harus dana sendiri bukan fund rising serta persyaratan calon pemiliknya juga belum jelas,” tambah dia. [ardi]

BERITA TERKAIT

Hartadinata Pangkas Target Pembukaan Gerai - Kondisi Global Belum Kondusif

NERACA Jakarta – Kemilaunya bisnis emas yang digeluti PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), tidak serta merta membuat ekspansi bisnis perseroan…

Waktu Penundaan Proyek Strategis Belum Bisa Dipastikan

      NERACA   Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution belum bisa memastikan jangka waktu penundaan pembangunan…

Momentum Tepat Saatnya Beli Saham Murah

Kepala kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Jayapura, Kresna Aditya Payokwa menilai, nilai tukar rupiah yang sedang melemah sekarang ini…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

The Duck King Patok IPO Rp 505 Per Saham

NERACA Jakarta – Emiten pengelola jaringan restoran The Duck King, PT Jaya Bersama Indo Tbk (JBI). menetapkan harga saham dalam…

BEI Suspensi Saham PT Mahaka Media Tbk

Selang setelah masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) atau masuk UMA, saham PT Mahaka Media Tbk (ABBA) akhirnya…

Lunasi Obligasi Jatuh Tempo - Pefindo Naikkan Peringkat Antam Jadi A-

NERACA Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menaikan peringkat PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan Obligasi I (2011) menjadi…