PDB/Kapita dan Pemerataan

Oleh: Prof. Firmanzah Ph.D

Guru Besar Fakultas Ekonomi UI

Baru-baru ini Biro Pusat Statistik (BPS) mempublikasikan produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia pada 2011 mencapai US$ 3.542,9 atau setara Rp 30,8 juta. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2010) angka ini tumbuh sebesar 13,8%.

Peningkatan ini lebih besar lagi apabila dibandingkan dengan tahun 2009 dimana PDB/kapita Indonesia masih di kisaran US$ 2.349,8 atau ± Rp. 23.9 juta. Peningkatan PDB/kapita akan tergantung dari peningkatan PDB dan laju pertumbuhan penduduk Indonesia.

Indikator ini digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan ataupun daya beli (purchasing power parity) suatu negara. Suatu negara yang memiliki PDB/Kapita lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain berarti negara itu dikategorikan lebih sejahtera. Atau apabila terdapat kenaikan dibandingkan dengan periode sebelumnya, maka kesejahteraan negara tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Bagi Indonesia, kenaikan PDB/Kapita juga mengakibatkan jumlah kelas menengah yang semakin besar. Dimana menurut Bank Dunia terdapat 134 juta jiwa orang Indonesia yang memiliki pengeluaran antara US$ 2-US$10/hari.

Tantangan struktural bagi setiap negara berkembang dan memiliki laju pertumbuhan ekonomi relatif tinggi adalah persoalan pemerataan pembangunan ekonomi. Peningkatan PDB/Kapita dan laju kelas menengah Indonesia perlu diimbangi oleh kebijakan pola pemerataan pembangunan ekonomi baik sektoral, spasial dan kelompok masyarakat berdasarkan pendapatan/pengeluaran. Sejumlah data, misalnya data spasial, menunjukkan konsentrasi industri dan investasi (penanaman modal) yang sangat tinggi di pulau Jawa dan Sumatera.

Pola ketimpangan juga tercermin secara sektoral. Dimana industri pertanian yang menyerap hampir 38,3% tenaga kerja di tahun 2010 hanya berkontribusi sebesar 2,.9% dari pertumbuhan PDB nasional. Sementara industri telekomunikasi dan transportasi yang hanya menyerap 5,2 % tenaga kerja nasional mengontribusikan pertumbuhan PDB sebesar 13,5%.

Berdasarkan kelompok pengeluaran juga menunjukkan besarnya lapisan masyarakat miskin dan hampir miskin di Indonesia. Program nasional untuk pemerataan dan mengurangi ketimpangan akses dan pembangunan ekonomi perlu menjadi salah satu prioritas nasional. Agar pencapaian PDB/Kapita menjadi lebih berkualitas dan dinikmati oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Program pembangunan yang lebih berorientasi pembangunan infrastruktur, capacity-building, dan kewirausahaan bagi kawasan Timur Indonesia dapat mengurangi ketidakmerataan pembangunan secara spasial. Sementara program pembinaan (pendampingan) dan penataan sektor informal dapat membantu para industri dan pedagang kecil dalam peningkatan proses produksi dan akses ke sumber keuangan. Selain itu juga, komitmen nasional bagi industri pertanian akan dapat meningkatkan kesejahteraan bagi mayoritas pekerja Indonesia di sektor ini.

BERITA TERKAIT

Aspek Legalitas dan Pembinaan Jadi Fokus Pengawasan Koperasi

Aspek Legalitas dan Pembinaan Jadi Fokus Pengawasan Koperasi NERACA Mataram - Deputi Pengawasan Kementerian Koperasi dan UKM, Suparno mengatakan aspek…

Menteri LHK Paparkan Kebijakan Moratorium dan Alokasi Hutan untuk Rakyat - Di Forum Asia Pacific Forestry Week, Korsel

Menteri LHK Paparkan Kebijakan Moratorium dan Alokasi Hutan untuk Rakyat Di Forum Asia Pacific Forestry Week, Korsel NERACA Incheon, Korea…

RATAS PERSIAPAN KTT ASEAN DAN KTT G20

Presiden Joko Widodo (tengah) memimpin rapat terbatas persiapan KTT Asean dan KTT G20 di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (19/6/2019). Presiden…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Dana Publik untuk Modal Pembangunan

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Suatu kondisi umum ketika pasar finansial telah tumbuh sedemikian rupa, maka menyerap…

MK = Menang Kalah

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo   Peradilan di Mahkamah Konstitusi telah dimulai dan semua…

Mungkinkan PBI untuk UMKM Dinaikkan?

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Peran Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) seperti Baitut Tamwil Muhammadiyah (BTM) atau Baitulmaal…