Melihat Detail Peluang Sektor Mamin di Era Industri 4.0

NERACA

Jakarta – Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan Industri makanan dan minuman mempunyai peranan penting dalam pembangunan sektor industri terutama kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri non migas, dimana peran subsektor industri makanan dan minuman yang terbesar dari subsektor lainnya yaitu sebesar 34,33% pada tahun 2017.

“Pangsa pasar yang besar ini juga diikuti dengan pertumbuhan yang tinggi pula. Pertumbuhan industri makanan dan minuman pada tahun 2017 mencapai sebesar 9,23%, mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2016 sebesar 8,46%. Hal tersebut menunjukkan bahwa sektor industri makanan dan minuman mempunyai peran yang cukup besar dalam pertumbuhan ekonomi di Indonesia,” ungkap Airlangga saat acara Seminar dengan tema”Strategi dan Inovasi Sektor Pangan, Menjawab Tantangan Era Industri 4.0”. di Jakarta, Rabu (21/3).

Menperin mengatakan dilihat dari sumbangan nilai ekspor produk makanan dan minuman termasuk minyak kelapa sawit pada tahun 2017 yang mencapai US$ 31,7 Miliar, mengalami neraca perdagangan yang positif bila dibandingkan dengan impor produk makanan dan minuman pada periode yang sama sebesar US$ 9,6 Miliar. “Di samping itu dapat dilihat dari perkembangan realisasi investasi sektor industri makanan dan minuman pada tahun 2017 sebesar Rp. 38,54 Triliun untuk PMDN dan PMA sebesar US$ 1,97 Miliar,” tukasnya.

Airlangga juga mengungkapkan saat ini industri-industri di dunia tengah memasuki era baru, era industri 4.0 yang mengacu pada peningkatan otomatisasi, machine-to-machine dan komunikasi human-to-machine, artificial intelligence, serta pengembangan teknologi berkelanjutan.

“Revolusi Industri 4.0 merupakan upaya transformasi menuju perbaikan dengan mengintegrasikan dunia online dan lini produksi di industri, di mana semua proses produksi berjalan dengan internet sebagai penopang utama. Penerapan industri 4.0 di Indonesia diharapkan antara lain dapat meningkatkan produktivitas dan inovasi, mengurangi biaya produksi serta meningkatkan ekspor produk dalam negeri,” ujarnya.

Dalam rangka percepatan implementasi industri 4.0, Kementerian Perindustrian mendorong lima industri prioritas yaitu Industri Makanan dan Minuman, Kimia, Tekstil, Elektronika dan Otomotif. Penentuan Industri-industri tersebut berdasarkan besarnya kontribusi terhadap PDB, nilai ekspor serta jumlah penyerapan tenaga kerja, sehingga dengan mendorong ke-lima industri tersebut diharapkan memberikan dampak yang besar bagi pertumbuhan industri.

Kementerian Perindustrian terus mendorong kesiapan industri nasional menghadapi babak Industri 4.0 dengan berbagai upaya, yaitu Pemberian insentif kepada pelaku usaha padat karya berupa infrastruktur industri, Kolaborasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam optimalisasi bandwidth, Penyediaan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINAS) yang memudahkan integrasi data untuk membangun industri elektronik, Penyiapan SDM industri melalui pendidikan vokasi yang mengarah pada high skill (engineer) serta meningkatkan keterampilan SDM industri yang dominan low/middle ke level high skill.

Kementerian Perindustrian juga tengah mensosialisasikan peta jalan dan rencana strategis implementasi sistem Industri 4.0 pada sektor industri nasional untuk beberapa tahun ke depan, baik jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang, sehingga Indonesia mampu masuk menjadi 10 negara ekonomi terbesar di dunia melalui penerapan industri 4.0.

Sebelumnya, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Ngakan Timur Antara mengatakan implementasi Industry 4.0 diyakini akan membawa peluang besar untuk merevitalisasi sektor manufaktur dan menjadi akselerator dalam mencapai visi Indonesia menjadi 10 besar ekonomi dunia pada tahun 2030.

"Jadi, akan meningkatkan produktivitas industri kita dan dapat menciptakan lapangan kerja baru yang lebih bernilai tambah tinggi sebagai dasar dari fondasi pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa datang," tuturnya.

Ngakan menegaskan, penerapan Industry 4.0 dinilai dapat menghasilkan peluang pekerjaan baru yang lebih spesifik, terutama yang membutuhkan kompetensi tinggi. Untuk itu, dibutuhkan transformasi keterampilan bagi SDM industri di Indonesia yang mengarah kepada bidang teknologi informasi.

"Studi yang dilakukan terhadap industri yang ada di Jerman menunjukkan bahwa permintaan tenaga kerja akan meningkat secara signifikan hingga 96%, khususnya di bagian riset dan pengembangan serta pengembangan software," ungkapnya.

Ia menambahkan bawa akan terjadi pergeseran pekerjaan karena penerapan Industry 4.0. Pekerjaan nanti tidak hanya di manufaktur saja, namun juga akan berkembang ke supply chain, logistik, serta riset dan pengembangan. "Selain itu, yang di sektor manufaktur juga perlu rescaling atau up-scaling untuk memenuhi kebutuhan," ujarnya.

Dengan penggunaan teknologi terkini dan berbasis internet, menurut Ngakan, muncul pula permintaan jenis pekerjaan baru yang cukup banyak, seperti pengelola dan analis data digital, serta profesi yang dapat mengoperasikan teknologi robot untuk proses produksi di industri. Bahkan, kata dia, ada beberapa potensi keuntungan yang dihasilkan sebagai dampak penerapan konsep Industry 4.0.

BERITA TERKAIT

Keterampilan Tenaga Kerja di Sektor Industri Terus Dipacu

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian sedang gencar memacu keterampilan atau kemampuan dari tenaga kerja industri di Indonesia sesuai kebutuhan era…

BTN Pacu Pembiayaan Perumahan Sektor Non Formal

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) terus memacu pembiayaan perumahan di sektor non formal dengan memfasilitasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR)…

Menilai Kemampuan Industri di Era Digital, Kemenperin Siap Luncurkan INDI 4.0

Menilai Kemampuan Industri di Era Digital, Kemenperin Siap Luncurkan INDI 4.0 NERACA Jakarta -Kementerian Perindustrian (Kemenperin) akan meluncurkan indikator penilaian…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Rendahnya Produktivitas Tebu Picu Tingginya Harga Gula

NERACA Jakarta – Rendahnya produktivitas tebu dapat dilakukan untuk menekan impor gula. Saat ini, harga gula lokal tiga kali lebih…

Keterampilan Tenaga Kerja di Sektor Industri Terus Dipacu

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian sedang gencar memacu keterampilan atau kemampuan dari tenaga kerja industri di Indonesia sesuai kebutuhan era…

Pendidikan Vokasi Industri Wilayah Sulawesi Diluncurkan

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian kembali meluncurkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan…