Investor Antisipasi Kebijakan Moneter The Fed - Aksi Ambil Untung di Pasar

NERACA

Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menilai penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir ini disebabkan antisipasi investor terhadap kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed).”Penurunan IHSG tidak sendiri, bursa negara lain juga mengalami penurunan. Ini karena ada ketidakpastian kebijakan yang ditunggu oleh investor terutama dari Amerika Serikat," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Samsul Hidayat di Jakarta, Selasa (20/3).

The Fed, lanjut Samsul Hidayat, memang tidak mudah untuk memutuskan suku bunganya agar aktivitas ekonomi tetap terkendali. Jika suku bunga dinaikkan terlalu tinggi maka aktivitas usaha di AS akan terganggu yang akhirnya menahan pertumbuhan ekonominya.”Kalau suku bunga naik terlalu tinggi maka pengusaha di sana akan menjerit. Nah, kalau pengusaha menjerit mereka tidak efisien. Kalau tidak efisien maka AS tidak bisa menghasilkan tingkat perekonomian yang kompetitif dengan negara lain," ujarnya.

Menurut Samsul Hidayat, sentimen The Fed tidak akan terlalu berpengaruh terhadap pergerakan IHSG secara jangka panjang. Investor, terutama asing masih menilai Indonesia sebagai tempat tujuan investasi.”Mereka punya kalkulasi sendiri. Sementara dana asing yang keluar dalam beberapa hari terakhir ini merupakan realisasi keuntungannya. Artinya, modal awalnya tetap ada disini," katanya.

Berdasarkan data BEI, sejak awal tahun hingga 19 Maret 2018 investor asing membukukan jual bersih atau "foreign net sell" sebesar Rp18,40 triliun. Sementara IHSG BEI, Selasa (20/3) ditutup melemah 45,99 poin atau 0,73% menjadi 6.243,57, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 8,89 poin (0,86%) menjadi 1.027,22.”Pelemahan IHSG bukan berarti kondisi Indonesia tidak bagus, karena memang investor melihat ada kesempatan investasi di luar," ujar Vice President Research Artha Sekuritas, Frederik Rasali.

Menurut dia, keluarnya investor dari pasar saham domestik karena adanya potensi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, situasi itu membuat investor menilai imbal hasil investasi di Amerika Serikat menjadi lebih menarik dibandingkan negara lain, termasuk Indonesia.”Jadi, sifatnya hanya sementara, setelah ada keputusan The Fed investor akan kembali mengincar Indonesia," katanya.

Dia juga mengatakan bahwa pelemahan IHSG relatif masih wajar mengingat sejak 2017 hingga awal 2018 berada dalam tren kenaikan dalam waktu cukup panjang, bahkan hingga menembus rekor tertinggi barunnya. Ke depan, dirinya memproyeksikan, IHSG masih berpotensi untuk kembali menguat didorong sentimen meningkatnya konsumsi di dalam negeri menyusul pelaksanaan pemilihan umum (Pemilu) pada 2019 mendatang.”Pemilu akan mendorong konsumsi naik, di saat itu kesempatan investasi di ekuiti lebih baik," ujarnya.

Sementara itu tercatat frekuensi perdagangan sebanyak 361.648 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 10,820 miliar lembar saham senilai Rp8,199 triliun. Sebanyak 113 saham naik, 243 saham menurun, dan 114 saham tidak bergerak nilainya atau stagnan. Bursa regional, di antaranya indeks bursa Nikkei ditutup turun 99,93 poin (0,47%) ke 21.380,97, indeks Hang Seng menguat 36,17 poin (0,11%) ke 31.549,93 dan Straits Times menguat 15,02 poin (0,43%) ke posisi 3.513,31.

Kemudian pada pembukaan perdagangan, IHSG dibuka melemah sebesar 27,20 poin atau 0,43% ke posisi 6.262,37. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak turun 6,38 poin (0,62%) menjadi 1.029,73. Vice President Research and Analysis Valbury Asia Securities, Nico Omer Jonckheere mengatakan bahwa minimnya insentif positif di pasar keuangan kembali membayangi pergerakan saham global, termasuk IHSG.

BERITA TERKAIT

Potensi Global US$88 Miliar, Ekspor Komponen Pesawat akan Dipacu - Kebijakan Publik

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong peningkatan daya saing industri nasional agar mampu menghasilkan produk yang berkualitas sehingga kompetitif…

Pengamat: Kebijakan HAM di Indonesia Masih Normatif

Pengamat: Kebijakan HAM di Indonesia Masih Normatif NERACA Jakarta - Pengamat hukum pidana Universitas Bung Karno Azmi Syahputra menilai kebijakan…

BEI Beri Edukasi Finalis Aban None Jakarta - Dorong Antusiasme Investor Muda

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan investor pasar modal dari kalangan anak muda terus dilakukan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BRPT Siapkan Belanja Modal US$ 1,19 Miliar

Dalam rangka meningkatkan kapasitas produksi pabrik petrokimia sebesar 900 ribu ton menjadi 4,2 juta ton per tahun, PT Barito Pacific…

Gandeng Binar Academy - Telkomsel Edukasi Digital Anak Muda di Timur

NERACA Jakarta - Dalam rangka pemerataan dan menggejot partisipasi anak muda di kawasan Timur Indonesia dalam kompetisi The NextDev, Telkomsel…

Juli, Fast Food Baru Buka 6 Gerai Baru

Ekspansi bisnis PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) dalam membuka gerai baru terus agresif. Tercatat hingga Juli 2018, emiten restoran…