PPK Kemayoran Terus Upayakan Revitalisasi Hutan dan Rawa - Hari Air Sedunia

NERACA Jakarta - Hari air sedunia diperingati setiap tanggal 22 Maret. Hari dimana manusia secara kolektif sebaiknya melakukan refleksi kembali terhadap pentingnya air bagi kehidupan. Tradisi peringatan hari air ini diawali pada 1992. Melalui sidang umum PBB di Rio de Janeiro Brasil, para pemimpin dunia berinisiatif untuk menarik perhatian publik akan pentingnya air bersih dan usaha penyadaran untuk pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan. Di tahun 2018 ini, lewat tema Nature-based Solutions for Waters (Solusi Berbasis Alam Untuk Perairan) yang dicetuskan oleh UN water. Sebuah badan yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan peringatan hari air sedunia, diharapkan masyarakat dunia terus berkontribusi untuk turut serta menjaga pengelolaan air bersih berbasis alam dalam setiap pembangunan yang ada. Hal ini selaras dengan kondisi yang terjadi di Ibukota. Menghadapi laju pembangunan di Ibu Kota khususnya Kemayoran, saat ini tampak nyata bahwa kota Jakarta semakin tertutup oleh betonisasi. Kondisi yang sejalan dengan fakta akan sulitnya akses air bersih di Ibukota.Kondisi sulitnya air bersih terjadi karena saat ini provinsi DKI Jakarta diperkirakan hanya memiliki ruang terbuka hijau (RTH) sebagai sarana resapan air dikisaran 9-10%, sedangkan menurut UU No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, setiap kota di Indonesia diwajibkan memiliki RTH publik seluas 30%. Guna mendukung pemenuhan kebutuhan air melalui ruang terbuka hijau, Kementerian Sekretariat Negara RI lewat Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran, berinisiatif untuk berupaya merevitalisasi hutan kota, waduk dan rawanya yang selama ini kurang terawat. "Luas komplek Kemayoran secara kesuluruhan yaitu 454 Ha, sedangkan luas hijau di Kemayoran saat ini mencapai 161.99 Ha. Sehingga rasio ruang hijau di komplek Kemayoran sebesar 35.68%. Sedangkan luas waduk dan rawa penampung air yang terintegrasi dengan hutan kota seluas 13,7 Ha," kata Direktur Perencanaan dan Pembangunan Pusat Pengelolaan Komplek Kemayoran Riski Renando dalam keterangannya, Rabu (21/3). Masalah yang dihadapi sebelum dilaksanakannya revitalisasi ini, kata Riski, mengacu kepada perilaku masyarakat sekitar yang menjadikan waduk dan rawa tempat pembuangan sampah dan limbah, permukaan air yang ditutupi oleh tanaman liar eceng gondok dan kangkung air serta sedimentasi lumpur. Hal ini kemudian menimbulkan berbagai masalah antara lain. Pertama, pendangkalan berakibat pada berkurangnya daya tampung debit air yang masuk ke dalam waduk dan rawa di Hutan Kota Kemayoran. Kedua, berkurangnya jenis unggas yang datang dikarenakan permukaan air yang tertutup karena pasokan makanan mereka berasal dari ikan-ikan di waduk dan rawa tersebut. Pekerjaan revitalisasi hutan kota, waduk dan rawa Kemayoran dilakukan bekerjasama dengan Dinas Tata Air Provinsi DKI Jakarta dengan menetapkan konsep pengembangan terintegrasi yang memadukan kegiatan pemeliharaan lingkungan secara partisipatif dengan mengajak masyarakat setempat. Konsep itu diberi judul “3 Wonderful Journey” terdiri dari jalur hutan (forest trail), taman bermain air (water playground) dan ekspedisi mangrove (mangrove expedition). Untuk memperkuat karakter Hutan atau Forest trail, waduk dan rawa akan dibangun Pemanfaatan potensi badan air yang merupakan komponen terbesar di Hutan Kota akan diaplikasikan melalui water playground dengan fitur constructed wetland, olahraga air (memancing,bermain kano), serta area bermain air untuk anak. Dari segi ekologi, konsep ini mengkonservasi potensi alami rawa sebagai area Mangrove expedition yang akan dilengkapi dengan jembatan di tengah hutan mangrove (mangrove trail). Pengerukan lumpur ditujukan sebagai upaya penanggulangan pendangkalan waduk dan rawa akibat pengendapan. Untuk itu, PPK Kemayoran bermitra dengan Pemda DKI Jakarta dan pekerjaan tersebut mengedepankan inovasi ramah lingkungan yaitu reduce, reuse, recycle yang bermakna bahwa lumpur yang dikeruk dimanfaatkan untuk mendesain pulau-pulau kecil di sekitar rawa yang nantinya ditanami beragam tanaman. Selain pengerukan juga telah dilakukan pula pembersihan badan air dari invasi tanaman eceng gondok. Kegiatan pengerukan dan pembersihan badan air telah menjadikan permukaan air di kawasan hutan kota makin bersih yang diharapkan mendukung ekosistem flora dan fauna disekitarnya. Beragam jenis bentuk pembangunan bebasis alam yang dilakukan lewat Revitalisasi Hutan Kota tersebut secara langsung menjadi bukti nyata langkah yang diambil PPK Kemayoran dalam memaknai pentingnya ruang terbuka hijau sebagai sumber air bersih. Di hari air sedunia ini PPK Kemayoran menginginkan agar pembangunan ekologis lewat Revitalisasi Hutan Kota bisa menjadi sebuah pengharapan. Bukan hanya untuk ketersediaan air namun juga tempat dan lingkungan hijau yang layak bagi generasi masa depan.

BERITA TERKAIT

Performance Saham BFIN Terus Merosot - Kasus Sengketa Kepemilikan

NERACA Jakarta - Kinerja saham PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) tercatat terus merosot seiring kasus sengketa kepemilikan saham. Hal…

Kemerdekaan, Ketergantungan, dan Sistem Ekonomi

  Oleh: Muhammad Ihza Azizi Aktivis Literasi Ekonomi   Sudah 73 tahun Republik ini memproklamasikan diri sebagai negara merdeka. Sudah…

Indonesia Sejajar dengan Eropa Soal Pengawasan Obat dan Makanan

Indonesia Sejajar dengan Eropa Soal Pengawasan Obat dan Makanan  NERACA Jakarta - Pemerintah Palestina optimistis Indonesia dapat sejajar dengan negara-negara…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tarik Investor Dengan Insentif Perpajakan

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati akan memperkuat insentif perpajakan guna pendalaman pasar keuangan…

Sejak Revisi PMK, Delapan Perusahaan Terima Tax Holiday

    NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan sebanyak delapan perusahaan atau wajib pajak sudah menerima…

Bantu Petelur, Pemerintah Cari Bahan Baku Pakan

    NERACA   Blitar - Pemerintah Kabupaten Blitar, Jawa Timur dan Direktorat Jenderal (Ditjen) Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH)…