Investasi Saham Lebih Seksi dari Obligasi Pemerintah - Catatkan Imbal Hasil Tumbuh 11,59%

NERACA

Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat rata-rata tingkat imbal hasil investasi di pasar saham dalam beberapa tahun terakhir masih lebih tinggi dibandingkan produk investasi lainnya seperti surat utang pemerintah, emas, dan deposito. Disebutkan, dalam rentang waktu 2016 hingga 15 Maret 2018, imbal hasil investasi indeks harga saham gabungan (IHSG) sudah mencapai 11,59%. Informasi tersebut disampaikan BEI dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Asal tahu saja, rata-rata keuntungan yang didapatkan investor dari investasi produk emas sejak 2014 hingga 15 Maret 2018 sebesar 7,65%. Rerata imbal hasil surat utang pemerintah di periode yang sama sebesar 7,21%, dan keuntungan dari rata-rata bunga deposito sejak 2014 adalah 6%. Apalagi saat ini pasar modal semakin berperan penting terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pasar modal juga saat ini semakin mampu menjawab kebutuhan investor akan keamanan dalam berinvestasi, dengan modal awal investasi yang sudah semakin terjangkau bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia.

Selain sebagai wahana investasi bagi masyarakat, peran pasar modal lainnya adalah sebagai sarana bagi perusahaan untuk memperoleh dana dari investor lewat rights issue, IPO ataupun penerbitan obligasi setiap tahunnya. Salah satu obligasi korporasi yang diterbitkan dan telah dicatatkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pecan kemarin adalah obligasi berkelanjutan II Bank Maybank Indonesia tahap II tahun 2018 yang dicatatkan Jumat (16/3) dengan nilai emisi Rp645,5 miliar. Dengan pencatatan tersebut maka total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat di sepanjang tahun 2018 adalah 11 emisi dari 10 emiten senilai Rp21,89 triliun.

Total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 355 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp402,55 triliun dan US$ 47,5 juta yang diterbitkan oleh 114 emiten. Sebanyak 91 seri Surat Berharga Negara (SBN) telah tercatat di BEI dengan nilai nominal Rp2.148,26 triliun dan US$ 200 juta, serta 10 emisi Efek Beragun Aset senilai Rp9,93 triliun. Rata-rata nilai transaksi harian di BEI pada sepekan terakhir mengalami kenaikan 10,28 persen menjadi Rp8,9 triliun dari Rp8,07 triliun pada pekan lalu.

Sementara rata-rata volume transaksi harian pada perdagangan periode 12 hingga 16 Maret 2018 meningkat 8,65 persen menjadi 11,05 miliar unit saham dari 10,17 miliar unit saham sepekan sebelumnya, dan rerata frekuensi transaksi harian BEI pada pekan ini mengalami perubahan 7,66 persen menjadi 371,39 ribu kali transaksi dari 402,23 ribu kali transaksi pada pekan lalu. Kemudian laju IHSG pada pekan kemarin tercatat mengalami perubahan 1,99 persen menjadi 6.304,95 poin dari 6.433,32 poin pada pekan lalu. Nilai kapitalisasi pasar BEI tercatat berubah 1,99% menjadi Rp7.014,24 triliun dari Rp7.156,91 triliun sepekan sebelumnya.

Investor asing melakukan akumulasi jual bersih sebesar Rp2,85 triliun pada sepekan terakhir. Sepanjang tahun ini investor asing melakukan jual bersih dengan total Rp17,29 triliun. Mengakhiri perdagangan saham akhir pekan kemarin, IHSG ditutup melemah 16,95 poin atau 0,26% menjadi 6.304,95, sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 2,14 poin (0,21 persen) menjadi 1.037,28.

Kata analis Kresna Sekuritas, Robertus Yanuar Hardi, data neraca perdagangan Indonesia yang mencatatkan defisit serta antisipasi investor terhadap terbukanya peluang bagi The Fed untuk menaikkan suku bunganya menjadi faktor yang memicu investor masih melakukan aksi lepas.”Situasi itu cukup menjadi alasan bagi investor untuk melepas saham," ujarnya.

Dirinya mengharapkan bahwa Bank Indonesia mempunyai kebijakan untuk mengantisipasi sentimen kenaikan suku bunga The Fed, sehingga dapat menjaga fluktuasi IHSG untuk kembali masuk dalam tren penguatan.

Dia menambahkan bahwa sentimen selanjutnya mengenai pembagian dividen oleh emiten setelah pengumuman laporan keuangan tahun buku 2017 juga diharapkan dapat mendorong investor kembali melakukan akumulasi.”Pada April mendatang biasanya muncul sentimen pembagian dividen," ucapnya.

BERITA TERKAIT

Mengantisipasi Hasil Pertemuan IMF Bank Dunia di Bali

  Oleh: Prof Dr. Umar Basalim, Guru Besar Universitas Nasional Seperti pernah saya tulis di rubrik ini terkait dengan IMF/World…

Obligasi Masih Ramai di Sisa Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Meskipun dihantui sentimen kenaikan suku bunga, potensi pasar obligasi dalam negeri hingga akhir tahun masih positif. “Dengan…

CIMB Niaga Rilis Obligasi Rp 1,012 Triliun

Danai ekspansi bisnisnya, PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) telah menetapkan bunga tiga seri obligasi senilai Rp1,012 triliun. Dengan demikian,…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Transaksi Saham di NTB Tetap Tumbuh

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Mataram, Nusa Tenggara Barat, I Gusti Bagus Ngurah Putra Sandiana menyatakan, transaksi pembelian saham…

Tawarkan Harga Rp 190-230 Persaham - HK Metals Bidik Dana IPO Rp 337,33 Miliar

NERACA Jakarta -PT HK Metals Utama menawarkan harga saham perdana antara Rp 190-230 per saham. Nantinya, dana  hasil IPO akan…

Siapkan Sanksi Tegas - BEI Ingatkan Soal Aturan Free Float Saham

NERACA Jakarta - Meskipun meleset dari target, pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mengingatkan emiten untuk memenuhi kewajiban aturan…