Ekonom: Penetrasi Impor Terlalu Besar Penyebab Defisit

NERACA

Jakarta-Ekonom UI Faisal Basri menilai penetrasi impor saat ini terlalu jor-joran atau terlampau besar menjadi penyebab neraca perdagangan Indonesia dalam tiga bulan berturut-turut mengalami defisit.

Menurut dia, sejak Desember 2017 neraca dagang Indonesia mengalami defisit, terutama disebabkan oleh defisit transaksi dagang nonmigas. Hal ini karena impor yang dilakukan pemerintah terlalu besar-besaran. "Transaksi dagang kita ekspor impor barang kembali di zona negatif. Paling besar defisit di Januari kemarin, tapi berlanjut di Februari. Defisit itu dari nonmigas kontributor utamanya. Kalau kita lihat, defisit itu terutama karena penetrasi impor yang semakin besar," ujarnya dalam sebuah diskusi di Jakarta, akhir pekan lalu.

Faisal mengatakan, hampir semua jenis makanan dan minuman dari negara-negara seperti Taiwan, Korea, Malaysia, Singapura, dan Thailand masuk ke Indonesia. Sementara di sisi lain, industri nasional semakin melempem perkembangannya.

"Dengan mudah kita menyaksikan, pada satu acara di kementerian disajikan buah empat jenis, empat-empatnya impor. Dan industri kita semakin tidak berkembang pesat. Sehingga hampir semua jenis makanan-minuman, masuk ke kita dari Taiwan, Korea, Malaysia, Singapura, Thailand yang sebetulnya modalnya cuma air dan gula," ujarnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis realisasi impor pada periode Februari 2018 mencapai US$14,21 miliar. Realisasi ini meningkat cukup tajam atau sekitar 25,18% dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Faisal mengritik pemerintah yang kerap menjadikan kondisi ekonomi global sebagai kambing hitam atas melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Padahal, menurut dia, merosotnya nilai tukar rupiah disebabkan karena defisit yang terjadi terhadap neraca perdagangan Indonesia.

Dia mengatakan, Indonesia telah tiga bulan berturut-turut menghadapi defisit neraca perdagangan. Padahal sebelumnya, neraca perdagangan lebih sering surplus ketimbang defisit. "Desember, Januari, Februari neraca perdagangan kita defisit. Kalau kita buka website Bank Indonesia, ini dibilang pertanda positif karena impor yang meningkat menandakan ekonomi yang bergairah. Jadi ada saja kilahnya. Padahal kita selama ini lebih banyak positifnya," ujarnya.

Menurut dia, saat ini Indonesia menghadapi defisit perdagangan di tiga sektor (tripple deficit), yaitu di sektor manufaktur, makanan dan minuman (mamin), dan migas. Jadi, dia menganggap bahwa keoknya mata uang Garuda sangatlah wajar. "Kita tekor di manufaktur, tekor di food, terus kita juga defisit di migas. Jadi wajar kan kalau rupiah melemah," uajrnya.

Faisal tidak menampik, kondisi perekonomian global saat ini memang tidak dalam kondisi yang baik. Namun, tidak semua negara menghadapi pelemahan nilai tukar. "Kata pemerintah fundamental bagus, ini (pelemahan rupiah) karena faktor luar. Betul semua dipicu oleh faktor luar, hampir semua dipicu oleh faktor luar. Sama seperti kita sama-sama dengan di luar sana menghadapi lingkungan yang kotor banyak virus, tapi tidak semua sakit. Tergantung daya tahan tubuh. Jadi jangan nyalahin melulu faktor luar, faktor luar bisa kita tepis kalau punya daya tahan," ujarnya.

Sebelumnya Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengungkapkan, jika dibanding bulan Januari 2018 realisasi impor pada periode ini memang menurun sekitar 7,16%. Namun, jika dibanding Januari 2017 dan Januari 2017 peningkatannya cukup tinggi.

"Nilai impor Februari 2018 US$14,21 miliar. Dibanding impor Februari 2017 yang sebesar US$11,35 miliar mengalami kenaikan signifikan yaitu 25,18%. Sementara dibanding Januari 2018 turun 7,16%. Total impornya masih lebih tinggi dibanding 2016 dan 2017," ujarnya, pekan lalu.

Meski demikian, Kecuk masih berkeyakinan neraca dagang RI dapat kembali surplus. "Saya masih berharap (neraca perdagangan Indonesia bisa surplus sepanjang tahun). Ini kita agak goyang karena kebijakan AS. Tetapi seperti dilihat tadi penurunan komoditas ekspor kita ke AS itu bukan karena komoditas yang diproteksi, tetapi komoditas yang terkait konveksi dan alas kaki," ujarnya.

Dia berharap, negara-negara di dunia tidak melakukan perang dagang (trade war) dengan Amerika Serikat. Sebab, hal ini berimplikasi terhadap aktivitas perdagangan global dan pertumbuhan ekonomi global yang sudah diprediksi akan membaik. Jika seluruh negara di dunia berlomba melakukan proteksi, maka akan berdampak negatif terhadap aktivitas perdagangan global.

Apabila perdagangan global menurun, maka efeknya akan berimbas pada permintaan bahan baku untuk industri yang akan menurun. "Ke depan mudah-mudahan tidak ada perlombaan proteksi antar negara karena kalau itu terjadi memang membahayakan, pedagangan global akan turun. Ketika perdagangan global turun Industrinya juga akan turun, bahan baku akan turun dan tentunya akan berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi global yang sudah diproyeksi membaik," ujarnya. mohar/fba

BERITA TERKAIT

Indonesia Diyakini Masuk Empat Besar Negara Kuat

NERACA Jakarta –Ditengah kekhawatiran pelaku ekonomi akan nilai tukar rupiah yang terus tertekan terhadap dollar AS, pemerintah selalu meredam hal…

Ubah Diversifikasi Tekan Impor

Memotret fluktuasi ekonomi Indonesia saat ini tentu sangat kontras jika dibandingkan era booming harga komoditas pada 2003‐2008, lalu menukik ke…

Nilai Akuisisi Freeport Rp 55 Triliun, Terlalu Mahal?

  NERACA Jakarta-Setelah melalui negosiasi yang alot sekitar 10 bulan, Freepot Mc-Moran akhirnya sepakat mengalihkan 51% saham PT Freeport Indonesia…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Ekonom: Genjot Penerimaan Jika Tak Ada APBN-P

NERACA Pekanbaru - Ekonom Universitas Andalas Prof Elfindri mengingatkan pemerintah terus menggenjot sisi penerimaan agar "tax ratio" meningkat jika tidak…

DI TENGAH ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 - Presiden Minta Koperasi Melek Teknologi

Jakarta-Presiden Jokowi berharap koperasi di Indonesia bisa mendunia. Untuk itu, Presiden minta koperasi di negeri ini mencontoh koperasi terbaik di…

POLEMIK PRODUK SUSU KENTAL MANIS - Pengusaha Wajib Patuhi Regulasi Kemasan Pangan

NERACA Jakarta – Anggota Komisi IX DPR Abidin Fikri mengingatkan perusahaan yang mengeluarkan produk makanan dan minuman untuk benar-benar mematuhi…