Buying Power

Oleh: Fauzi Aziz

Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri

Manusia, orang seorang, sekelompok orang, sebuah bangsa dan bahkan institusi memiliki kekuatan azasi antara lain, yakni buying power. Power ini kita perlukan karena kita perlu pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan dan kebutuhan lain yang bersifat skunder maupun tersier.

Mengapa harus memiliki buying power. Jawabannya sangat sederhana karena segala macam kebutuhan tadi harus dibeli dan dibayar dengan uang. Uang dalam sistem ekonomi sebagai alat pembayaran yang sah dan bahkan uang saat ini menjadi mata dagangan yang ditransaksikan di pasar uang. Oleh sebab itu buying power menjadi niscaya, dan pada dasarnya power itu harus dipunyai semua warga bangsa dan institusi privat maupun institusi negara.

Buying power sudah mendunia dan posisi tawarnya saat ini menentukan dalam menggerakkan perekonomian. Di Indonesia saja memberi kontribusi sekitar 56% per tahun terhadap PDB. Ini terjadi karena separuh penduduk negeri ini sudah menjadi golongan kelas menengah yang belanja hariannya rata-rata USD 2-20.

Tahun 2030, golongan kelas menengah Indonesia diproyeksikan akan membelanjakan pendapatannya mencapai sekitar USD 2,5 triliun, dan di saat yang sama PDB Indonesia diramalkan mencapai USD 5,424 triliun.

Sementara itu, belanja negara melalui APBN tahun 2018 telah mencapai Rp 2.200 triliun lebih. Belum lagi belanja korporasi, jumlahnya bisa lebih besar dari belanja negara. Ada lagi belanja yang melalui APBD yang dikeluarkan oleh 34 provinsi, dan sekitar 500 kabupaten/kota.

Buying power telah menjadi sesuatu yang hidup karena ia berada dalam satu sistem demand driven yang dapat menggerakkan perekonomian suatu negara. Mereka yang masuk dalam jajaran buying power ini memiliki keunikan sendiri yakni dalam pengambilan keputusan untuk membelanjakan sebagian pendapatannya cenderung bersifat independen.

Mereka dapat dikatakan kaya, cerdas dan terkoneksi dengan lingkungan pasar yang mereka pahami dan yakini dapat memuaskan kebutuhannya. Pada dasarnya buying power tidak pernah berpikir, asal barang dan jasa yang akan mereka beli, apakah berasal dari produk buatan dalam negeri maupun barang impor.

Keunikan yang lain adalah bahwa buying power meskipun kekuatannya bisa semakin membesar, tapi tidak serta merta akan secara otomatis akan bisa menggerakkan produksi nasional, karena di pasar ada pilihan barang dan jasa asal impor. Fenomena ini yang menyebabkan produksi nasional mengalami tekanan untuk tumbuh, dan di saat bersamaan terjadi ancaman terjadi defisit neraca transaksi berjalan suatu negara.

Buying power yang begitu independennya yang semakin rasional, cerdas, dan terkoneksi tidak hanya secara physical/offline connection, namun juga terkoneksi secara virtual/online connection dengan market place yang ada di berbagai tempat di dunia secara cepat dan mudah, serta makin mempunyai kebebasan memilah dan memilih produk dan layanan yang mereka butuhkan. Sebab itu, buying power menjadi semakin be globaly, dan use technology, serta makin menyukai proses yang tidak bertele-tele dalam bertransaksi.

BERITA TERKAIT

Begini Ketentuan Power Bank dalam Kabin Pesawat

    NERACA   Jakarta - Ketentuan pengisi daya mandiri atau "power bank" yang diperbolehkan masuk ke dalam kabin pesawat…

"Knowledge is Power" Bangun Kemakmuran

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Judul tersebut dikutip dari kalimat pamungkas yang disampaikan oleh Francis Bacon.…

Emerson Network Power Ganti Nama Jadi Vertiv

Vertiv, sebelumnya bernama Emerson Network Power belum lama ini meresmikan bisnis barunya di Indonesia. Vertiv menggantikan Emerson sebagai mitra terpercaya…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Sawit Korban Perang Dagang

    Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara Peneliti INDEF                 Minyak Kelapa Sawit adalah korban dari kebijakan proteksionisme yang…

Titik Krusial Pembangunan Ekonomi

  Oleh Fauzi Aziz Pemerhati Masalah Ekonomi dan Industri   Para pemimpin dunia paling takut kalau kegiatan ekonomi mengalami pelambatan,…

Jokowi vs Prabowo Lagi?

  Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, MSi Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Solo Sisa waktu menuju pilpres 2019 ternyata iklim sospol…