Rupiah Diperdagangkan di level Rp8.910/USD

NERACA

Jakarta—Dampak penurunan BI rate langsung disambut dengan menguatnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Dari catatan kurs tengah BI rupiah menguat pada level Rp8.910 per USD dengan kisaran perdagangan Rp8.865-Rp8.955 per USD. Penguatan itu menunjukkan pasar Asia bergerak positif dengan kemajuan restrukturisasi utang Yunani yang bersedia memangkas upah sebesar 20 persen. "Rupiah juga menguat dengan kisaran Rp8.890 per USD hari ini," kata Analis Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih di Jakarta,9/2

Sementara analis valuta asing, Rahadyo Anggoro mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak stabil dengan kecenderungan menguat ditopang oleh lelang Surat Utang Negara (SUN) yang positif. Terbukti dari jumlah penyerapan yang sebesar Rp12 triliun. Jumlah tersebut melebihi target yang sebesar Rp8 triliun. "Lelang itu untuk memenuhi pembiayaan APBN," jelas dia.

Rahadyo mengakui nilai tukar rupiah terhadap dolar diprediksi masih bergerak stabil dengan kecenderungan menguat. "Hari ini masih stabil, cenderung menguat di level Rp8.975-9.000 per USD," tambahnya

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali mengalami stagnasi. Investor nampaknya masih wait and see akan tekanan faktor eksternal maupun internal. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu, khususnya di Eropa yang saat ini masih belum kondusif, mata uang rupiah dinilai menjadi pilihan menarik untuk berinvestasi baik jangka panjang maupun jangka pendek. "Hal ini, khususnya Indonesia. Fundamental bagus dibanding dengan beberapa negara di Eropa, Indonesia bagus," paparnya

Dikatakan Rahadyo, ada beberapa negara di Eropa yang saat ini kondisinya minus, seperti misalnya Yunani. Yunani saat ini memang tengah mengajukan dana bailout terkait dengan utang jatuh tempo pada Maret mendatang. "Bukti lain Indonesia masih menarik adalah lelang surat utang hasilnya lima kali lipat dibanding dengan penawarannya," ucapnya

Kemarin, analis valuta asing David Summual mengatakan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih belum banyak bergerak dan mantap di level Rp8.900 per USD. Diakuinya, kondisi eksternal masih menunjukkan ketidakpastian, sedangkan Zona Eropa masih bermasalah khususnya Yunani.

Maret mendatang, Yunani memiliki utang jatuh tempo yang harus segera dilunasi. "Saat ini itu yang menjadi fokus pasar. Yunani sedang mengajukan dana bailout. Apakah disetujui atau tidak. Ini yang menyebabkan fluktuasi," ujarnya.

Mata uang negara lain seperti yen, euro dan dolar terkena imbas dari fluktuasi tersebut. Mata uang negara tersebut rentan terhadap fluktuasi, untungnya rupiah selalu dijaga oleh BI. "Dalam negeri stabil rupiah dijaga oleh BI. Ada gejolak namun sementara. Apalagi, kondisi ekonomi domestik masih bagus," tandasnya. **cahyo

Ditempat terpisah, Kepala Biro Hubungan Masyarakat BI Difi A Johansyah mengatakan, rupiah secara rata-rata melemah 0,28 persen (yoy) menjadi Rp9.060 per USD, namun secara point-to-point menguat sebesar 0,65 persen (yoy) ke level Rp8.990 per USD. "Meningkatnya permintaan valas terkait kebutuhan impor, terutama impor BBM, memberikan tekanan terhadap rupiah," jelasnya

Meskipun demikian, tekanan tersebut dapat diimbangi dengan sentimen positif terkait kenaikan peringkat utang (credit rating) Indonesia. "Untuk menjaga keseimbangan pasar domestik, BI terus memonitor perkembangan nilai tukar rupiah dan memastikan kecukupan likuiditas rupiah dan valas," jelasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Rupiah Melemah 0,24% Masih Dianggap Wajar

      NERACA   Jakarta - Tingkat pelemahan nilai tukar rupiah saat ini yang sebesar -0,24 persen (year to…

Pemerintah Serap Dana Rp8,47 triliun dari Lelang SBSN

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menyerap dana sebesar Rp8,47 triliun dari lelang enam seri Surat Berharga Syariah Negara…

Nilai Tukar Rupiah Rp13.600, BI : Dinamika Normal

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan depresiasi nilai tukar rupiah Kamis, yang menembus level Rp13.600…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Suku Bunga Acuan Diprediksi Naik Kuartal IV

      NERACA   Jakarta - Chief Economist PT Bank UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja memprediksi suku bunga acuan atau…

AAJI Dorong Asuransi Manfaatkan Aplikasi Digital

      NERACA   Bali - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mendorong anggotanya untuk mengoptimalkan pemanfaatan aplikasi teknologi digital…

Bank Mandiri Bidik Pertumbuhan KPR 15%

    NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri Persero Tbk membidik pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dapat mencapai 15…