Bank Diminta Kucurkan Kredit di Pendidikan

NERACA

Jakarta - Presiden Joko Widodo meminta perbankan di Indonesia untuk mengucurkan kredit pendidikan dalam menunjang peningkatan kualitas sumber daya manusia. "Dalam pertemuan dengan perbankan nasional, saya juga sudah menantang perbankan kita untuk mengeluarkan produk kredit pendidikan, atau kalau yang di Amerika biasa mereka namakan 'student loan'," kata Presiden dalam sambutannya saat rapat terbatas mengenai Peningkatan Sumber Daya Manusia Indonesia di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (15/3).

Menurut Presiden, perbankan di Amerika Serikat mengeluarkan jumlah kredit pendidikan tersebut lebih besar dari total pinjaman bagi kartu kredit. Hal itu dinilai Jokowi dapat dicontoh oleh perbankan Indonesia guna memperbaiki taraf pendidikan bangsa. "Ini juga salah satu dalam rangka kita investasi di bidang SDM Indonesia supaya masyarakat bisa, semuanya, mengakses kepada pendidikan kita lewat kredit pendidikan," ujar Jokowi.

Presiden berharap agar rumusan kebijakan peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan dapat rampung pada akhir Maret 2018. "Sehingga betul-betul ada sebuah perubahan besar dari infrastruktur, investasi di bidang infrastruktur, kemudian masuk ke pekerjaan besar yang berikutnya, yaitu investasi di bidang sumber daya manusia," kata Presiden. Pada 2018, pemerintah menambah anggaran untuk pendidikan menjadi 20 persen dari total APBN atau senilai Rp444 triliun. Sementara pada 2017, anggaran tersebut tercatat sebesar Rp426 triliun.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan pihaknya tengah menyiapkan skema produk kredit pendidikan mulai dari bunga yang dikenakan, tempo pembayaran, hingga masa angsurannya. “Sekarang kredit itu [kredit pendidikan] dibungkus dalam kredit tanpa agunan [KTA]. Cuma ini umum, bisa dipakai apa-apa. Nanti mungkin bisa kita buat skema khusus,” ucapnya.

Yang perlu diperhatikan, produk kredit pendidikan ini membutuhkan pertimbangan khusus misalnya bunga yang dikenakan tidak bisa terlalu tinggi karena tujuannya adalah untuk memperluas akses pendidikan kepada masyarakat. Untuk saat ini, Wimboh mengungkapkan OJK akan melakukan pembicaraan dengan industri perbankan terkait proses penilaian (assessment), mitigasi risikonya, dan segi permintaannya.

Kendati demikian, dia memastikan peluncuran produk kredit pendidikan tidak membutuhkan payung hukum atau peraturan karena semua itu akan diserahkan kepada masing-masing perusahaan. “Targetnya [kajian] liat dulu. Secepatnya kajian, ya tahun ini. Enggak ada target dari Presiden, tapi lebih cepat lebih bagus,” tutur Wimboh.

BERITA TERKAIT

Entrepreneur Daring Diminta Manfaatkan Kredit UMKM

    NERACA   Jakarta - Entrepreneur muda yang kini duduk sebagai anggota DPR, Ahmad Sahroni mendorong wirausahawan muda untuk…

Kampus Diminta Gelar Lokakarya Penumbuhan Wirausaha

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin gencar mendorong tumbuhnya wirausaha industri baru karena ikut berperan penting dalam menggerakkan roda perekonomian…

Bank Dunia Minta Pemerintah Dorong Masyarakat Melek Teknologi

    NERACA   Jakarta - Bank Dunia meminta kepada pemerintah Indonesia agar terus mendorong masyarakat untuk melek teknologi (digital…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BJB Diminta Atasi Rentenir

      NERACA   Bandung - Gubernur Jawa Barat M Ridwan Kamil meminta Bank BJB ikut melindungi masyarakat agar…

Mandiri Syariah Tawarkan Solusi Hedging Syariah

  NERACA   Surabaya - Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah) menyediakan solusi mitigasi risiko fluktuasi mata uang melalui produk hedging…

Adira Insurance Hadirkan Asuransi Perjalanan

      NERACA   Jakarta – PT Adira Insurance menyiapkan produk asuransi perjalanan yaitu Travellin. Digital Business Division Head…