Disiapkan, Misi Dagang Selandia Baru dan Taiwan

NERACA

Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) tengah menyiapkan program misi dagang ke Selandia Baru dan Taiwan dalam upaya mempenetrasi pasar tujuan ekspor nontradisional dan meningkatkan ekspor berkelanjutan di kawasan Pasifik dan Asia Timur pada Maret 2018.

Program misi dagang Selandia Baru akan dilaksanakan pada 16-19 Maret 2018 bersamaan dengan Kunjungan Kerja Presiden Joko Widodo. Sedangkan, misi dagang Taiwan dilaksanakan pada 22-25 Maret 2018 dalam rangkaian pameran Indonesia Week.

"Misi dagang Kemendag kali ini akan melakukan penetrasi pasar ke Pasifik dan Asia Timur. Upaya ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden dalam Raker Kemendag 2018 yaitu peningkatan kinerja ekspor," kata Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Arlinda, sebagaimana disalin dari Antara.

Arlinda menambahkan, menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo, pihaknya berupaya meningkatkan akses pasar agar target pertumbuhan ekspor 11 persen bisa tercapai. Dalam misi dagang Selandia Baru, Kemendag memboyong delegasi bisnis yang terdiri atas 23 pelaku usaha dari 16 perusahaan.

Pelaku usaha yang ikut serta ini bergerak di sektor furnitur, makanan dan minuman, produk agro, kopi, kelapa sawit dan turunannya, kertas dan alat tulis, energi, serta jasa tenaga kerja terampil. Selepas Selandia Baru, misi dagang selanjutnya akan dilaksanakan di Taiwan pada 22�25 Maret 2018.

Pada misi dagang ke Taiwan, Kemendag bersinergi dengan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei untuk menyelenggarakan Indonesian Week 2018 di Taiwan World Trade Center, sebuah pusat perdagangan terbesar di Taiwan.

"Misi Dagang dalam rangka Indonesian Week ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden bahwa kegiatan promosi harus dilakukan secara sinergis antara kementerian, lembaga, dan para pemangku kepentingan lainnya. Kegiatan promosi harus menjadi kesatuan sehingga membentuk citra positif bagi Indonesia," imbuh Arlinda.

Indonesian Week 2018 diselenggarakan untuk mempromosikan potensi Indonesia di bidang perdagangan, investasi, tenaga kerja terampil, serta pariwisata. Kemendag melihat kebutuhan sektorsektor tersebut di Taiwan terus tumbuh.

Tren perdagangan bilateral Indonesia dengan Negeri Kiwi dalam periode lima tahun (2012�2016) turun 3,69 persen. Namun, kinerja naik tajam hingga 15,72 persen pada 2017 dibandingkan tahun 2016 menjadi 1,19 miliar dolar AS.

Sementara pada 2017, ekonomi Taiwan tumbuh di atas perkiraan yaitu 2,6 persen yang dimotori sektor perdagangan melalui ekspor dan impor. Impor Taiwan dari dunia tahun 2017 naik signifikan sebesar 12,58 persen.

Produk-produk yang mengalami peningkatan permintaan di antaranya makanan dan minuman, produk perikanan, furnitur, produk agro, kelapa sawit dan turunannya, serta kerajinan.

Di sisi lain, total perdagangan Indonesia-Taiwan pada 2017 mencapai 7,47 miliar dolar AS, meningkat 14,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Surplus bagi Indonesia meningkat 25,65 persen dibandingkan tahun 2016 dengan nilai ekspor Indonesia ke Taiwan sebesar 4,22 miliar dolar AS.

Pemerintah mendorong diversifikasi produk ekspor yang bernilai tambah dan berdaya saing untuk memperkuat pasar produk furnitur Indonesia khususnya di Jepang. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag Arlinda mengatakan bahwa dalam upaya mendorong diversifikasi produk tersebut, pihaknya menggelar seminar Klinik Produk Ekspor "Peningkatan Daya Saing Produk Furnitur di Pasar Jepang" di Surakarta, Jawa Tengah.

"Melalui seminar ini, diharapkan para pelaku usaha Indonesia akan semakin melakukan inovasi untuk meningkatkan kualitas produk-produknya," kata Arlinda.

Arlinda menambahkan, para pelaku usaha juga diharapkan dapat menindaklanjuti hasil komunikasi yang telah dilakukan selama "business matching" sehingga mampu memperluas jaringan pemasaran, baik di dalam negeri maupun mancanegara khususnya ke pasar Jepang.

Seminar Klinik Produk Ekspor merupakan kerja sama Kemendag dengan Japan External Trade Organization (JETRO). Seminar tersebut dilakukan untuk memberikan wawasan dan pengetahuan kepada para pelaku usaha Indonesia dalam meningkatkan kualitas produk yang sesuai dengan selera pasar.

Dalam seminar tersebut juga akan diberikan panduan menentukan strategi pemasaran yang efektif dan prosedur ekspor ke Jepang. Jepang merupakan salah satu negara tujuan ekspor utama bagi produk-produk Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Jepang selama lima tahun terakhir periode 2012-2016 tercatat sebesar 17,23 miliar dolar AS pada 2012.

BERITA TERKAIT

Pemerintahan Baru di Bandung Utara Akan Dibentuk

Pemerintahan Baru di Bandung Utara Akan Dibentuk NERACA Bandung - Gubernur Jawa Barat M. Ridwan Kamil mengatakan akan segera membentuk…

Kemenkop dan OASE Berdayakan Masyarakat di Malaka

Kemenkop dan OASE Berdayakan Masyarakat di Malaka NERACA  Malaka - Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE Kabinet Kerja) bersama…

BEI Pastikan Kondisi Pasar Aman dan Baik - Ditutup Berada di Zona Hijau

NERACA Jakarta – Kembali menyakinkan investor pasar modal untuk tidak melakukan aksi panik jual, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melihat…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Niaga Online - Regulator Terus Dorong Usaha Mikro Terapkan Usaha E-Commerce

NERACA Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengajak pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) turut membangun dan menggerakkan…

RI-Ceko Incar Peningkatan Investasi dan Ekspor di Sektor Industri

NERACA Jakarta – Indonesia dan Ceko tengah menjajaki peluang kerja sama ekonomi khususnya di sektor industri. Potensi kolaborasi kedua negara…

CIPS: Lindungi Petani, Waktu Impor Beras Harus Tepat

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, pemerintah perlu mempertimbangkan waktu impor beras…