Pengusaha Indonesia Didorong Berani Ekspansi Perdagangan - Sektor Bisnis

NERACA

Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mendorong pengusaha Republik Indonesia untuk berani ekspansi ke perdagangan tingkat internasional sebagai upaya mengembangkan sektor kelautan dan perikanan nasional.

"Kita mendorong semua stakeholders yaitu pengusaha-pengusaha nasional untuk go international, agar bisa dikenal masyarakat internasional," kata Susi Pudjiastuti yang disalin dari Antara.

Menteri Susi mengemukakan hal tersebut saat menghadiri pameran teknologi dan produk olahan ikan laut terbesar di Amerika Serikat (AS) Seafood Expo North America (SENA) 2018 dalam kunjungan kerjanya ke Boston, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan tersebut Menteri Susi didampingi Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Nilanto Perbowo, Atase Perdagangan, dan Atase Pertanian KBRI Washington DC.

SENA merupakan pameran rutin tahunan yang menjadi ajang bagi pertemuan produsen dan konsumen produk perikanan, serta industri pengemasan produk perikanan dunia. Diikuti 46 negara dari berbagai belahan dunia, pameran ini diharapkan akan memperluas akses pasar produk perikanan. Indonesia dengan 16 perusahaan perikanan dalam negeri turut berpartisipasi dengan mengusung tema "quali-safe and sustainable".

Menteri Susi optimis, keikutsertaan Indonesia dalam ajang besar ini dapat mendukung pertumbuhan iklim usaha perikanan anak negeri. Hal ini karena pameran tidak hanya diikuti oleh industri besar seafood Amerika Utara, tetapi juga pemain industri perusahaan seafood dunia.

"Mudah-mudahan Indonesia bisa memimpin, menjadi penangkapan ikan yang berkelanjutan. Mudah-mudahan para exhibitor mendapatkan klien, kontrak penjualan yang luar biasa. Hitungan awal kami, potensi transaksi produk perikanan Indonesia sebesar 180 juta dolar AS untuk tiga bulan ke depan," jelasnya.

Pada ajang tersebut, hadir 21 perusahaan nasional Indonesia, termasuk dua BUMN yang bergerak di bidang kelautan yakni Perum Perikanan Indonesia (Peruri) dan PT Perikanan Nusantara (Perinus). Sebagaimana diketahui, kedua BUMN tersebut mengalami peningkatan omzet berkat kebijakan pemberantasan penangkapan ilegal di kawasan perairan Indonesia.

Secara terpisah, para pelaku usaha dalam negeri khususnya yang berorientasi ekspor diminta untuk mempelajari selera pasar negara-negara tujuan ekspor guna memenangkan persaingan yang semakin ketat di pasar global.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Arlinda mengatakan bahwa dalam seminar Klinik Produk Ekspor "Peningkatan Daya Saing Produk Furnitur di Pasar Jepang" di Surakarta, Jawa Tengah, pihaknya memfasilitasi pertemuan bisnis serta konsultasi untuk pelaku usaha.

"Pelaku usaha harus mampu melihat selera pasar tujuan ekspor. Tidak hanya kualitas produk, tetapi kemasan juga berperan penting dalam memenangkan persaingan di pasar," kata Arlinda, dalam keterangan tertulis yang diterima, disalin dari Antara.

Salah satu hal yang paling penting untuk dikuasai pelaku usaha, lanjut Arlinda, adalah penguasaan dan pemanfaatan teknologi dalam menghasilkan produk yang berkualitas supaya produk tersebut diterima oleh konsumen global.

Seminar Klinik Produk Ekspor merupakan kerja sama Kemendag dengan Japan External Trade Organization (JETRO). Seminar tersebut dilakukan untuk memberikan wawasan dan pengetahuan kepada para pelaku usaha Indonesia dalam meningkatkan kualitas produk yang sesuai dengan selera pasar.

Dalam seminar tersebut, salah satu pembicara adalah Chief Executive Officer (CEO) L�epice Takata Kohei yang merupakan perusahaan konsultan desain di Jepang. Dia memaparkan potensi produk furnitur Indonesia di Jepang, serta hal-hal yang harus diperhatikan agar produk Indonesia dapat diterima di pasar Jepang.

Beberapa catatan yang diberikan antara lain adalah standar dan berbagai ketentuan ekspor ke pasar Jepang. Selain itu, dibahas juga hal yang terkait bahan baku dan tren desain furnitur terkini yang saat ini sangat digemari di Jepang.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor nonmigas Indonesia ke Jepang selama lima tahun terakhir periode 2012-2016 tercatat sebesar 17,23 miliar dolar AS pada 2012. Namun pada tahun 2016 mengalami penurunan menjadi 13,21 miliar dolar AS dengan tren penurunan sebesar 7,11 persen. Sedangkan pada 2017 nilai ekspor Indonesia mencapai 14,69 miliar dolar AS atau meningkat 11,25 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, nilai ekspor furnitur Indonesia mengalami tren negatif 10,77 persen selama periode lima tahun terakhir. Pada 2017 mencapai 167,59 juta dolar AS.

BERITA TERKAIT

Pelaku Industri Pariwisata di Bali Didorong IPO

NERACA Denpasar - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mengajak perusahaan lokal di Bali khususnya yang bergerak di sektor pariwisata untuk…

Pemerintah Didorong Turun Tangan Soal Bank Muamalat

  NERACA   Jakarta - Ketua V Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Agustianto Mingka menilai pemerintah perlu turun tangan membantu…

Peta Lahan Pertanian Indonesia Kini Tersedia Secara Daring - Sektor Produksi

NERACA Jakarta – Peta informasi lahan pertanian dalam bentuk peta skala 1:50.000 kini telah tersedia dalam jaringan (daring/online) untuk seluruh…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Kemenperin: Batam Berpotensi Jadi Pusat Klaster Industri Elektronik

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian mendorong Batam menjadi pusat pengembangan klaster industri elektronik yang bernilai tambah tinggi. Upaya ini untuk…

Tingkatkan Ekspor - Difasilitasi, 8 IKM Fesyen Ikut Pameran di Jepang

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berupaya memperkenalkan keindahan budaya Indonesia di kancah internasional melalui pameran produk industri kecil dan…

Prediksi Riset - Persaingan Ritel Konvensional-Daring Menguat

NERACA Jakarta – Konsultan properti Colliers International menyatakan persaingan antara pusat perbelanjaan konvensional dengan sistem perbelanjaan daring melalui internet diperkirakan…