Luncurkan Apiro, Syngenta Investasikan US$300 juta

NERACA

Cikampek - PT Syngenta Indonesia meluncurkan terobosan teknologi herbisida padi yang dinamakan Apiro. Apiro diklaim bisa memaksimalkan produksi padi di Indonesia dan menghindari kehilangan potensi hasil panen hingga 30-40% karena secara efektif bisa mengendalikan banyak jenis gulma bandel dan fleksibel dalam metode aplikasi.

Country Head Syngenta Indonesia, Parveen Kathuria menyampaikan bahwa Syngenta menggelontorkan dana hingga US$1,4 miliar untuk riset dan pengembangan produk. "Apiro merupakan investasi yang cukup signifikan pada teknologi perlindungan tanaman yang dikucurkan oleh Syngenta. Diperlukan investasi US$ 200-300 juta untuk pengembangan sebuah teknologi perlindungan tanaman mulai dari fase pengembangan hingga diluncurkan ke pasar," ungkap Parveen saat peluncuran Apiro di stasiun Syngenta yang berada di Cikampek, Jawa barat, Rabu (14/3).

Parveen menyampaikan Apiro ampuh dalam menangani gulma yang mana kehadirannya tidak diinginkan oleh petani karena sifatnya tumbuh secara liar dan bersifat merugikan tanaman utama. Pada tanaman padi, padi akan berebut nutrisi dan mineral yang terkandung di dalam tanah yang pada akhirnya mengurangi hasil produksi. "Penanggulangan gulma pada tanaman padi yang selama ini dilakukan masih belum optimal dalam menekan kehilangan hasil produksi padi. Untuk itu Syngenta mengembangkan dan meluncurkan terobosan teknologi baru Apiro untuk mengendalikan gulma secara efektif pada tanaman padi," jelasnya.

Lalu, mengapa gulma menjadi momok bagi para petani khususnya padi, karena dalam berbagai riset menyebutkan bahwa gulma berpotensi menyebabkan kehilangan hasil produksi pertanian dunia hingga 30-40%. Selain itu, CropLife Asia menyatakan bahwa Gulma menjadi sumber kerugian ekonomis pertanian sebesar US$75,6 juta setiap tahunnya. Terlebih lagi, pengendalian gulma yang belum optimal menambah potensi kehilangan hasil produksi lebih besar.

Mengacu pada survei yang dilakukan Syngenta di Indonesia yang mana terdapat 30 persen petani di Indonesia mengendalikan gulma dengan cara manual yaitu dengan mencabut pakai tangan, meskipun mereka telah menggunakan produk kimia pertanian. Pengendalian gulma secara manual sangat melelahkan dan memakan banyak biaya oleh karena tenaga kerja pertanian yang semakin sulit dan mahal.

“Teknologi Apiro dikembangkan untuk mengendalikan gulma yang bandel sehingga dapat menekan potensi kehilangan produksi padi sampai dengan 30-40 persen. Hal tersebut diharapkan akan membantu petani dalam proses pengendalian gulma yang efektif dan memaksimalkan hasil produksi, menghemat biaya operasional dengan menghapus praktik kerja keras dalam penyiangan gulma,” pungkasnya,

BERITA TERKAIT

Pasar Ekspor Meningkat - KPAS Tingkatkan Kapasitas Produksi 300%

NERACA Jakarta – Tahun depan, emiten produsen kapas PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) berencana meningkatkan kapasitas produksi sebesar 300% menjadi…

Bangun Bandar Udara di Kediri - Gudang Garam Investasikan Rp 1,77 Triliun

NERACA Jakarta –Emiten produsen rokok, PT Gudang Garam Tbk (GGRM) menyatakan bahwa entitas anak perusahaannya yiatu PT Surya Dhoho Investama…

KPK Luncurkan Panduan Pencegahan Korupsi Dunia Usaha

KPK Luncurkan Panduan Pencegahan Korupsi Dunia Usaha NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meluncurkan buku panduan pencegahan korupsi untuk…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Bappenas Dorong Pembangunan Papua Berbasis Pendekatan Adat

    NERACA   Jakarta - Pendekatan sosiologi-antropologi menjadi faktor penting dalam proses perencanaan pembangunan nasional untuk Tanah Papua. Pendekatan…

Devisa Sektor Pariwisata Selalu Meningkat

    NERACA   Jakarta - Devisa dari sektor pariwisata selama empat tahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo meningkat 202 miliar…

2019, Belanja Pemerintah Pusat Rp1.634 Triliun

    NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan belanja pemerintah pusat pada tahun 2019 akan mencapai…