Lamanya Pengangkatan dan Fit & Proper Test Direksi BUMN

Oleh: Karnoto Mohamad

Pemerintah ingin memperkuat badan usaha milik negara (BUMN) agar perannya dalam perekonomian bisa lebih besar.Holdingisasitelah diyakini pemerintah sebagai langkah cepat untuk mewujudkan keinginan itu, setidaknya bisa menjauhkan BUMN dari intervensi unsur-unsur politik. Namun yang tetap harus menjadi perhatian adalah bahwaleadershipdanmanagementmerupakan faktor nomor satu bagi keberhasilan perusahaan baik BUMN maupun swasta, baik tanpaholdingmaupun denganholding.

Karena itu, kursi direksi perusahaan BUMN maupun holding BUMN harus dipimpin orang-orang terbaik dan berpengalaman. Begitu juga kursi komisaris yang harus diduduki oleh orang yang sangat berpengalaman atau punya keunggulan di bidang tertentu melebihi kemampuan direksinya.

Selama ini, kursi komisaris BUMN masih diwarnai orang-orang dari unsur-unsur politik, baik kader partai politik, pejabat pemerintah, relawan politik hingga pihak-pihak yang merasa berkeringat ikut memenangkan pemilihan presiden. Begitu juga dengan kursi direksi yang juga masih menyimpan pertanyaan publik karena pengangkatannya tidak diputuskan secara cepat, bahkan dibiarkan kosong.

Jika kursi direktur utama (dirut) diisi oleh pelaksana tugas (plt) dirut karena faktor sulitnya kementerian BUMN mendapatkanbusiness leaderterbaik, namun kursi direksi semestinya tidak demikian karena Kementerian BUMN memilikipool of talentyang berasal dari para kepala divisi pilihan dari perusahaan-perusahaan BUMN. Kenyataannya, sejumlah kursi direksi di perusahaan asuransi BUMN seperti Jasa Raharja, Jasindo, dan Jiwasraya, yang dirombak pada Januari-Februari lalu masih belum terisi sampai sekarang.

Di Jasa Raharja, kursi direktur operasional serta direktur SDM dan umum masih belum terisi sejak perombakan direksi karena masa jabatan habis Januari lalu. Di Jiwasraya, direktur bisnis kelembagaan dan direktur teknik masih belum terisi kemudian posisi direktur SDM, umum dan kepatuhan masih dirangkap oleh Mukhamad Zamkhani yang ditugaskan menjadi dirut Januari lalu. Begitu pula di Jasindo, dimana posisi direktur pemasaran korporasi harus dirangkap oleh Untung H Santoso yang Februari lalu diangkat sebagai dirut.

Sama seperti penunjukkan direksi di perusahaan pelat merah oleh Kementerian BUMN sebagaishareholder,kelambatan juga terjadi dalam pelaksanaanfit and proper testpengurus di perusahaan BUMN sektor keuangan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebagian direksi perusahaan BUMN di sektor keuangan yang diangkat sejak empat bulan lalu masih menunggu panggilan OJK untuk pelaksanaanfit and proper test. Secara aturan, direksi apalagi dirut tidak bisa mengambil keputusan di perusahaan apabila belum lulusfit and proper test. Padahal, salah satu tugas utama paraleadersdi perusahaan adalah mengambil keputusan dan mengambil keputusan yang salah masih lebih baik dibandingkan tidak ada keputusan sama sekali.

Kekosongan jabatan atau belum dilaksanakannyafit and proper testbisa menimbulkan risiko operasional di perusahaan BUMN. Kondisi ini tentu menjadi dilema bagi para leaders di perusahaan BUMN adalah ketika tidak punya otoritas untuk mengambil keputusan sementara dia harus mengambil tanggung jawab atas semua risiko yang timbul. Apalagi direksi BUMN yang khusus ditugaskan untuk melakukan perbaikan atau perubahan, maka mereka harus segera mengambil keputusan strategis untuk memperlihatkan tanda-tanda bahwa dia sangat kompeten dan akan berhasil sehingga menciptakantrustkepada seluruhstakeholders.

Jadi, keinginan pemerintah untuk membesarkan peran BUMN melalui holdingisasi harus diikuti dengan kecepatan dalam mengangkat dan menyeleksi para direksi dan komisaris perusahaan BUMN. Kebijakanholdingisasidilihat positif oleh pasar sebagai upaya pemerintah untuk menjauhkan BUMN dari intervensi politik dari senayan. Namun, penunjukan pelaksana tugas (Plt) dirut, belum terisinya sejumlah kursi direksi, dan lamanya pelaksanaanfit and proper testpengurus perusahaan BUMN bisa dilihat miring oleh pasar bahwa BUMN masih terikat oleh kepentingan birokrasi, apalagi hal ini terjadi menjelang tahun politik 2019. (www.infobanknews.com)

BERITA TERKAIT

BUMN Harus Mampu Sebagai Jangkar Kinerja Ekspor

NERACA Jakarta – Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan kontribusi ekspor BUMN mencapai sekitar lima miliar dolar AS tahun ini. PT…

Kemenkop dan OASE Berdayakan Masyarakat di Malaka

Kemenkop dan OASE Berdayakan Masyarakat di Malaka NERACA  Malaka - Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE Kabinet Kerja) bersama…

BEI Pastikan Kondisi Pasar Aman dan Baik - Ditutup Berada di Zona Hijau

NERACA Jakarta – Kembali menyakinkan investor pasar modal untuk tidak melakukan aksi panik jual, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melihat…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Mewaspadai Politisasi Emak-Emak

Oleh : Rika Prasetya, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia     Beberapa pekan yang lalu, media mengulas fenomena…

Selamat Bertanding Secara Beradab Kedua Kubu Koalisi

  Oleh : Doddy Soemintardjo, Pemerhati Kajian Informasi Strategis   Jika tidak ada aral melintang,  dalam waktu dekat akan dilakukan…

Kendalikan Ekspektasi Liar dari Pelemahan Mata Uang

Oleh: Dr. Fithra Faisal Hastiadi MSE., MA., Dosen FEB-UI  Tekanan terhadap rupiah memang cukup banyak. Kondisi internal perekonomian kita juga…