Industri Kaca Nasional Masih Hadapi Hambatan - Glasstec 2018

NERACA

Jakarta – Industri kaca nasional masih dihadapi berbagai macam hambatan sehingga pertumbuhannya tidak terlalu siginifikan. Hal itu seperti dikatakan oleh Yustinus H.Gunawan selaku Ketua Umum Asosiasi Kaca Lembaran dan Pengaman (AKLP) saat konferensi pers pameran kaca Glasstec 2018 di Jakarta, Selasa (13/3).

Yustinus menyampaikan bahwa daya saing industri kaca nasional tergerus oleh beberapa hal. Pertama, soal harga gas yang mana harga gas di Indonesia jauh lebih mahal dibandingkan dengan Malaysia. “Padahal komponen utama dalam produksi kaca adalah gas. Sementara gas nya lebih mahal dibandingkan dengan Malaysia padahal Indonesia salah satu produsen gas terbesar di dunia,” kata Yustinus.

Selain itu juga soal aturan yang diterapkan oleh pemerintah terkait dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Menurut dia, pemberlakukan SNI wajib juga menjadi jadi hambatannya. “Namun kita juga mendorong agar seluruh anggota bisa mengikuti SNI ini untuk bisa bersaing dengan produk impor yang semakin membanjiri pasar Indonesia. Akan tetapi, aturan SNI nya harus jelas, karena banyak sekali macam-macam kaca,” katanya.

Untuk teknologi yang diterapkan, Yustinus mengatakan teknologi akan semakin berkembang sehingga memudahkan para pelaku usaha dalam menjalankan usahanya. Maka dari itu, ia mengajak kepada para pelaku bisnis untuk bisa berkunjung ke Glasstec 2018 untuk mengetahui teknologi terkini sekaligus bisa menemukan rekan bisnis diajang tersebut.

Global Head and Director Messe Dusseldorf GmbH, Birgit Horn mengatakan pameran industri kaca Glasstec 2018 akan digelar yang ke 25 kalinya di Dusseldorf, Jerman pada 23 hingga 26 Oktober 2018. Glasstec merupakan pameran business to businness terbesar untuk industri kaca dunia dengan memamerkan teknoogi, pengembangan produk, berbagi solusi dan pembuatannnya.

“Dunia melihat industri kaca Indonesia cukup disegani karena memiliki pemain global yang mampu bersaing di pasar ekspor. Disamping itu pasar dalam negeri juga cukup besar permintaannya didorong oleh sektor properti dan otomotif. Untuk itulah Messe Dusseldorf mengutamakan untuk bertemu para pelaku industri kaca Indonesia dengan harapan bisa mengambil kesempatan emas untuk bertemu dengan para pelaku industri kaca dunia di ajang Glasstec 2018,” kata Horn.

Dalam pameran sebelumnya atau Glasstec 2016, telah diikuti oleh lebih dari 1.230 peserta yang berasal dari 52 negara dan berhasil menarik pengunjung 40.100 orang dari 121 negara sehingga mengukuhkan Glasstec sebagai pameran dagang terbesar dan terpenting di industri kaca dunia. “Dari jumlah pengunjung tersebut, 86 persen diantaranya adalah orang-orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan di perusahaan mereka,” katanya.

Salah satu yang membedakan Glasstec 2018 dengan gelaran Glasstec sebelumnya adalah dengan adanya dukungan dari pemerintah Jerman melalui Kementerian Ekonomi dan Energi terhadap perusahaah-perusahaan start up. Kepedulian tersebut diwujudkan dengan menghadirkan area pameran khusus perusahaan start up serta pemberian subsidi bagi perusahaan baru Jerman yang bergerak di industri kaca. Perusahaan-perusahaan start up tersebut diberikan kesempatan untuk bertemu dan menjalin hubungan bisnis dengan perusahaan ternama.

Sementara itu, Direktur Wakeni Rini Sumardi mengatakan bahwa pemerintahan Joko Widodo memang tengah fokus dalam pembangunan infrastruktur yang mana industri kaca termasuk di dalamnya sehingga untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri serta meningkatkan kualitas produk kaca yang sudah ada di tanah air diperlukan bahan baku dan teknologi serta proses finishing yang berkualitas.

“Indonesia cukup aktif terlibat dalam ajang Glasstec, namun bukan sebagai peserta melainkan sebagai pengnjung. Tahun 2016 lalu, terdapat hampir 100 orang yang datang ke Jerman untuk melihat pameran tersebut. Ini menjadi kesempatan yang baik bagi pelaku industri kaca nasional untuk melihat perkembangan teknologi industri kaca dan mana yang perlu dan penting untuk diterapkan di Indonesia,” pungkasnya.

BERITA TERKAIT

Realisasi Penyaluran KUR 70,9% - Sampai Agustus 2018

      NERACA   Jakarta - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat jumlah penyaluran KUR hingga 31 Agustus 2018 mencapai…

Fraksi PAN Sukabumi Sesalkan SILPA Masuk di APBD Perubahan 2018

Fraksi PAN Sukabumi Sesalkan SILPA Masuk di APBD Perubahan 2018 NERACA Sukabumi - Fraksi Amanat Nasional (PAN) Kota Sukabumi menyayangkan…

Obligasi Masih Ramai di Sisa Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Meskipun dihantui sentimen kenaikan suku bunga, potensi pasar obligasi dalam negeri hingga akhir tahun masih positif. “Dengan…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Kampanye Negatif Masih Jadi Tantangan Energi Terbarukan

  NERACA   Tangerang - Kampanye negatif berkait isu lingkungan masih menjadi tantangan utama pengembangan pembangkit listrik berbasis energi baru…

WTP Pemda Punya Korelasi Kinerja Pembangunan

  NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan laporan keuangan pemerintah daerah dengan opini wajar tanpa pengecualian (WTP)…

Taiwan Pamerkan Produk Unggulannya di Indonesia - Taiwan Excellence Day

      NERACA   Jakarta – Taiwan External and Trade Development Council (Taitra) menyelenggarakan Taiwan Excellence Day atau pameran…