LPS Rate Idealnya Ikut Turun

NERACA

Jakarta—Penurunan BI rate seharusnya diikuti dengan penurunan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) rate. Sehingga ampuh menurunkan suku bunga bunga dasar kredit (SBDK) perbankan. Alasanya acuan bank-bank dalam penetapan bunga dana adalah suku bunga LPS. "Jika LPS berani turunkan LPS rate menjadi berkisar 5,25%-5,75% (di bawah atau sama dengan BI rate), maka bunga kredit berpeluang turun," kata Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto kepada wartawan di Jakarta,9/2

Diakui Ryan, faktor utama turunnya SBDK ada pada kondisi likuiditas bank dan komposisi Dana Pihak Ketiganya (DPK) nya. Saat likuiditas kuat dan dana murahnya dominan, maka SBDK akan lebih agresif. "Jadi kasusnya bank per bank, bukan secara industri. Jika bank-bank besar, berani turunkan bunga kredit, akan dorong bank-bank menengah dan kecil turunkan bunga kredit juga," terangnya

Sementara itu, Komisaris Independen Bank Permata Tony Prasetiantono menilai kebijakan Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuannya (BI rate) sebesar 25 basis poin (bps) dianggap kebijkan semu semata. "Saya melihat kebijakan penurunan BI rate ini seperti memukul angin, karena tidak direspons dengan penurunan suku bunga dasar kredit (SBDK)," tuturnya

Menurut Tony, BI bisa dianggap kurang kredibel jika kebijakannya tidak dimbangi dengan langkah perbankan untuk menurunkan suku bunganya. Namun, dia menilai saat ini suku bunga perbankan sudah berada pada level sensitif. "Jika turun lagi, pemilik dana bisa memindah portofolionya ke emas, dolar Amerika Serikat (AS) dan lain-lain. Ini alasan bank cukup rigid, karena takut likuiditasnya ditarik nasabah," tegasnya

Padahal, menurut Tony, pemangkasan SBDK akan mendorong persaingan di antara Bank BUMN yang dapat mendorong menjadi pelopor persaingan. "Saya yakin (SBDK) bisa, (turun) meski mungkin tidak secepat yang diharapkan BI dan publik," ucapnya

Ditempat terpisah, Assistant Vice President-Analyst Sovereign Risk Group Moodys, Christian de Guzman yang merupakan Lembaga pemeringkat Moody's menilai BI rate tidak melulu menjadi patokan utama bagi industri perbankan saat ini. "Sinyal BI rate berkurang bagi perbankan, mereka tidak mengandalkan BI rate, namun lebih mengandalkan obligasi," ujarnya

Menurut Christian, Bank Indonesia (BI) sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan yang utamanyadikarenakan krisis global saat ini. Krisis tersebut pada akhirnya membuat lambat pertumbuhan ekonomi, terutama adanya tekanan dari Eropa. "Pada dasarnya dengan menurunkan tarif dan mengurangi kebijakan moneter, kita berfikir itu hal yang cukup baik, menguatkan. Tapi itu bukan berarti sebuah kekebalan yang baik pula," tandasnya

Sebagaimana diketahui, Rapat Dewan Gubernur BI menetapkan suku bunga acuan alias BI Rate diturunkan 25 basis poin (bps) menjadi 5,75%. Keputusan ini diambil sebagai langkah lanjutan untuk memberikan dorongan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah menurunnya kinerja ekonomi global, dengan tetap mengutamakan pencapaian sasaran inflasi dan stabilitas nilai tukar rupiah. **cahyo

BERITA TERKAIT

GrabFood Bagikan Paket Ke 500 Pasukan Oranye - Ikut Rayakan HUT Jakarta

      NERACA   Jakarta - GrabFood ikut merayakan hari ulang tahun DKI Jakarta ke-492 bersama petugas Pemeliharaan Prasana…

Kapan Bunga Turun? BI : Masalah “Timing”

    NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menekankan pihaknya membuka lebar peluang penurunan suku bunga acuan…

Pembangunan Sosial Suku Anak Dalam - Ketika Swasta Ikut Berperan Mengejar Ketertinggalan

Membangun pemerataan dari ketertinggalan dan pemberdayaan ekonomi bagi suku anak dalam tanpa harus menghilangkan jati diri menjadi perhatian. Pasalnya, saat…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

CIMB Niaga dan Liquid Group Dukung Uji Coba QRIS Lintas Negara

      NERACA   Jakarta - PT Bank CIMB Niaga Tbk dan Liquid Group mengumumkan kemitraan strategis untuk mempelopori…

OJK Optimis Pertumbuhan Kredit di Sumsel Capai 12%

    NERACA   Palembang - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimistis pertumbuhan kredit perbankan di Sumatera Selatan tumbuh 12,0 persen…

OJK Nilai Sektor Jasa Keuangan Terkendali

  NERACA   Jakarta - Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Juni, menilai stabilitas sektor jasa keuangan…