LPS : Yawadwipa BIsa Pakai Cara Lain - Rencana Akuisisi Bank Mutiara

NERACA

Jakarta--- Yawadwipa Companies tak perlu khawatir dengan berbagai aturan dan persyaratan dalam pembelian Bank Mutiara. Alasanya banyak cara dan langkah yang bisa ditempuh . “Yang penting ada cara lain untuk kesitu, untuk mengakali aturan pengalaman 3 tahun itu. Mungkin mereka bisa saja pakai teknik lain," kata Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Firdaus Djaelani kepada wartawan di Jakarta,9/2

Diakui Firdaus, minat Yawadwipa bisa terbentur aturan soal kepemilikan pengalaman selama 3 tahun. Namun demikian berbagai kemungkinan dan langkah tetap terbuka. "Kalau terbentur masalah perusahaan keuangan harus 3 tahun pengalaman dsb, opsinya masih banyak. Jadi kalau Yawadwipa serius, mungkin bisa pakai cara lain," tambahnya

Firdaus menyarankan agar Yawadwipa membeli Bank Mutiara atas nama perusahaan lain, atau atas nama pemiliknya langsung. Ini mengingat Yawadwipa Companies adalah perusahaan equity fund yang merupakan tempat mengelola dana-dana saja atau bisa disebut SPV.

Lebih jauh Firdaus mengaku sudah menerima surat minat atau letter of intent dari Yawadwipa. Pihak Danareksa selaku penasihat keuangan juga sudah menyampaikan minat dari Yawadwipa tersebut, setelah penjualan Bank Mutiara dibuka per 1 Februari lalu. "Jadi posisi kita saat ini menunggu penutupan pendaftaran. Yawadwipa memang berniat melihat Bank Mutiara lebih jauh, jadi nanti setelah pendaftaran ditutup pada akhir April, kita akan kirim data mengenai Bank Mutiara 3 tahun terakhir untuk mereka pelajari. Setelah itu mereka akan menyampaikan letter of confirmation jika berminat," tukasnya.

Dikatakan Firdaus, LPS tentu akan mengorek siapa investor Yawadwipa, termasuk darimana asal dananya dan juga komitmen terhadap Bank Mutiara. Meski menawar Bank Mutiara pada harga mahal Rp 6,75 triliun. Bukan berarti Yawadwipa akan mudah menang. "Ketika nanti ada 2 perusahaan, korporasi, atau lembaga keuangan menginginkan Bank Mutiara dengan tawaran yang sama, kita ambil yang lebih tinggi," jelasnya.

Soal harganya, LPS juga bersikukuh pada harga Rp 6,75 triliun sesuai nilai bailout yang dikucurkan pemerintah ke Bank Mutiara ketika mengalami kesulitan likuiditas beberapa tahun silam. Firdaus merasa harga Bank Mutiara Rp 6,75 triliun itu tidak kemahalan. "Itu tergantung melihatnya, tergantung investor. Sekarang kan pasar lagi bagus dan untuk mengambil bank kan tidak murah di Indonesia," jawab Firdaus saat ditanya apakah harga Bank Mutiara tidak terlalu mahal dijual pada harga Rp 6,7 triliun.

LPS awal Februari lalu memang membuka lagi lelang penjualan Bank Mutiara. Penjualan Bank Mutiara dalam 2 kali kesempatan gagal karena tidak berhasil menemukan pembeli yang memenuhi syarat, terutama soal harga yang mencapai Rp 6,7 triliun. Rencananya, awal pekan ini, perusahaan equity fund, Yawadwipa Companies membuat heboh karena mengumumkan rencananya membeli Bank Mutiara pada harga mahal Rp 6,7 triliun. Niat yawadwipa itu mendapatkan banyak respons miring karena baru berdiri pada 9 Januari 2012, namun sudah berani koar-koar membeli Bank Mutiara pada harga mahal.

Menyangkut tudingan tersebut, Direktur Operasional Yawadwipa Companies Prasetyo Singgih menyatakan pihaknya memang tengah mengincar Bank Mutiara, dan tak ada misteri apapun meski perusahaan ini baru berdiri 9 Januari 2012. "Tidak ada siapa-siapa di belakang Yawadwipa. Yawadwipa sebagai private equity firm yang menghimpun dana dari dalam dan luar negeri, baik institusi dan individu. Kemudian dana tersebut selanjutnya dikelola oleh sekelompok professional,”pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Regulator Minta Pelanggan Listrik Tak Khawatir - TERKAIT RENCANA KEBIJAKAN GOLONGAN TARIF

NERACA Jakarta – Menteri ESDM Ignasius Jonan menjelaskan program penyederhanaan golongan pelanggan listrik PT PLN (Persero) belum dijalankan dan masih…

RMBS Bidik Pendapatan Rp 120 Miliar di 2018 - Akuisisi Tiara Raya Bali

NERACA Jakarta – Perusahaan properti, PT Ristia Bintang Mahkotasejati Tbk (RBMS) menargetkan pendapatan di 2018 sebesar Rp120 miliar, setelah akuisisi…

Dilema Bank Lokal

Tantangan perbankan sebagai motor pembangunan melalui penyaluran kredit saat ini semakin kompleks. Hingga Oktober 2017, kredit perbankan nasional hanya tumbuh…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

OJK Kedepankan Kepentingan Nasional - Penerapan Basel III

      NERACA   Jakarta - Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan kerangka Basel III akan diterapkan dengan…

BI Paparkan 4 Tantangan Generasi Muda - Gelar GenBI Leadership Camp 2017

      NERACA   Bogor – Bank Indonesia (BI) mencatat ada empat tantangan utama yang harus disikapi oleh generasi…

Sequis Mencatat Kinerja Keuangan Positif di Kuartal III/2017

  NERACA   Jakarta - Director & Chief Agency Officer PT Asuransi Jiwa Sequis Life Edisjah menjelaskan, Sequis Life kembali…