BPS : Delapan Komoditas Picu Inflasi Pebruari

Rabu, 02/03/2011

Laju Inflasi 0,13%

BPS : Delapan Komoditas Picu Inflasi Pebruari

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) menilai meski laju inflasi Pebruari 2011 sudah turun mencapai 0,13%. Karena turun kebutuhan pokok, seperti harga beras. Tapi ada sekitar 8 komoditas yang tetap memicu terjadinya inflasi.

“Ada sekitar 8 komoditas barang yang memicu laju inflasi di Pebruari 2011, misalnya ikan segar. Alasannya terkait gelombang laut. Sehingga nelayan melaut," kata Kepala BPS, Rusman Heriawan kepada wartawan di Jakarta,(1/3)

Berdasarkan data BPS, delapan komoditas penyumbang inflasi tersebut antara lain, ikan segar 0,03%, Tempe 0,02%, Jeruk 0,02%, Bawang Merah 0,02%, Minyak goreng 0,02%, Rokok 0,02%, Batu bata sumbang inflasi 0,02%, Kenaikan harga mobil 0,02%.

Laju inflasi Februari 2011 mencapai 0,13%, dengan begitu laju inflasi kumulatif (Januari-Februari 2011) adalah 1,3%. Inflasi year on year (Februari 2011 dibanding Februari 2010) mencapai 6,84%.

Selain itu, data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menyebutkan Inflasi Januari ke Februari 1,03% dan year on year (yoy) 6,84%. Untuk inflasi inti Februari 0,31% atau lebih tinggi dari inflasi umum. Inflasi inti year on year (yoy) 4,36%. "Inflasi Februari rendah karena harga komoditas pangan alami deflasi," katanya.

Dari 66 kota tercatat 26 kota mengalami deflasi. Untuk bahan makanan mengalami deflasi sebesar 0,09%, dan sandang menyumbang deflasi 0,01%. Inflasi tertinggi di Singkawang 1,75% di Tarakan 1,72%. Inflasi terendah di Sukabumi 0,01% tertingi di Sumenep 0,08%. Harga-harga pangan yang bergejolak mengalami deflasi 0,11% dan bahan makanan mengalami deflasi 0,09%. "Itu dalam 4 tahun terakhir baru terjadi sekarang," tambahnya.

Selain itu tercatat pula, Indeks harga grosir/agen atau Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) Umum Nonmigas naik sebesar 0,46 persen terhadap bulan sebelumnya. Kenaikan IHPB terbesar terjadi pada sektor industri sebesar 0,65 persen. IHPB Bahan Baku dan Barang Konsumsi pada bulan Februari 2011 masing-masing naik sebesar 0,53 persen dan 0,43 persen, sedangkan IHPB Barang Modal mengalami penurunan sebesar 0,06 persen.

IHPB Bahan Bangunan/Konstruksi pada Februari 2011 naik sebesar 0,77 persen terhadap bulan sebelumnya, antara lain disebabkan kenaikan harga kayu gelondongan 1,24 persen, barang-barang dari besi dan baja dasar 1,23 persen, bahan bangunan dari logam 1,61 persen, dan barang logam lainnya 0,92 persen.

Ditempat terpisah, Direktur Program Indef (Institute for Development Economics of Finance ), Enny Sri Hartati menilai deflasi bahan pangan sebesar 0,09% pada bulan Februari 2011 yang dihitung BPS (Badan Pusat Statistik) sangat tidak signifikan. Alasannya penghitungan data BPS menggunakan data bulan ke bulan bukan data tahun ke tahun. "Angka itu bisa saja benar, tapi bisa saja itu penghitunganya secara month to month (bulan ke bulan)," paparnya.

Lebih jauh kata Enny, sebaiknya penghitungan itu dilakukan data pertahun sehingga data yang disampaikan lebih akurat. "Kalau mau fair, penghitungannya year on year dong," tegasnya.

Terkait prediksi inflasi pada 2011, Direktur Eksekutif Indef, Ahmad Erani Yustika malah memprediksi terjadi kenaikan inflasi yang sangat signifikan. "Saya kira inflasi 2011 bisa menembus 7%, atau lebih tinggi dari 2010. Faktor apa yang mempengaruhi kenaikan harga pangan dan minyak di pasar internasional jelas jadi penyebab utamanya," tandasnya.

Untuk mencegah kenaikan inflasi tersebut, pihaknya menyarankan pemerintah agar mengantispasinya lebih awal dengan kebijakan disektor energi dengan melakukan penghematan penggunaan bahan bakar yang saat ini sedang dilakukan kajian oleh tim kajian agar ditindaklanjuti realisasinya. "(Tahun) 2011 situasinya akan lebih buruk dari 2010. Oleh sebab itu pemerintah harus mengantisipasinya lebih awal. Sebab jika tidak dilakukan kebijakan itu akan mendongkrak inflasi," bebernya.

Kemarin, ekonom Tony A Prasetyantono memperkirakan tekanan inflasi pada Februari 2011 akan mereda seiring dimulainya musim panen. Inflasi diperkirakan berada di level 0,2%-0,3% atau jauh lebih rendah dibandingkan inflasi Januari yang mencapai 0,89%. "Inflasi Feb 2011 saya perkirakan antara 0,2-0,3%. Tekanan inflasi pangan agak mereda, karena mulai ada panenan," katanya

Namun demikian, lanjut dia, saat ini masa panen belum mencapai puncaknya, dan masih diganggu hujan yang masih cukup besar. Selain masalah panen, Tony juga mengatakan bahwa efek harga minyak dunia naik di atas US$100 per barrel juga memberikan sumbangan inflasi.

Tetapi efeknya sumbangannya ke inflasi di tanah air masih kecil karena terbantu adanya BBM bersubsidi. "Harga minyak dunia yg naik di atas US$100 per barrel juga menyumbang inflasi, meski kecil, masih ada BBM bersubsidi," katanya.

Adapun mengenai penguatan dan stabilitas nilai tukar rupiah di bawah Rp9.000 per dolar AS juga memberi kontribusi inflasi rendah. "Jika inflasi bulanan 0,2-0,3%, maka inflasi yoy akan berkisar 6,9%-7,0%," katanya.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi yoy pada Januari yang mencapai 7,02%. Pada situasi ini, lanjut Tony, suku bungan acuan Bank Indonesia (BI rate) tidak perlu diubah atau tetap 6,75%. Pasalnya rupiah masih menguat dan didukung cadangan devisa yang mencatat rekor baru US$98,5 miliar. **nurul/ruhy