Bebankan Negara, BUMN Rugi Sebaiknya Dijual Saja - Pertahankan Yang Strategis

Neraca

Jakarta – Pemerintah harus segera menjual beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang sering merugi untuk meringankan beban anggaran negara. Pasalnya, BUMN yang sakit tersebut terpaksa harus sering disuntik dana agar tetap bisa beroperasi. Kondisi ini jelas tidak sehat untuk keuangan negara.

Guru besar fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, Ahmad Erani Yustika mengaku sangat mendukung jika pemerintah menjual BUMN yang merugi. Namun Erani mewanti-wanti agar BUMN yang strategis tidak sembarang dijual ke investor. Apalagi jika investor tersebut berasal dari mancanegara. “Sah-sah saja, BUMN sakit dijual. tapi jangan ke pihak asing,” katanya kepada Neraca di Jakarta, Rabu (8/2).

Menurutnya, BUMN yang terus merugi ada baiknya segera dijual. Alasannya, bila tidak akan selalu membebankan negara dan menggerogoti Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). "Buat apa mempertahankan BUMN yang terus rugi dan tidak produktif," cetusnya.

Namun dalam penjualan BUMN, pemerintah sebaiknya membuat road map yang jelas dalam masalah pengembangan BUMN ini. Pasalnya, karena kinerja BUMN itu bisa menjadi tolak ukur penilaian pemerintah dalam mengambil keputusan. Nantinya, pemerintah bisa memilliki pilihan apakah BUMN tersebut dijual atau dimerger.

Kata Erani, bagi BUMN pelayanan publik dinilai tidak perlu dijual dan sebaliknya diberi suntikan dana oleh pemerintah. Karena suntikan dananya juga akan digunakan untuk memperbaiki kinerja mereka. “BUMN yang terus rugi akan terus disuntik dana oleh negara, untuk pembiayaan kinerja mereka,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VI DPR Lili Asjudiredja, menilai BUMN merugi tidak perlu dimatikan, tetapi dilakukan sinergi dengan BUMN yang lain, sehingga BUMN bisa berjalan bagus dan bisa mengendalikan terjadinya pengganguran apabila dimatikan.

Dalam proses sinergi ini, lanjut Lili harus diperbaiki manajemen dan direksi-direksi yang terpilih yang mempunyai kemampuan yang baik. Kemudian BUMN harus modernisir infrastruktur yang ada dengan melalui perbaikan-perbaikan dan harus berdasarkan atas anggaran-anggaran APBN. “BUMN yang dijalankan dengan baik maka akan berpengaruh kepada bisnis yang lain,” ujarnya.

Soal usulan penjualan Merpati, dia menilai, sejak pembelian Merpati sudah bermasalah dari awalnya, karena mesin Merpati merupakan produk dari Cina. Padahal, sebaiknya, daripada menggunakan produk luar negeri yang tidak baik, lebih baik menggunakan hasil dalam negeri sendiri. “Hal ini bisa menguntungkan keduanya, dimana pihak Merpati dan produksi dalam negeri tetap digunakan untuk kebutuhan dalam negeri pula,” paparnya.

Kemudian untuk persoalan BUMN stategis, Lili sependapat dengan Erani untuk tidak dijual ke pihak lain. Alasannya, yang dibutuhkan BUMN strategis ádalah sinergi diantara BUMN-BUMN yang ada.

Bereskan Internal

Selanjutnya, terkait 15 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang merugi, Lili berpendapat harus diperbaiki terlebih dahulu manajemen dan direksi-direksi, khususnya yang tidak mempunyai kemampuan baik. “Kerugian BUMN itu kan karena direksi yang dipilih tidak bekerja dengan baik, makanya harus di bedah terlebih dahulu semuanya,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS), Marwan Batubara, BUMN yang memiliki tugas strategis dalam pembangunan dan perintis seharusnya mendapat subsidi oleh pemerintah. “BUMN strategis tidak bisa langsung ditutup, selain itu juga pemerintah harus segera memberikan subsidi kepada BUMN yang sakit itu,” kata Marwan.

Contohnya, imbuh Marwan, seperti Merpati yang akhir-akhir ini diisukan mengalami kerugian, justru sebaiknya mendapat perlindungan pemerintah. Pasalnya, hanya dia yang mampu menyediakan pelayanan yang menjangkau daerah-daerah terpencil. “Harus ada perlindungan dan proteksi untuk BUMN perintis. Bagaimana kita bisa menjangkau daerah terpencil? Ini kan buat kepentingan rakyat juga,” tuturnya.

Untuk memperbaikinya, Marwan mengatakan sebetulnya ada dua hal yang perlu dipahami dan diperbaiki pemerintah. Pertama, pemerintah seharusnya memberikan subsidi kepada BUMN-BUMN strategis. Walaupun tidak profitable tetapi untuk kepentingan rakyat.

Kedua, perlu diadakan perbaikan pada internal dari BUMN itu sendiri. Karena, tidak berjalannya Good Corporate Governance (GCG) dari BUMN strategis ini kan perlu dipertanyakan. “Internalnya harus diperbaiki dulu,” tandasnya.

Sebelumnya, Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan pernah bilang, bentuk restrukturisasi 15 BUMN rugi adalah dengan diambilalih (akuisisi) oleh BUMN sehat yang ingin membentuk anak usaha baru.

Menurut Dahlan, cara ini lebih efisien dibanding BUMN harus membentuk anak usaha baru. Selanjutnya, bentuk, nama dan jenis usaha dari BUMN rugi yang diakuisisi menjadi anak usaha baru BUMN ini akan disesuaikan dengan keinginan BUMN yang mengakuisisi

Pendapat ini diamni oleh Danang Parikesit (Pengamat Transportasi); menurutnya, lebih baik BUMN seperti itu disehatkan terlebih dahulu dari segeap sisi. Baik itu dari direksi, maupun kinerjanya sendiri. Pasalnya, kerugian seperti yang diderita Merpati ini merupakan limpahan masalah dari masa lalu. ”Itu kan sudaj sejak awalnya seperti itu,” ujarnya.

Dia menyarankan, agar BUMN transportasi seperti ini disehatkan dengan memisahkan liabilities dan menjadikan BUMN memeiliki level playing field lebih baik.

BERITA TERKAIT

BUMN Tersandera Proyek

Menurut analisis makro ekonomi yang dilakukan LPEM FEB-UI bertema Indonesia Economic Outlook 2018 yang diuraikan mengenai keberhasilan proyek infrastruktur. Bahkan…

Ini yang Perlu Anda tahu Sebelum Beli Tiket Murah

Berburu tiket murah sebelum bepergian memang menarik demi menghemat biaya perjalanan, tapi bagaimana agar semua bejalan lancar dan menyenangkan. Perusahaan…

Bisnis Yang Bakal Kian Ngehits di Tahun2018

Peluang bisnis dan usaha masa kini yang memiliki prospek cukup menjanjikan dan bak kian ngehits di tahun 2018. tentunya tidak…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

YLKI Ingatkan Masyarakat Modus Diskon Palsu

NERACA Jakarta – Momentum pergantian malam pergantian tahun, umumnya pusat-pusat perbelanjaan menawarkan pesta diskon yang cukup menggiurkan dan tidak terkecuali…

PROSPEK PERTUMBUHAN INDUSTRI DAN SEKTOR PERKEBUNAN - Kadin: Tak Mungkin Terulang Krisis 1998-2008

Jakarta-Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani menyatakan sikap optimistis krisis ekonomi 1998 dan 2008 atau…

Presiden Tidak Pernah Intervensi Data BPS

  NERACA Jakarta-Pejabat BPS mengungkapkan, Presiden Jokowi tidak pernah mengintervensi data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik. Pasalnya, kualitas data pertumbuhan…