Wajah Muram di Raja Ampat

Hamparan pasir putih, terumbu karang beraneka warna dalam perairan biru kehijauan, menjadikan Raja Ampat ramai dikunjungi turis setiap tahunnya.

Namun saat ini, penduduk asli di sana sedang muram, karena merasa kalau nasib mereka kurang diperhatikan oleh pemerintah Indonesia.Ditambah lagi dengan dampak kerusakan lingkungan yang belum seluruhnya bisa ditanggulangi.

Berada memanjang 67 ribu kilometer persegi di pesisir timur Indonesia, pulau yang berada di Papua Barat ini dianggap sebagai surga oleh turis dari dalam dan luar negeri.

“Pulau ini sangat menakjubkan. Kami telah mengunjungi ke banyak pulau, tapi saya mengakui kalau pulau inilah yang paling cantik,” kata turis asal Kanada, Angelika Redweik-Leung.Raja Ampat—yang berarti Empat Raja, terdiri dari gugusan 1.500 pulau yang menjadi rumah bagi 1.400 spesies ikan dan 600 spesies terumbu karang. Keberagaman di sana membuatnya disebut sebagai salah satu habitat bawah laut terbesar di dunia.

Pemerintah Indonesia tentu saja mengetahui potensi tersebut. Mereka membuka pintu lebar-lebar bagi investor yang ingin mendirikan usaha memajukan industri pariwisata di sana, seperti hotel, tempat makan, sampai pelabuhan baru.Semua dilakukan demi meningkatkan jumlah kunjungan turis, yang setiap tahunnya datang berjumlah 15 ribu orang, bahkan sempat naik 5.000 orang pada 2010.

Ironisnya, pesona Raja Ampat seakan sirna jika menengok ke sebuah kampung yang berjarak dua jam perjalanan kapal dari pusat kotanya, Waisai.

Di Kampung Byak Betew, masyarakatnya bahkan tak bisa menikmati aliran listrik dan air bersih. Mereka tinggal di gubuk sederhana. Anak-anak masih bisa sekolah, hanya saja harus jalan kaki sejauh ratusan kilometer.

Masyarakat di kampung itu mengatakan mereka belum menikmati buah manis dari ramainya kunjungan turis ke Raja Ampat. Hidup mereka terbilang jauh dari kesan surgawi.

“Kenyataan ini sangat melukai kami. Mereka mengambil alih tanah kami, tapi kami tak menikmati hasilnya. Kami merasa dibohongi,” kata Ketua adat Byak Betew, Paul Mayor.

“Ini tanah kami, yang telah berubah menjadi tujuan wisata dunia. Tapi kehidupan kami tak ikut mengalami peningkatan,” lanjutnya.

Paul juga memberi kritik kepada instansi terkait yang dinilainya gagal menjaga kelestarian Raja Ampat. Puncaknya saat terumbu karang di salah satu spot menyelam di sana rusak ditabrak kapal pesiar Caledonia Sky yang sedang membawa turis.

Setelah setengah tahun berselang, penyelesaian kasus tersebut memang terbilang masih mengambang.

‘Kami tetap miskin’

Peneliti dari Universitas Papua, yang membuat studi mengenai dampak atas kasus tersebut, mengatakan kalau rehabilitasi terumbu karang Raja Ampat yang rusak membutuhkan dana hingga Rp215 miliar.

Kepala Dinas Pariwisata Raja Ampat, Yusdi Lamatenggo mengatakan kalau perusahaan kapal pesiar, Noble Caledonia, telah dipanggil ke meja hijau. Namun, mereka menolak untuk membayar biaya rehabilitasi.

Untuk mengantisipasi kejadian yang sama terulang, Yusdi mengatakan kalau saat ini pihaknya meminta agar instansi terkait mengatur ulang rute kapal pesiar yang berlayar di Raja Ampat, sehingga tak bersandar terlalu dekat di terumbu karang.

Dianggap sebagai anak tiri oleh Indonesia merupakan drama lama yang dirasakan oleh sebagian besar penduduk Papua Barat. Presiden Joko Widodo sudah mengingatkan pejabat pemerintahannya untuk terus memperhatikan wilayah terdepan di Indonesia. Ia menginginkan ada banyak pembangunan di luar Pulau Jawa.

Ketua adat Saukabu, Ariel Fakdawer, mengatakan kalau sampai saat ini pembangunan tersebut belum berpihak ke masyarakatnya.

“Contohnya Festival Raja Ampat yang diadakan setiap tahun. Ada puluhan ribu turis yang datang, namun kami tidak mendapat keuntungan apapun. Kami tetap miskin, hanya penyelenggaranya yang mendapat keuntungan,” ujar Ariel.

Masyarakat lokal, dikatakan Ariel, tidak butuh gaya hidup yang muluk-muluk. Mereka hanya membutuhkan jaringan komunikasi, listrik air bersih, serta penetapan hukum yang adil.“Pemerintah tidak pernah memenuhi kebutuhan kami, karena mereka tak mengerti kami,” kata Paul.“Pemerintah harus mulai berbicara langsung dengan masyarakat lokal di sini,” lanjutnya.

Meski demikian, ada juga masyarakat lokal yang tetap berharap kalau Raja Ampat semakin ramai dikenal dunia.

“Dunia sudah modern. Kita tak bisa lagi hidup terkungkung. Kita harus memiliki pikiran terbuka. Suka atau tidak, kita tidak hidup sendiri di dunia ini,” kata Medzke Karoswaf.

BERITA TERKAIT

Lemkapi: Kapolri Pantas Raih Anugerah Raja Malaysia

Lemkapi: Kapolri Pantas Raih Anugerah Raja Malaysia NERACA Jakarta - Lembaga Kajian Kepolisian Indonesia (Lemkapi) memuji prestasi Kapolri Polisi Tito…

Menko Puan Maharani Dampingi Megawati Hadiri Upacara Kremasi Raja Thailand

Menko Puan Maharani Dampingi Megawati Hadiri Upacara Kremasi Raja Thailand NERACA Jakarta - Presiden Republik Indonesia ke-5 Megawati Soekarnoputri tiba…

Gurihnya Untung Usaha Seblak Raja Pedas - Kerjasama Syariah

Usaha seblak adalah pilihan tepat bagi Andri Waryadi. Pasalnya dengan tawaran kerja sama dan berbagai kelebihan yang mulai dari varian…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Ini Pilihan Tempat Menginap di Bandung

Bandung menjadi "pelarian" bagi warga Jakarta yang ingin liburan sambil merasakan hawa dingin. Di musim libur, seperti Lebaran, Paris van…

Menikmati Wisata Susur Sungai Martapura di Malam Ramadan

Bulan Ramadan bukan berarti menjadi berakhirnya aktivitas petualangan. Warga kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, justru memiliki tren wisata baru yakni…

Wisata Jalur Vulkanik Jadi Berkah dari Gunung Merapi

Pekan kemarin Gunung Merapi kembali menunjukkan statusnya sebagai gunung api teraktif di Indonesia. Gunung yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa…