Antara Maulid Nabi dan Hari Valentine

Oleh Agus S. Soerono

Wartawan Harian Ekonomi Neraca

Dalam dua pekan ini kita menjumpai dua hari yang cukup penting. Pertama Hari Maulid Nabi Muhammad SAW pada 5 Feb. dan Hari Valentine pada 14 Feb.

Sebenarnya terasa kurang fair untuk membandingkan kedua hari itu. Namun realitas dalam masyarakat menunjukkan bahwa yang disebut belakangan ini, lebih menggema penyelenggaraannya, terutama di kalangan anak muda di kota besar.

Namun betapa pun, peringatan Hari Maulid Nabi, tetap merupakan hari yang sangat penting, terutama bagi kalangan umat Islam. Sebagaimana dimaklumi sekitar 90% penduduk Indonesia menganut Agama Islam. Oleh karena itu, peringatan Maulid (hari kelahiran) Nabi Muhammad SAW, menjadi tonggak sejarah bagi umat Islam.

Agama Islam hadir ke tengah zaman Jahiliyah, dengan lahirnya Muhammad pada Senin, 12 Rabiul Awal tahun 571 Masehi atau dikenal sebagai Tahun Gajah atau hampir 15 abad lalu di kota Mekkah.

Michael H. Hart dalam bukunya The 100 menilai Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Menurut Hart, Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih keberhasilan luar biasa baik dalam hal spiritual maupun kemasyarakatan. Hart menempatkan Muhammad pada urutan pertama dalam bukunya itu.

Hart yang notebene bukan orang Islam, mencatat bahwa Muhammad mampu mengelola bangsa yang awalnya egoistis, barbar, terbelakang dan terpecah belah oleh sentimen kesukuan, menjadi bangsa yang maju dalam bidang ekonomi, kebudayaan dan kemiliteran dan bahkan sanggup mengalahkan pasukan Romawi yang saat itu merupakan kekuatan militer terdepan di dunia di dalam pertempuran.

Di sisi lain, kita menghadapi Hari Valentine yang sama sekali bukan merupakan hari besar keagamaan umat mana pun, yang ternyata menjadi hari yang banyak mendapat perhatian di kota-kota besar, terutama oleh kalangan anak muda.

Hari Valentine (Valentine Day) adalah hari yang baru belasan tahun ini diperingati oleh anak muda yang ada di kota besar di Indonesia. Namun laju masyarakat yang ikut "merayakannya" semakin tahun semakin meningkat. Terlepas dari sejarahnya, yang konon muncul dari masa kelam, di balik peringatan Hari Valentine itu, ternyata ada nuansa bisnis di belakangnya. Seperti penjualan berbagai pernak-pernik aksesoris yang berbentuk hati, penganan berupa kue tart, cokelat, dan sebagainya yang juga berbentuk hati.

Para anak muda ada yang "nembak" calon pacarnya dengan menyatakan cintanya dengan setangkai mawar, atau seorang istri yang menyatakan kasih sayangnya terhadap sang suami atau sebaliknya, yang memilih hari yang sangat ditunggu-tunggu itu. Bahkan sepasang anak muda yang sudah mantap dengan pasangannya, memilih Hari Valentine sebagai hari jadi mereka untuk naik ke pelaminan.

BERITA TERKAIT

Indonesia 2045, Antara Lumbung Pangan Dunia dan Krisis Pangan

Oleh : Abdul Aziz, Mahasiswa Fisipol di PTN Jakarta   Masa kampanye yang tinggal beberapa minggu lagi membuat intensitas kampanye…

BPKP Targetkan Audit Enam OPD Terbesar APBD 2018 Kota Depok - Selain ‎Audit Dana Bansos dan Hibah

‎BPKP Targetkan Audit Enam OPD Terbesar APBD 2018 Kota Depok Selain ‎Audit Dana Bansos dan Hibah NERACA Depok - ‎Badan…

Berharap Dana Riset dan Pengembangan Swasta

  Oleh: Nailul Huda Peneliti Indef, Centre of Innovation and Digital Economy Seminggu ini publik dihebohkan oleh salah satu cuitan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Media dan Tantangan Teknologi Milenial

Indonesia merupakan negara di dunia yang memiliki banyak media dengan perkiraan berjumlah 47 ribu media yang terbagi dari berbagai model,…

Pers dan Usaha Mendorong Ekonomi Digital

Pers memiliki peran vital mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan berbasis digital di Indonesia. Melalui pemberitaan, pers dapat mempromosikan sekaligus mengedukasi pelaku…

Pers di Era Digital: Idealisme Versus Industri

Pers di Indonesia lahir dari idealisme para pendiri bangsa guna menyuarakan semangat memperjuangkan kemerdekaan kepada masyarakat luas, sejak zaman penjajahan…