Kredit Macet Masa Lalu Hambat Pengusaha

NERACA

Bandung---Para pengusaha muda Indonesia mengaku sulit mendapat kredit. Hal ini terkait kredit macet di masa lalu. Sehingga sulit mendapatkan akses perbankan yang menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan. "Kesulitan mendapatkan akses perbankan masih terjadi dan kami terus berupaya melalui peraturan tertentu agar perbankan mau menyalurkan bantuan kreditnya pada wirausaha muda," kata Pimpinan Bank Indonesia Bandung, Lucky Fathul Azis di Bandung.

Para wirausaha muda, kata dia kerap kesulitan mendapatkan modal dari perbankan karena tidak memiliki agunan, sehingga dianggap tidak bankable. Sehingga di Jawa Barat akan dibentuk Lembaga Penjamin Kredit Daerah pada Juli 2012.

Dengan langkah itu, diharapkan para wirausaha bisa mendapatkan kepercayaan dari perbankan. Ia mengakui prinsip kehati-hatian perbankan mutlak diperlukan, namun di sisi lain tidak boleh menutup peluang bagi segmen usaha menengah kecil untuk bisa lebih leluasa mendapatkan akses pembiayaan. "Tingginya angka kredit macet menjadi salah satu pertimbangan perbankan untuk menjaga kehati-hatian, disini wirausahawan muda harus bisa meyakinkan kalangan perbankan melalui komitmentnya terhadap kewajibannya terhadap pembiayaan itu," kata Lucky.

Pimpinan BI Bandung menyebutkan, ada peningkatan penyaluran kredit di Jabar, per Desember 2011 sudah mencapai Rp160 trilin, dan sekitar 31,75 persen disalurkan untuk sektor UMKM. Selain itu juga penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga mencapai Rp8,3 triliun yang disalurkan kepada 827 ribu debitur.

Sedangkan untuk menyiapkan wirausahawan muda menjadi bankable adalah dengan membentuk Pusat Pengembangan dan pendamping UKM (P3UKM) yang memberikan informasi, konsultasi, pembinaan pelaku usaha dalam mengakses lembaga keuangan. "Saya yakin bila perbankan bisa meningkatkan komitmennya dalam penyaluran kredit sektor riil yang lebih besar, bisa mendongrak pertumbuhan wirausaha muda," kata Lucky.

Lucky menyebutkan, di Jawa Barat jumlah wirausaha atau pengusaha tidak lebih dari 0,2 persen dari total penduduk Jabar yang mencapai 43 juta jiwa. Padahal idealnya 2,5 persen dari jumlah penduduk. "Masih sangat kecil dan sangat tidak ideal. Pertumbuhan usahawan jelas merupakan keuntungan tersendiri bagi perbankan karena pasar menjadi lebih luas lagi," pungkasnya. **cahyo

BERITA TERKAIT

Profit Taking Hambat Penguatan IHSG

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu ditutup turun sebesar 18,12 poin seiring…

OCBC NISP Yakin Pertumbuhan Kredit Dua Digit

  NERACA   Jakarta - PT OCBC NISP Tbk meyakini penyaluran kredit akan membaik pada triwulan IV/2017 sehingga mampu mencapai…

Permintaan Kredit di 13 Sektor Meningkat

  NERACA   Jakarta - Bank Indonesia melalui surveinya mencatat permintaan kredit pada 13 sektor ekonomi meningkat sepanjang triwulan III…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

10 LKM Syariah Kantongi Izin dari OJK

  NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan izin operasi sepuluh Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKM Syariah) yang diharapkan…

BTN Ajak Mahasiswa jadi Entrepreneur Properti

  NERACA Yogyakarta - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. siap mengawal para mahasiswa untuk menjadi entrepreneur muda handal di bidang properti…

Bank Muamalat Resmikan Unit Program Social Trust Fund Di Bali

  NERACA Jakarta - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. (Bank Muamalat) secara resmi memperkenalkan Unit Program Social Trust Fund (STF)…