Bappenas: Indonesia Belum Siap Ekonomi Digital - AKIBAT JARINGAN INTERNET BELUM MERATA

Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Prof Dr. Bambang Brodjonegoro menilai Indonesia belum siap menghadapi era ekonomi digital. Pasalnya, infrastruktur penopang ekonomi digital di Indonesia belum memadai termasuk belum meratanya jaringan internet di seluruh wilayah negeri ini.

NERACA

Bambang mencontohkan konsumsi listrik per kapita di Indonesia masih sebesar 977,69 Kwh atau masih di bawah sebagian negara ASEAN. "Di Asean, kita di bawah Vietnam dan jauh di bawah Malaysia. Konsumsi listrik penting itu karena mempengaruhi digitalisasi. Di negara besar konsumsi listrik tinggi," ujarnya dalam seminar bertajuk “Quo Vadis Ekonomi Digital Indonesia” di Jakarta, pekan ini.

Dia mencatat rasio elektrifikasi di Indonesia memang sudah sebesar 93,08 persen dengan kapasitas pembangkit 60,16 giga watt (GW). Namun, dia mengeluhkan akses terhadap listrik yang belum merata. "Di daerah tersambung listrik, tapi 24 jam enggak? Karena ada yang hanya 6 jam sehari. Tegangan ada yang naik turun, banyak aspek (masalah) soal pasokan listrik. (Padahal) Itu aspek kesiapan Indonesia masuk ke era digital," ujarnya.

Bambang mengungkapkan, saat ini memang ada 432 kabupaten/kota di Indonesia yang sudah terkoneksi internet. Akan tetapi, baru 222 kabupaten/kota yang sudah bisa menikmati jaringan 4G.

Meskipun ada operator swasta yang sedang membangun fasilitas jaringan internet pada 25 ibukota kabupaten dan kota, masih ada banyak wilayah yang belum terjangkau. Dia mencontohkan, masih ada sebagian daerah di kawasan Kepulauan Anambas, Natuna, Sulawesi, Nusa Tenggara, Papua dan Maluku, yang tak terjangkau jaringan internet. "Seluruh jaringan sebetulnya ada yang telah dibangun operator, tapi ada spot yang tidak dibangun operator karena tidak menguntungkan. Spot yang enggak keisi ini, diisi Palapa Ring," ujarnya.

Karena itu, menurut Bambang, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) berupaya memperbaiki akses jaringan internet dengan membangun Palapa Ring, yakni proyek pembangunan serat optik di seluruh Indonesia.

Selain itu, tingkat penetrasi penggunaan internet di Indonesia masih 51%, atau masih kalah jauh dari Vietnam yang sebesar 67% dan Malaysia 71%. Padahal, menurut Bambang, potensi ekonomi digital di Indonesia sangat besar. Salah satu indikasinya tercermin dari besarnya jumlah pengguna telepon seluler. "Cukup tinggi pengguna selulernya. Itu modal," ujarnya.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) selama periode 2011 hingga 2016, persentase pengguna telepon seluler baru sebesar 39,2% (2011), sedangkan pada 2016 angkanya tubuh menjadi 58,3%.

Bambang juga mencatat pengguna internet di Indonesia meningkat dari sebesar 38 juta pada 2013 menjadi 88 juta di 2015. Pada 2020, Bappenas memprediksi ada 145 juta pengguna internet di Indonesia. "Rata-rata penduduk Indonesia menggunakan internet selama 3,5 jam, dua kali lipat dari penduduk Amerika. Itu bisa baik kalau mengakses konten yang positif," ujarnya.

Sayangnya, berdasar data terbaru catatan Bappenas, ada 250.381 konten positif dan 777.941 konten negatif yang diakses oleh pengguna internet di Indonesia.

Ketimpangan Ekonomi

Pada bagian lain, Bambang mengatakan ekonomi digital semakin memperburuk ketimpangan di Indonesia. Hal itu semakin diperparah dengan belum meratanya jaringan internet di seluruh wilayah. "Apa [dunia] digital memperburuk ketimpangan? Iya, karena ada pihak yang bisa dipercepat ekonominya, ada yang dipermudah, tapi ada yang ditinggalkan. Potensi ketimpangan besar, tapi pada tahap respons awal," ujarnya.

Menurut Bambang, dari 514 kabupaten/kota yang ada di Indonesia, baru ada 432 kabupaten/kota yang bisa menikmati fasilitas internet, dan baru 222 kabupaten/kota yang sudah bisa menikmati jaringan 4G.

Bambang menuturkan, merujuk pada kajian perusahaan konsultan manajemen multinasional, McKinsey pada 2016 disebutkan bahwa ada 52,6 juta pekerja di Indonesia berpotensi tergantikan dengan sistem otomasi atau mesin. McKinsey juga memperhitungkan sekitar 60% jabatan pekerjaan di dunia akan menggunakan sistem otomasi, dan 30% jabatan pekerjaan di dunia akan digantikan oleh mesin-mesin canggih.

Selain itu, kata Bambang, beberapa sektor juga terancam punah, yakni pertanian, kehutanan, perikanan, perburuan, akan hilang sebesar 49%, yakni mereka yang berprofesi sebagai petani, nelayan, peternak, pekerja kerajinan.

Kemudian, sektor pengolahan/manufaktur akan hilang sebesar 65% dengan profesi penjahit, operator mesin stasioner, tukang las dan solder. Selanjutnya, sektor perdagangan retail akan hilang sekitar 53% dengan profesi tenaga penjualan, pedagang kaki lima, kasir, petugas tiket.

Sementara sektor konstruksi akan hilang sebesar 45% dengan profesi buruh bangunan, pandai besi. Kemudian disusul sektor transportasi dan pergudangan yang terancam sekitar 64% dengan profesi pegawai administrasi, petugas gudang dan lainnya. "Ini bukan hanya masalah di Indonesia, tapi masalah di banyak negara," ujarnya.

Kecepatan Internet

Menurut data opensignal.com, kecepatan internet di Indonesia masih menduduki tiga terbawah dari 88 negara di dunia, di atas Algeria dan India. Indonesia juga masih tertinggal dibandingkan dengan negara ASEAN seperti Myanmar, Thailand, dan Filipina. Hal ini menghambat perkembangan digitalisasi industri di Indonesia.

Merespon masalah ini, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan pemerintah sedang memperkuat infrastruktur digital saat ini, salah satunya dengan pembangunan Palapa Ring. Tujuannya, untuk mendukung ekonomi berbasis digital ke depan. "Sinergi dengan kementerian terkait kita ada, bicara soal infrastruktur, itu ditangani oleh Kominfo (Kementerian Komunikasi dan Informatika). Dan investasinya salah satunya Palapa Ring," ujarnya.

Menurut dia, dengan pembangunan Palapa Ring dapat memperluas jaringan fiber optik, untuk meningkatkan kemampuan kinerja internet. "Fiber optik itu tentu bandwidth perlu diperluas lagi. Oleh karena itu, dengan Kominfo kita punya untuk industri kecil menengah di klaster-klaster industri disiapkan bandwidth lebih besar," ujarnya.

Bandwidth atau lebar pita adalah jumlah data yang dapat dibawa dari sebuah titik ke titik lain dalam jangka waktu tertentu (pada umumnya dalam detik). Bandwidth biasanya diukur dalam satuan bps (bits per second).

Menurut Arilangga, ada lima industri yang menjadi percontohan untuk digitalisasi industri yakni industri kimia, tekstil, otomotif, elektronik, serta makanan dan minuman (mamin). Diharapkan dengan digitalisasi kelima dapat mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi. "Target peningkatan kontribusi pertumbuhan ekonomi masih kita bahas dulu dengan kementerian lain. Ini masih pilot project," tutur dia seperti dikutip laman tirto.id.

Kemenperin memprediksi pada 2020 kelima sektor industri tersebut akan berkontribusi sebesar 70% dari total PDB manufaktur, 60% untuk ekspor manufaktur, dan 65% peningkatan pada jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur.

Airlangga meyakini penerapan revolusi industri keempat (Industry 4.0) dapat mengakselerasi target dari visi Indonesia 2045. Visinya antara lain menjadi salah satu negara dengan pendapatan tinggi dan salah satu kontributor Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar di dunia. “Dengan Industry 4.0, kami optimistis manufaktur kita semakin produktif dan berdaya saing, sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional," ujarnya.

Dia menyebutkan beberapa prediksi capaian Indonesia di 2045, seperti pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4 persen, nilai PDB per kapita US$ 28.934, dan peringkat keempat PDB dunia. Selanjutnya, pertumbuhan investasi hingga 7,3% per tahun atau berkontribusi terhadap PDB sebesar 39%, pertumbuhan ekspor mencapai 7,9%, dan pertumbuhan industri di angka 7,8% yang berperan kepada PDB sebanyak 32%.

Hanya saja, untuk mencapai target-target tersebut dia mengungkapkan kualitas SDM dalam negeri harus ditingkatkan, agar tenaga kerja manusia tidak kalah oleh tenaga digital, yakni bahasa Inggris, statistik, dan koding. "Ini bisa dipelajari dalam enam bulan. Kami yakin, Indonesia siap menjadi solusi dalam Industry 4.0 dan digital ekonomi," ujar Airlangga. bari/mohar/fba

BERITA TERKAIT

Astra Hadirkan Tiga Platform Digital - Perkuat Bisnis Digital

NERACA Jakarta – Keseriusan PT Astra Internasional Tbk (ASII) mengembangkan bisnis digital diwujudkan dengan mendirikan usaha dibidang fintech. Memanfaatkan pertumbuhan…

PENINGKATAN LAYANAN DIGITAL BNI SYARIAH

CEO Itqon Setyagus Sucipto (kedua kiri) didampingi Hadi Fatahillah (kiri), SEVP Keuangan dan Operasional BNI Syariah Wahyu Avianto (kedua kanan)…

Kemenkeu Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2018 Capai 5,2%

  NERACA   Jakarta - Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2018…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Buwas: Jangan Permainkan Data Beras

Jakarta-Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) kembali mewanti-wanti banyak pihak agar tidak mempermainkan data soal penyerapan beras. Peringatan itu…

KUNCI INDUSTRI HALAL DUNIA - Pemerintah Siapkan Visi-Misi Arah Industri Halal

NERACA Jakarta – Sejatinya menjadi negara penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi di sektor industri halal.…

Pertamina Kekurangan Pasokan FAME untuk Program B20

NERACA Jakarta-Di tengah upaya pemerintah gencar mensosialisasikan pemakaian biodiesel, PT Pertamina (Persero) mengaku masih kekurangan pasokan fatty acid methyl eter…