Mengkalkulasi Perkembangan Suku Bunga Bank

Neraca. Suku bunga banyak berkaitan dengan kondisi ekonomi makro suatu negara. Campur tangan pemerintah dalam memengaruhi suku bunga cukup besar. Maklum suku bunga mempengaruhi roda perekonomian negara. Ini sangat erat kaitannya dengan jumlah uang beredar di masyarakat.

Jumlah uang beredar yang terlalu banyak atau terlalu sedikit sama-sama memiliki efek yang tidak baik. Jika jumlah uang beredar dalam masyarakat terlalu banyak, bisa memicu kenaikan harga atau inflasi. Bank sentral -sebagai otoritas moneter, di Indonesia adalah Bank Indonesia (BI) - cenderung menaikkan suku bunga untuk menyedot uang itu.

Orang jadi tertarik menabung atau mendepositokan uangnya. Namun dampaknya industri harus menanggung biaya modal yang tinggi. Sebaliknya, jumlah uang beredar yang sangat sedikit akan mengakibatkan sektor riil atau industri tidak bergairah. Demikian juga konsumen akan terbatas daya belinya. Bank sentral lalu menurunkan suku bunga agar orang “menggerakkan” uangnya.

Roda industri pun berputar karena bunga untuk pembiayaan industri menjadi murah. Banyak orang mengambil kredit untuk membeli rumah, mobil, sepeda motor, dan lain-lain. Di sinilah bank sentral mengatur suku bunga supaya terjadi keseimbangan.

Untuk mengatur suku bunga perbankan, Bank Indonesia memiliki sejumlah aturan seperti LDR (Loan to Deposit Ratio), besarnya suku bunga penjaminan maksimal, dan lain-lain. Salah satu instrumen yang digunakan BI adalah Sertifikat Bank Indonesia (SBI).

Biasanya ini menjadi tolak ukur bank menentukan suku bunga. Bunga SBI merupakan bunga yang diberikan kepada bank yang menaruh uangnya di BI. Maksudnya, jika bank kelebihan dana, bank bisa menempatkan dananya dalam SBI. Katakan suku bunga SBI 8%.

Sedangkan suku bunga deposito bank 6%. Bank tersebut masih untung 2%. Bagaimana dengan suku bunga kredit? Pastilah di atas SBI, misalya 10% p.a. Itulah sebabnya suku bunga SBI sangat memengaruhi besarnya suku bunga bank. Begitu pemerintah mengerek suku bunga SBI, pastilah suku bunga deposito dan kredit ikut naik.

Dilihat dari faktor penyebabnya, krisis Ekonomi global pada saat ini berbeda dengan krisis ekonomi yang melanda Indonesia lebih kurang satu dasawarsa lalu, yang mana pada saat itu krisis ekonomi yang melanda Indonesia lebih disebabkan oleh ketidakmampuan Indonesia menyediakan alat pembayaran luar negeri, dan tidak kokohnya struktur perekonomian Indonesia, tetapi krisis keuangan global pada tahun 2008 ini berasal dari faktor-faktor yang terjadi di luar negeri.

Tetapi kalau kita tidak hati-hati dan waspada dalam menyikapi permasalahan ini, tidak mustahil dampak krisis keuangan global pada tahun 2008 ini akan sama atau bahkan lebih buruk jika dibandingkan dengan dampak dari krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998.

Perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, selain menyebabkan volume perdagangan global pada tahun 2009 merosot tajam, juga akan berdampak pada banyaknya industri besar yang terancam bangkrut, terjadinya penurunan kapasitas produksi, dan terjadinya lonjakan jumlah pengangguran dunia. Bagi negara-negara berkembang dan emerging markets, situasi ini dapat merusak fundamental perekonomian, dan memicu terjadinya krisis ekonomi.

Di tengah dinamika ekonomi global yang terus-menerus berubah dengan akselerasi yang semakin tinggi sebagaimana digambarkan di atas, Indonesia mengalami terpaan badai krisis yang intensitasnya telah sampai pada keadaan yang nyaris menuju kebangkrutan ekonomi dan merosotnya suku bunga bank.(sahlan)

BERITA TERKAIT

BI Diyakini Tahan Suku Bunga Acuan

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) diyakini akan menahan kebijakan bunga acuan "7-Day Reverse Repo Rate" di…

Ada Peluang Kenaikan Bunga The Fed, Rupiah Melemah

    NERACA   Jakarta - Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa sore, bergerak melemah sebesar 16…

Bank Banten Luncurkan 'Kredit Usaha Bangun Banten'

Bank Banten Luncurkan 'Kredit Usaha Bangun Banten' NERACA Serang - Bank Pembangunan Daerah Banten (Bank Banten) selaku Bank milik pemerintah…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

Mengajari Anak Menabung, Berbelanja, dan Berbagi

Oleh: Yulius Ardi Head, Managed Investment Product Standard Chartered Bank   Akhir musim sekolah telah diambang pintu dan anak-anak akan…

Sukuk Bisa Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk bisa…

Keuangan Syariah: - Akan Stagnan Atau Butuh Terobosan

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad meminta inovasi dan terobosan pelaku industri untuk mengembangkan keuangan syariah, karena tanpa…