Investasi Bunga Bank Bukan Tanpa Resiko

Neraca. Secara umum, resiko menabung atau mendepositokan uang ke bank sangat kecil. Terlebih lagi kalau kita menabung di bank pemerintah atau bank swasta yang terpercaya. Dalam kondisi politik dan ekonomi stabil, peluang uang di bank hilang dapat dikatakan tidak ada.

Bahkan modal yang kita depositokan tidak mungkin lenyap atau berkurang (bandingkan dengan kemungkinan rugi untuk investasi saham, emas, atau yang lain). Resiko paling buruk adalah jika bank ditutup oleh pemerintah. Sekali lagi ini jika kondisi politik atau ekonominya gonjang ganjing. Toh demikian pemerintah sudah memberikan skema penjaminan.

ltulah sebabnya kita perlu waspada ketika suatu bank menawarkan suku bunga kelewat tinggi. Apalagi kalau tidak ada penjaminan. Reputasi bank tersebut harus kita selidiki. Jika bank itu bermasalah, menarik uang sendiri menjadi tidak mudah. Resiko lain adalah pengorbanan biaya administrasi. Bank akan membebankan biaya administrasi dan pungutan pajak meskipun jumlahnya tidak begitu besar.

Saat ini, kita menyadari bahwa cara menabung seperti itu merugikan diri sendiri. Menabung di celengan atau di bawah bantal telah semakin jarang dilakukan orang. Bank menjadi alternatif yang paling banyak diminati. Tapi, ternyata sistem dan aturan main tabungan bank pun mampu menggerogoti nilai tabungan kita. Setelah krisis moneter 1998, bank-bank di negeri ini menggeser penghasilan utamanya ke fee based income. Selain penghasilan dari bunga kredit, mereka memaksimalkan pendapatan dari pengelolaan rekening, serta jasa transfer yang bisa dikutip langsung dari nasabah.

Pada saldo tertentu, tabungan kita di bank tidak menghasilkan apa-apa. Bunganya nol persen. Padahal ada biaya administrasi bank yang akan dipotong secara otomatis dari saldo tabungan kita. Jika saldo kita yang kecil itu didiamkan saja, akan tergerus biaya operasional. Suatu saat, rekening akan tertutup secara otomatis.

Katakan saja kita punya uang Rp 900 ribu di bank. Bank itu memiliki ketentuan bahwa bunga tabungan untuk saldo di bawah Rp 1 juta adalah nol persen. Biaya administrasi tabungan plus ATMnya adalah Rp 10.000 per bulan. Jika tabungan itu kita diamkan saja, tidak terjadi mutasi apa pun, maka dalam waktu 90 bulan (7 1/2 tahun) akan tertutup dengan sendirinya. Saldonya menjadi nol, dan nomor rekening akan terhapus secara otomatis.

Kelemahan investasi di tabungan antara lain, hilangnya kesempatan untuk memperoleh imbal hasil yang lebih besar opportunity loss. Nah, investasi dalam bentuk valesa memungkinkan imbalan yang lebih besar. Sebagai ilustrasi, Anda diumpamakan memiliki sisa dana Rp100 juta. Uang Rp100 juta ini kemudian Anda depositokan ke bank selama 1 tahun. Besarnya suku bunga deposito adalah 6% per tahun. Berapakah uang Anda setelah 1 tahun? Tentu saja secara hitungan kasar, Anda akan menerima uang Rp106 juta.

Mungkin anda berpikir lumayan, imbal hasil Rp6 juta setahun tanpa kerja. Namun coba pikirkan lebih dalam. Jika imbal hasil deposito Anda 6% per tahun, sedangkan kenaikan harga-harga adalah 10% per tahun, bukankah imbal hasil itu kalah dengan kenaikan harga? Lalu jika di luar deposito uang anda bisa berkembang biak lebih dari 6% setahun, apakah anda tidak merasa rugi? Memang jika kita mengenal produk investasi lain - seperti saham atau emas - dan kita hanya memegang deposito di kala harga saham atau emas meroket, kita merasa kecewa. Seolah suku bunga deposito tidak berharga.(sahlan)

BERITA TERKAIT

KAI Tawarkan Kupon Bunga Hingga 8% - Terbitkan Obligasi Rp 2 Triliun

NERACA Jakarta – Danai pengembangan ekspansi bisnisnya dan termasuk peremajaan armada, PT Kereta Api Indonesia (Persero) berencana menerbitkan obligasi I…

BI Tahan Suku Bunga Acuan

    NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) telah usai melakukan Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 18-19 Oktober 2017.…

Indonesia Pacu Tiga Sektor Manufaktur Jepang Tambah Investasi - Penanaman Modal di Sektor Riil

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus mendorong para pelaku industri Jepang skala menengah untuk terus berinvestasi di Indonesia. Terdapat tiga…

BERITA LAINNYA DI KEUANGAN

Mengajari Anak Menabung, Berbelanja, dan Berbagi

Oleh: Yulius Ardi Head, Managed Investment Product Standard Chartered Bank   Akhir musim sekolah telah diambang pintu dan anak-anak akan…

Sukuk Bisa Sebagai Alternatif Pembiayaan Daerah

Direktur Pembiayaan Syariah Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan penerbitan obligasi berbasis syariah atau sukuk bisa…

Keuangan Syariah: - Akan Stagnan Atau Butuh Terobosan

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman Hadad meminta inovasi dan terobosan pelaku industri untuk mengembangkan keuangan syariah, karena tanpa…